Dari Pengungsi jadi Pemimpin, Perjalanan Imigran Arab di Amerika Latin

Tidak banyak yang tahu warga keturunan Arab jumlahnya jutaan di Amerika Latin. Mereka tidak hanya membentuk kebudayaan, tradisi, namun juga memimpin negara-negara tersebut. Sejarah panjang mengubah pendatang Arab di Amerika dari pengungsi yang berdagang, menjadi presiden. Salah satu keturunan Arab yang baru saja menang pemilu presiden adalah Nayib Bukele di El Salvador pada Minggu lalu. Ayah Bukele adalah seorang imam masjid asal Palestina. Sebelumnya telah ada Antonio Saca, diaspora Palestina lainnya yang jadi presiden El Salvador pada 2004 hingga 2009. Ada nama Michel Temer, bekas Presiden Brasil yang merupakan keturunan Lebanon. Bahkan di parlemen Brasil, 10 persen anggotanya adalah warga keturunan Arab.

Menurut majalah Saudi Aramco World, Brasil merupakan negara dengan konsentrasi diaspora Arab terbesar di dunia. Ada 9 juta diaspora Arab di Brasil, 6 juta di antaranya berdarah Lebanon. Bahkan jumlah ini lebih banyak dari populasi warga Lebanon sendiri. Jutaan diaspora Arab lainnya berada di Argentina, Venezuela, Kolombia, Meksiko dan Chile. Diaspora Palestina di Chile adalah keempat terbesar di dunia setelah Israel, Lebanon, dan Yordania. Pengungsi Ottoman Menurut Theresa Alfaro-Velcamp, professor sejarah Sonoma State University, California, Amerika Serikat, warga Arab di Amerika Latin saat ini adalah keturunan para pengungsi dari negara-negara kekuasaan Kekaisaran Ottoman, seperti Lebanon, Suriah, dan Palestina. Di awal abad ke-20, tepatnya ketika Perang Dunia I pecah, mereka berbondong-bondong mengungsi ketika Ottoman memerintahkan wajib militer. Di masa perang itu juga, kelaparan terjadi, membuat warga Arab pilih keluar negeri cari penghidupan. Beberapa dari mereka menyusul kerabat yang telah lebih dulu mengungsi, beberapa lainnya tersesat. Niatnya ke Amerika serikat, malah tiba di Amerika Latin. Bukannya Patung Liberty di New York, yang menyambut malah patung Kristus Sang Penebus di Rio de Janeiro.
"Imigran kebingungan atau tertipu mengira mereka mengarah ke AS, padahal kapal mereka ke pelabuhan di Amerika Latin," ujar Alfaro-Velcamp dikutip Latino Life. Diperkirakan, sekitar 250 ribu hingga 300 ribu warga Arab ketika itu mengungsi ke Argentina, Brasil, hingga Meksiko. Diskriminasi Pendatang Arab Adalah masyarakat pedagang yang piawai dalam jual beli. Kehadiran mereka awalnya mendapatkan penentangan dari warga Amerika Latin, dianggap perebut rezeki warga pribumi. Beberapa negara Amerika Latin antara 1920-1980 memberlakukan hukum diskriminatif kepada pendatang Arab yang dijuluki "Turcos" karena berpaspor Ottoman. Meksiko, contohnya, pada 1927 melarang warga dari Suriah, Lebanon, Armenia, Palestina, dan Turki masuk ke negara mereka. Pada 1930-an di El Salvador, Presiden Maximiliano Hernández Martínez melarang warga Palestina buka usaha di negaranya. Hukum diskriminatif bagi keturunan Arab juga menimpa Carlos Menem, Presiden Argentina pada 1989. Menem, seorang Muslim keturunan Suriah harus pindah agama ke Katolik sebagai syarat maju jadi presiden Brasil. Syarat itu kini dihapuskan.
Kendati mengalami diskriminasi, kehidupan masyarakat Arab di Amerika Latin terus berjalan dan kian mewarnai kehidupan masyarakat. Salah satu bentuk akulturasi yang kental adalah kuliner Arab yang kian diminati. Restoran Habib's yang didirikan pada 1980-an misalnya, telah membuka 300 cabang di seluruh Brasil. Di Argentina, komunitas Arab kian berpengaruh. ada lebih dari 160 komunitas Arab di negara ini yang tergabung dalam Konfederasi Masyarakat Arab Argentina (FEARAB). Di Meksiko, komunitas Arab Lebanon "Centro Libanes" bahkan punya jadwal rutin untuk bertemu presiden.
