Data Center AI Butuh 400 Liter Air Per Detik, PDAM: Tak Kuras Waduk Jatiluhur

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Vandalisme di Tanggul Kayat Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Sabtu (25/7/2026). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Vandalisme di Tanggul Kayat Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Sabtu (25/7/2026). Foto: kumparan

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM mempertanyakan ketersediaan air baku Jatiluhur di tengah rencana pemenuhan kebutuhan air untuk operasional data center AI BDx di Kabupaten Purwakarta.

Dalam dialog bersama Direktur Utama Jasa Tirta II Imam Santoso dan pihak PDAM Purwakarta, Dedi meminta penjelasan mengenai alokasi air baku untuk masyarakat dan kebutuhan data center AI BDx.

Direktur Utama Jasa Tirta II Imam Santoso menjelaskan, alokasi air baku untuk Kabupaten Purwakarta mencapai 3.000 liter per detik atau setara 3 meter kubik per detik. Dari alokasi tersebut, pemakaian saat ini disebut sekitar 300 liter per detik.

Dengan demikian, masih terdapat sekitar 2.700 liter per detik dari alokasi air baku yang belum digunakan.

Sementara itu, kebutuhan air untuk operasional data center AI BDx diperkirakan mencapai 384 hingga 400 liter per detik. Menurut Imam, kebutuhan tersebut masih dapat dipenuhi dari alokasi air untuk Purwakarta melalui PDAM.

Dedi kemudian menanyakan apakah kebutuhan BDx berpotensi mengurangi ketersediaan air Jatiluhur, termasuk ketika terjadi kemarau panjang.

"Pertanyaan sederhana, dengan adanya BDx kira-kira terkuras enggak air Jatiluhur?" tanya Dedi.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat ditemui usai kegiatan Trophy Tour FIFA ASEAN Cup di Mall PVJ Bandung, Kamis (24/9/2026). Foto: Abisatya/kumparan

Imam mengatakan kebutuhan BDx tidak akan menguras air Jatiluhur karena telah diperhitungkan dalam alokasi air baku untuk Purwakarta.

"Karena sudah dialokasikan, rencana alokasinya 3.000 liter per detik untuk Purwakarta, jadi tidak akan terkuras," jawab Imam.

Saat ditanya mengenai kondisi pasokan ketika terjadi kemarau panjang, Imam juga memastikan kebutuhan air tersebut masih dapat dipenuhi.

Pemakaian Air Purwakarta Baru 11 Persen

Dalam dialog tersebut, Dedi juga menyoroti pelayanan PDAM Purwakarta. Ia mempertanyakan masih adanya gangguan distribusi air meski pemanfaatan dari total alokasi air baku Purwakarta masih relatif rendah.

Direktur PDAM Purwakarta Riana Afriadi menjelaskan pemakaian air saat ini berada di kisaran 380 liter per detik atau sekitar 11 persen dari total alokasi 3.000 liter per detik.

Menurut Riana, persoalan pelayanan air bukan disebabkan keterbatasan alokasi air baku. Kendalanya justru terdapat pada infrastruktur Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang membutuhkan peremajaan.

Infrastruktur tersebut antara lain SPAM Ubrug, mulai dari intake, instalasi pengolahan air (IPA), hingga jaringan perpipaan.

"Karena infrastruktur SPAM kami yang harus segera diremajakan," kata Riana.

Riana menyebut kebutuhan anggaran untuk penataan tiga SPAM utama di Purwakarta diperkirakan mencapai Rp 700 miliar hingga Rp 800 miliar.

Dedi kemudian menanyakan apakah air yang akan digunakan BDx merupakan bagian dari alokasi yang selama ini belum dimanfaatkan.

"Artinya, BDx ini ngambil air yang sampai hari ini enggak dipakai?" tanya Dedi.

"Iya, betul. Sisa alokasi," jawab Riana.

Pemanfaatan Alokasi Diperkirakan Naik Jadi 25 Persen

Berdasarkan perhitungan yang disampaikan dalam dialog, kebutuhan BDx sekitar 400 liter per detik akan menambah pemanfaatan alokasi air baku Purwakarta.

Dengan pemakaian saat ini sekitar 380 liter per detik atau 11 persen dari total alokasi 3.000 liter per detik, tambahan kebutuhan BDx akan membuat pemanfaatan alokasi berada di kisaran 24 hingga 25 persen.

Artinya, masih terdapat sekitar 75 persen dari alokasi air baku Purwakarta yang belum digunakan.

"Jadi, dengan adanya BDx, kuota air yang digunakan menjadi 25 persen," ujar Dedi.

Riana membenarkan masih terdapat cadangan alokasi air sekitar 75 persen.

"Masih ada spare 75 persen," kata Riana.

Sementara itu, Dedi mengatakan penjelasan mengenai ketersediaan air tersebut perlu disampaikan oleh pihak yang memiliki kewenangan dan data terkait pengelolaan sumber daya air.

"Saya tidak akan memberikan penjelasan apa pun, yang jelasin yang punya kapasitas. Hatur nuhun," ucapnya.