Dari Bonus Pemerintah, Atlet ASEAN Para Games Geluti Usaha Kuliner di Bali
·waktu baca 3 menit

Ada yang bilang masa depan seorang atlet itu suram. Pandangan itu langsung ditepis oleh atlet para-powerlifting kebanggaan Indonesia asal Bali, Ni Nengah Widiasih. Bagi Ni Nengah, jadi seorang atlet adalah berkah untuk perjalanan hidupnya hingga sekarang.
Menurut Ni Nengah perhatian pemerintah terhadap atlet sekarang ini sudah berbeda dan luar biasa. Berkat bonus yang diberikan oleh pemerintah, peraih dua medali Paralimpiade tersebut memperluas kiprahnya dari arena angkat berat ke dunia usaha kuliner sebagai langkah menyiapkan masa depan sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat.
Ni Nengah Widiasih sendiri resmi membuka rumah makan Babi Guling Balah Men Bingin di kawasan Kesiman, Denpasar pada Selasa 17 Februari 2026 lalu. Ni Nengah mengatakan, usaha tersebut berangkat dari latar belakang keluarganya yang memiliki keahlian memasak, khususnya sang ayah yang dikenal piawai mengolah masakan Bali dan babi guling.
Selain mengembangkan bakat keluarga, rumah makan ini juga menjadi cara bangkit dari duka setelah sang ibu wafat. “Keluarga saya memang jago masak, terutama bapak. Jadi kenapa tidak kita kembangkan? Sekalian supaya bapak punya kesibukan setelah ibu saya meninggal,” ujarnya.
Rencana membuka usaha sebenarnya sudah lama menjadi keinginan. Namun pencarian lokasi baru dilakukan serius sejak akhir 2024. Setelah beberapa kali merasa belum cocok dengan tempat yang ada, lokasi yang dirasa tepat justru diperoleh di akhir 2025, saat dirinya mulai pasrah dan menghentikan pencarian.
"Saya sempat bilang tidak usah cari lagi. Kalau memang rezeki pasti datang. Ternyata di akhir 2025 dapat info tempat ini dan langsung cocok,” tuturnya.
Usaha ini menjadi bisnis pertamanya bersama sang kakak. Ni Nengah mengakui dunia kuliner jauh berbeda dengan dunia olahraga maupun investasi properti yang sebelumnya lebih ia kenal. Ia baru menyadari kompleksitas pengelolaan rumah makan setelah terjun langsung.
“Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Di balik satu hidangan ada banyak proses dan orang yang terlibat,” kata dia.
Sebagai atlet yang telah mencatatkan prestasi internasional medali perunggu di Paralimpiade Rio 2016, perak di Paralimpiade Tokyo 2020, serta finis kelima di Paralimpiade Paris 2024, Ni Nengah menyadari karier atlet memiliki batas waktu. Karena itu, usaha kuliner ini menjadi salah satu persiapan jangka panjang.
“Atlet tidak mungkin selamanya. Ini salah satu persiapan masa pensiun saya. Setidaknya sudah punya usaha dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Lebih jauh, Nengah menekankan bahwa tujuan utamanya bukan semata keuntungan, melainkan kebermanfaatan. Ia ingin kesuksesan yang diraih juga dirasakan orang lain.
“Saya tidak mau sukses sendirian. Kalau kita diberi rezeki lebih, jangan disimpan sendiri. Punya satu atau dua karyawan saja itu sudah sangat berarti,” ungkapnya.
Nama Men Bingin yang disematkan pada rumah makannya diambil dari nama belakang almarhum ibunya sebagai bentuk penghormatan. Seluruh masakan diracik langsung oleh sang ayah, yang menurutnya memasak dengan penuh cinta, layaknya untuk keluarga sendiri.
“Semoga yang datang bisa merasakan cinta di setiap masakan itu,” harap Ni Nengah
Dari perjuangan sejak kecil hingga menembus panggung dunia, Ni Nengah kembali menunjukkan daya juangnya. Kini, ia tak hanya mengangkat beban di arena, tetapi juga membangun harapan lewat usaha yang dirintisnya.
