Dari Bangunan SD Mangkrak Jadi Bank Sampah, Warga Bubutan Surabaya Raup Manfaat

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ismuninggar, Ketua kelompok Puspa Mandiri di Jalan Tembok Lor 1, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Kamis (4/6/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ismuninggar, Ketua kelompok Puspa Mandiri di Jalan Tembok Lor 1, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Kamis (4/6/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Langkah kaki Ismuninggar menggema di ruang-ruang kosong bekas bangunan sekolah dasar (SD) di Jalan Tembok Lor 1/23, Kelurahan/Kecamatan Bubutan, Surabaya

Selama 15 tahun, bangunan bekas SD itu bak hutan kota kecil terbengkalai di tengah kampung warga yang dipenuhi semak belukar.

Namun, setahun terakhir, pemandangan itu sirna. Kini suasana rindang, asri, sejuk, hingga suara gemercik air kolam ikan terdengar di bangunan itu yang diubah menjadi bank sampah.

Perubahan ini dimotori oleh satu modal nekat oleh Ismuninggar, sosok perempuan di balik berdirinya Bank Sampah Induk dan Rumah Cacing "Puspa Mandiri".

Perubahan ini dimulai pada Oktober 2025. Saat itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menginstruksikan agar pengelolaan sampah harus diselesaikan di tingkat kecamatan masing-masing.

Alih-alih bingung mencari lahan, mata Ismuninggar tertuju pada bangunan SD yang kosong belasan tahun tersebut.

"Daripada nganggur, saya bilang ke Pak Camat untuk dijadikan bank sampah induk. Wis, pokoknya mendirikan ini pertama modalnya bonek," ujar Ismuninggar saat ditemui di lokasi, Kamis (4/6).

Ismuninggar, Ketua kelompok Puspa Mandiri di Jalan Tembok Lor 1 No 23, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Kamis (4/6/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Inisiatifnya berbuah manis. Pada 1 Oktober 2025, Bank Sampah "Puspa Mandiri" diresmikan. Bersama para warga, Ismuninggar mengecat ulang dinding-dinding kusam dengan mural yang segar dan penuh warna.

Puspa Mandiri bergerak cepat. Setiap satu atau dua minggu sekali, armada gratis milik mereka berkeliling ke lima kelurahan di Kecamatan Bubutan, yakni Kelurahan Alun-Alun Contong, Gundih, Jepara, Bubutan, dan Tembok Dukuh.

Petugas menjemput sampah-sampah warga yang dikumpulkan secara mandiri. Mulai dari kardus, botol plastik, plastik sachet, hingga minyak jelantah dan panci bekas.

"Sekarang ibu-ibu itu kalau rapat, cepet-cepetan mengamankan kardus kue atau botol air mineral. Karena mereka sudah tahu nilainya," ucapnya.

Bank sampah dan rumah cacing Puspa Mandiri di Jalan Tembok Lor 1, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Kamis (4/6/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Setiap tiga minggu sekali, sampah yang telah dipilah secara mandiri itu dijual ke LSM Lohjinawi. Sekali angkut, dua rit mobil pikap sampah bisa menghasilkan uang berkisar Rp 1,7 juta hingga Rp 2 juta.

Uang tersebut tidak langsung dihabiskan. Oleh para warga, uangnya ditabung. Ada yang menggunakannya untuk dana jalan-jalan bersama dan ada pula yang disalurkan melalui kotak kawat "Sedekah Sampah" yang tersebar di setiap RW.

"(Hasil uangnya) ada pengelolaan keuangannya. Kebetulan ini semua orang-orang iki ditabung. Jadi enggak ada yang diambil. Monggo kalau mau mengambil, monggo, tapi sementara ini dari ibu-ibu itu ditabung semua. Jadi kalau RT itu ya yang nyetorkan. Jadi KSH (Kader Surabaya Hebat) RT itu ditabung uangnya. Nanti biasa ibu-ibu dibuat jalan-jalan, ada sedekah sampah juga," katanya.

Bank sampah dan rumah cacing Puspa Mandiri di Jalan Tembok Lor 1, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Kamis (4/6/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Kolam Terapi Ikan dan Budidaya Cacing

Puspa Mandiri tidak hanya mengelola sampah warga. Di salah satu sudut area, terdapat kolam terapi ikan yang diisi oleh 1.500 ekor ikan yang didatangkan langsung dari Mojokerto.

Kolam ini terbuka untuk umum. Cukup membayar Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak per jam. Dari kolam terapi inilah, Puspa Mandiri bisa membiayai operasional mereka secara mandiri.

"Sebulan bisa dapat Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu dari terapi ikan. Uang itu dipakai untuk bayar listrik, PDAM, dan beli pakan ikan. Jadi kami mandiri, tidak perlu minta-minta dana ke Lurah atau Camat," kata dia.

Selain itu, terdapat pula budidaya cacing. Menggunakan pakan sayuran sisa yang diambil dari pasar dua hari sekali, budidaya cacing ini menjadi rujukan bagi anak-anak sekitar yang hobi memancing, sekaligus dicari warga sebagai obat herbal penurun panas.

"Saya juga punya cacing. Kita punya cacing, ini sementara itu anak-anak yang mancing di daerah Bubutan ini belinya di sini. Dan untuk sakit panas. Jadi makanannya itu sayuran. Jadi kita 2 hari sekali mengambil sampah di pasar," ucap dia.

Bank sampah dan rumah cacing Puspa Mandiri di Jalan Tembok Lor 1, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Kamis (4/6/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Harapan Puspa Mandiri Tampung Sampah dari Berbagai Kecamatan

Ismuninggar memiliki harapan besar. Ia ingin Puspa Mandiri benar-benar menjadi wadah induk bagi tiga kecamatan lainnya, yakni Genteng, Tegalsari, dan Simokerto.

"Karena kita sudah bilang sama Pak Camatnya, tapi saya minta kalau dari Genteng, saya minta ada perwakilan pengurusnya juga. Ketua, sekretaris, bendahara, jadi kita cuma terima untuk setorannya aja. Jadi yang ngelola dia, yang nyatet dari RW ini berapa kilo botolnya, berapa kilo kardusnya biar dia sendiri. Kan enak gak ribet aku. Soalnya kalau uang itu rawan," ujarnya.