Dari Bazar hingga Masuk Shopee Mall: 9 Tahun Perjalanan Lewis & Emma
·waktu baca 3 menit

Pendiri merek pakaian anak Lewis & Emma, Finna Fidela (33) menceritakan perjalanan awal bisnisnya. Bisnis yang digeluti sejak 2016 mengantarkannya pada level berbeda dengan bergabung bersama dengan Shopee Mall.
Finna mengatakan, obrolan bersama suaminya mengawali usaha yang digelutinya sekarang. Keduanya sempat ngobrol tentang usaha yang akan dikembangkan bersama.
“Dulu waktu masih pacaran sebelum jadi suami itu bingung mau bisnis bareng apa. Terus dari kakak itu memang udah biasa bisnis pakaian wanita ya, terus kenapa nggak coba jual baju anak gitu,” tutur Finna di warehouse Lewis & Emma, Jakarta Barat, Jumat (28/11).
Awal perjalanannya tak langsung terjun di pasar online, tetapi dari satu bazar ke bazar lain. Ia mengatakan bazar pertama yang diikuti berlokasi di Cilandak Town Square (Citos).
“Itu yang pertama banget bazar, itu cuman bazarnya satu hari doang,” kata Finna.
Dari situ, Lewis & Emma rutin berpindah-pindah mal, terutama di wilayah Jakarta Selatan, mengikuti event yang ada tiap minggu.
Saat pandemi COVID-19 datang, bazar berhenti total. Namun justru dari situ penjualan online mereka melonjak. “Dan ternyata setelah kita fokusin online-nya booming,” kata dia.
Ia menyebut toko Lewis & Emma masuk ke Shopee sejak 2017 dan mulai mengalami kenaikan signifikan pada 2022. “Omzet tertinggi ya dulu 2022. Meskipun offline ada 5 tempat, online tetap lebih bagus. Sekitar 3 kali lipat".
Pengembangan Produk dan Rentang Usia
Awalnya mereka hanya memproduksi pakaian laki-laki dan perempuan usia 2–10 tahun. Lalu, permintaan pelanggan membuat rentangnya meluas.
“Akhirnya kita bikinlah sampai 14 tahun. Ada lagi permintaan size baby jadi ya udah karena banyak permintaan, coba kita buat dari 6 bulan sampai 14 tahun,” jelasnya.
Kategori yang paling laku tetap berada di usia 2–8 tahun. “Itu yang best,” ujarnya.
Soal bahan, kenyamanan menjadi kunci utama. “Saya anggap saya bikin baju untuk anak saya, pasti saya maunya yang nyaman,” katanya.
Katun menjadi bahan yang paling banyak dipakai, meski satin atau silk tetap digunakan untuk acara tertentu.
Produk Lewis & Emma antara lain, baju, celana, hingga berbagai aksesoris anak.
Peran Shopee dan Strategi Campaign
Sudah hampir satu dekade berada di Shopee, ia menyebut peka terhadap tren menjadi kunci. “Harus up to date, banyak seller-seller tuh yang ya besar banget, sampai sekarang pun masih terus dipelajarin,” kata Finna.
Dari berbagai fitur marketplace, kampanye dan voucher paling efektif mendorong traffic. “Campaign-campaign Shopee itu ternyata sangat menarik, traffic-nya, exposure-nya tuh tinggi banget pada saat event,” terangnya.
Fitur ulasan juga sangat penting menurutnya. “Saya juga kalau belanja sebagai customer itu akan melihat juga nih review-review ini,” katanya.
Pentingnya Customer Service dan Komunitas
Ia menegaskan nilai inti brand adalah memahami value dan konsisten dengan arah yang ditetapkan. “Yang penting tahu value brand-nya kita sendiri, jangan sampai tergoyahkan,” ujarnya.
Ia menilai kekuatan Lewis & Emma terletak pada desain yang keren—tidak menonjolkan kesan cute—dan pada layanan pelanggan.
“Customer service itu nomor satu, saya enggak mau customer saya sampai enggak puas belanja di Lewis & Emma. Kalau event juga fokus ke gathering sama komunitas, maintain itu, enggak terlalu fokus berjualan,” katanya.
Lewis & Emma membuat layanan penukaran barang bersifat fleksibel. Bisa dilakukan melalui marketplace atau langsung di toko.
Ekspansi Malaysia dan Shopee Export
Setelah sukses dengan pasar dalam negeri Finna melirik pasar lebih luas lagi. Malaysia menjadi pasar luar negeri terbesar bagi Lewis & Emma.
“Mungkin market-nya lebih masuk ya, mirip-mirip sih dengan Indonesia,” ujarnya. Finna menyebut turis Malaysia yang datang ke toko offline juga cukup banyak.
Untuk Shopee Export, penjualan lebih banyak berjalan melalui toko di Surabaya. “Memang pasarnya masih di Malaysia, ada juga yang beli di Thailand, cuma kita belum explore aja,” jelasnya.
