Data Corona Sepekan: Omicron 414 Kasus; Positivity Rate Sentuh 0,30%
ยทwaktu baca 4 menit

Pemerintah RI terus memberlakukan aturan PPKM Level di Jawa-Bali. Meskipun cenderung mengalami penurunan kasus corona, namun pemerintah masih memantau perkembangannya.
Berdasarkan Inmendagri No.1 Tahun 2022, PPKM Level di Jawa-Bali kembali diperpanjang dari tanggal 4 hingga 17 Januari 2022. Setelah pemberlakuan PPKM di Jawa-Bali selama sepekan, bagaimana situasi terkini?
Secara umum, kasus corona harian di Indonesia menunjukkan angka yang fluktuatif. Jumlah kasus terus berubah-ubah.
Di periode 3 hingga 9 Januari 2022 ini, Kementerian Kesehatan beberapa kali memberikan update terkait penambahan kasus corona varian Omicron di Indonesia. Terakhir, Minggu 9 Januari kemarin, Kemenkes menyebutkan adanya tambahan kasus terkonfirmasi Omicron sebanyak 75 kasus. Ini berarti total kasus varian Omicron di Indonesia menjadi 414 kasus.
Lantas, bagaimana data corona di Indonesia pada periode (3-9 Januari) ini? Berikut kumparan ulas untuk Anda:
Perkembangan Kasus Corona
Periode ini, perkembangan kasus corona harian terbilang meningkat dibanding dengan periode sebelumnya. Rata-rata jumlahnya di atas 300 kasus per hari. Angka tertinggi kasus harian mencapai 533 kasus, yakni pada 6 Januari.
Itu jauh lebih tinggi dibanding dengan angka tertinggi di periode lalu yakni 278 kasus pada 28 Desember 2021.
Pertumbuhan Kasus Kematian
Kasus kematian corona harian pada periode ini ada sedikit penurunan. Pada periode sebelumnya, kematian harian corona berkisar antara 1-10 kasus. Jumlah tersebut menurun dari hari ke hari. Namun di periode ini cukup fluktuatif, ada kenaikan di tanggal 6 Januari yakni 7 kasus. Angka terendah di periode ini ialah 2 kasus kematian pada 9 Januari.
Di DKI Jakarta selama periode ini hampir tidak ada kasus kematian, hanya ada 1 kasus kematian pada 5 Januari. Sisanya tidak ada.
Pertumbuhan Tes Corona Harian
Pada periode ini, testing harian masih menunjukkan grafik yang fluktuatif. Namun secara rata-rata, jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan periode lalu. Testing paling banyak tercatat pada 4 Januari, yakni 232.746 tes dalam sehari. Jumlah ini lebih banyak dari angka tertinggi di periode sebelumnya yang sebanyak 176.854 tes.
Positivity Rate
Grafik di atas menunjukkan bahwa positivity rate di Indonesia pada periode ini mengalami kenaikan dari periode sebelumnya. Periode ini, positivity rate tertinggi mencapai 0,30 persen di 1 Januari 2022 dan terendah mencapai 0,13 persen. Ini merupakan kenaikan yang cukup signifikan ketimbang periode sebelumnya.
Indonesia secara konsisten mengalami penurunan positivity rate di bawah 1 persen sejak 19 September lalu. Menurut WHO, kasus corona di suatu negara bisa dikatakan sudah terkendali apabila positivity rate-nya di bawah 5 persen. Angka positivity rate dihitung dari jumlah kasus positif dibagi jumlah testing harian, lalu dikalikan 100 persen.
Perkembangan Vaksin Harian
Angka tertinggi vaksinasi dosis pertama periode ini ada pada 7 Januari 2022, yakni sebanyak 819.816. Pemerintah terus menggenjot program vaksinasi di seluruh daerah di Indonesia. Per 9 Januari, sudah ada 170.143.626 dosis vaksin pertama yang diterima masyarakat. Sedangkan vaksin kedua sudah diberikan sebanyak 116.819.952 dosis.
Bed Occupancy Rate (BOR)
Per Minggu (9/1), update terkini soal keterisian tempat tidur (BOR) dari situs kemkes.go.id terhenti di tanggal 4 Januari.
Namun jika dilihat sejauh ini, BOR pasien COVID-19 pada periode ini masih berada di angka 2-3 persen. Sama seperti periode lalu.
Kasus Omicron di Indonesia
Pertumbuhan kasus varian Omicron harian di Indonesia cukup fluktuatif. Tertinggi terjadi pada 4 Januari, yakni sebanyak 102 kasus per hari.
Hingga saat ini total kasus mencapai 414 orang. Dari 414 kasus itu, sebanyak 31 orang merupakan kasus transmisi lokal. Sisanya merupakan pelaku perjalanan luar negeri. Kebanyakan dari yang terinfeksi Omicron adalah mereka yang sudah divaksinasi lengkap.
Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmidzi menjelaskan, mayoritas kasus Omicron tanpa gejala. Kalaupun ada, hanya gejala ringan seperti batuk dan pilek.
"55 orang sudah sembuh," kata Nadia kepada kumparan, Senin (10/1).
dr. Nadia kembali meminta masyarakat untuk tidak bepergian ke luar negeri jika tidak ada kepentingan mendesak.
"Sebagian besar kasus Omicron berasal dari pelaku perjalanan luar negeri. Karena itu masyarakat diharapkan menunda dahulu jika ingin pergi ke luar negeri," kata Nadia.
Nadia menuturkan, kasus penularan Omicron paling banyak berasal dari Turki dan Arab Saudi. Meski seseorang telah divaksinasi COVID-19 dua dosis, virus tersebut tetap bisa menginfeksi.
