Dangdut Erotis Pengaruhi Joged Bumbung di Bali Jadi Vulgar

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prof. Dibia  (Foto: Cisilia Agustina Siahaan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Prof. Dibia (Foto: Cisilia Agustina Siahaan/kumparan)

Fenomena joged bumbung dengan nuansa vulgar memang bukan tanpa sebab. Kebiasaan dan komersil dari pementasan joged tersebut menjadi faktor masih berlangsungnya joged dengan gaya tersebut.

Joged sendiri merupakan jenis tari pergaulan yang sudah ada sejak tahun 1940 di Bali. Perubahan menjadi joged dengan gaya saat ini disampaikan I Wayan Dibia, budayawan sekaligus mantan guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar sekitar tahun 1990-an.

Menurut Dibia hal ini dipengaruhi dengan adanya dangdut-dangdut vulgar, ditambah permintaan masyarakat.

"Perubahannya terlihat sejak tahun 1990. Semenjak ada dangdut yang vulgar, jadi ada permintaan masyarakat juga ke arah sana," ujar Dibia saat berbincang, Jumat (9/2).

Ia menambahkan sesungguhnya untuk mengembalikan pakem-pakem Joged sendiri sudah sejak 3 hingga 4 tahun yang lalu dilakukan pembinaan.

Namun memang belum optimal, ditambah lagi dengan adanya media sosial, yang menjadi media tersebarnya video-video yang menampilkan joged ini. Dia sendiri khawatir joged bumbung yang masuk warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO ini akan lenyap. Karena itu dilakukan pembinaan.

"Ya itu salah satunya juga. Tapi sebenarnya upaya itu sudah dilakukan sejak 3-4 tahun yang lalu. Tentu selain karena sebagai warisan budaya juga karena etika moral," tambahnya.

"Jadi yang ditatar bukan hanya penari juga masyarakatnya. Agar tidak ada lagi permintaan seperti itu. Makanya dari pihak desa pakraman juga diminta keterlibatannya," kata Dibia.

Made Bendem (Foto: Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Made Bendem (Foto: Dok. Pribadi)

Tari Pergaulan

Lewat paparannya, Made Bandem, guru besar ISI Denpasar menyampaikan bahwa dari perspektif etimologi, bahwa kata joged berarti sebuah tari tunggal yang biasanya ditarikan oleh wanita dengan membawa kipas yang dikibas-kibaskan untuk kemudian dipakai menepek (tepik) salah seorang penonton laki-laki pilihannya sebagai pasangan menari (“ngibing”) dengan gaya masing-masing, dan diiringi dengan seperangkat gamelan dari bambu, kayu, perunggu, atau perkusi lainnya yang menggunakan laras pelog atau slendro.

Joged merupakan sebuah tari pergaulan muda-mudi Bali yang sangat intim dan digemari oleh masyarakat Bali secara luas. 'Bumbung' sendiri berarti tabung bambu, sebuah istilah untuk memberi nama seperangkat gamelan Joged. Joged Bumbung adalah sebuah tari pergaulan yang memiliki unsur sosial sangat tinggi.

Dibandingkan dengan Joged yang lain, Joged Bumbung populer di kalangan masyarakat Bali sekarang. Di samping pertunjukan untuk menghibur para wisatawan asing, gamelan Joged Bumbung senantiasa dimainkan di lobi-lobi hotel sebagai musik ilustrasi, sayup-sayup, dan tidak mengganggu para wisatawan

Joged Bumbung dipertunjukkan oleh 4 (empat) atau 6 (enam) orang penari dan tampil di pentas satu per satu. Struktur pementasan Joged Bumbung tidak menggunakan pengawak Legong atau lakon lain. Kendati ada prelude dalam tariannya, namun sejak semula gerak-gerak tarinya merupakan gerak improvisasi yang erotis, merangsang para pengibing untuk segera tampil mengambil bagian.

Tari ibing-ibingan yang terdapat dalam Joged Bumbung lebih hidup dibandingkan dengan Joged lainnya. Penonton sejak semula sudah memanggil si Joged agar segera menepék dengan kipasnya. Dalam tarian ibing-ibingan ini, banyak kelihatan gerak-gerak yang sensual, goyang pinggul yang berlebihan. Sering kali juga para pengibing berakting memarahi si Joged dan akhirnya terjadilah drama yang sering mengundang penonton untuk tertawa terbahak-bahak atau menimbulkan rasa kejengkelan.

Sementara di era globalisasi yang ditandai oleh berkembangnya teknologi canggih, dan hubungan antar bangsa yang begitu intens, Joged Bumbung diperkirakan mendapat pengaruh dari unsur-unsur kesenian luar lainnya, film-film yang menampilkan tarian romantis yang beredar di mass-media, sehingga lahirlah Joged Bumbung yang seronok dan jaruh, karena penafsiran yang berlebihan terhadap seni yang mempengaruhinya.

Cover Benarkah Tari Bumbung Erotis?  (Foto: Sonny Tumbelaka/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Cover Benarkah Tari Bumbung Erotis? (Foto: Sonny Tumbelaka/AFP)

Unsur Pelanggaran

Bandem menyebutkan, unsur-unsur yang dianggap sebagai pelanggaran meliputi hal-hal sebagai berikut: Gerakan ngegol (goyang pinggul) yang berlebihan, dengan tempo cepat. Gerakan ngebor yang sensual dan dapat mengundang berahi.

Gerakan angkuk-angkuk (cabul) yang saling berhadapan dengan pengibing. Mereka saling berhadapan dan memegang pinggang masing-masing. Juga pengibing mengebor pantat sang penari dari belakang. Aksi tarian mereka sangat jorok, di luar kaidah tarian Bali.

Sang penari Joged juga sering mempertotonkan gerak-gerakan dada yang sangat sensual, dengan ekspresi muka yang sangat genit, dan mengundang pengibing untuk menjadi tambah bergairah, dan semua itu dilakukan di atas pentas.

Kostumnya menggunakan gelungan yang berpola Legong Keraton. Baju kebaya dan menunjukkan sebagian buah dada atas, serta nampak seksi. Kainnya macingcingan, dan terbelah di depan sehingga kelihatan pahanya. Ada juga yang sampai memperlihatkan celana dalam (CD). Penari membawa kipas hanya untuk menepak pengibing. Tidak ada pola ibing-ibingan yang jelas, hanya memburu seks, ciuman, dan pegang-pegangan. Bahkan ada yang sampai memegang alat vital penari Joged.

embed from external kumparan