Data Keracunan MBG: Januari-Juli 24 Kasus, Agustus-September 51 Kasus

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Komisi IX DPR RI menggelar Raker bersama Menkes, Kepala BPOM, Mendukbangga, dan  Kepala BGN di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu (1/10/2025).  Foto: Abid Raihan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Komisi IX DPR RI menggelar Raker bersama Menkes, Kepala BPOM, Mendukbangga, dan Kepala BGN di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu (1/10/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana memaparkan data keracunan massal makan bergizi gratis (MBG) sejak pertama program ini bergulir pada bulan Januari lalu. Menurutnya ada 24 kasus sejak Januari hingga Juli dan ada 51 kasus dari Agustus hingga September.

Artinya kasus naik dua kali lipat hanya dalam satu bulan.

Hal ini ia sampaikan saat rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu (1/10). Ia menjelaskan bahwa pengawasan MBG dibagi menjadi 3 wilayah.

“Ada wilayah 1 di Sumatera, wilayah 2 di Jawa, dan sisanya Indonesia Timur dan kami perlu sampaikan bahwa pembentukan SPPG ada dua periode yang terlihat jelas yaitu periode dari Januari sampai Juli kita berhasil membentuk 2.491 SPPG,” ucap Dadan.

“Sementara dari 1 Agustus sampai 30 September kita berhasil membentuk 7.369 SPPG dan terlihat sebaran kasus terjadinya gangguan pencernaan atau kasus di SPPG terlihat dari 6 Januari sampai 31 Juli itu tercatat ada kurang lebih 24 kasus kejadian. Sementara dari 1 Agustus sampai malam tadi itu ada 51 kasus kejadian,” tambahnya.

Menurut Dadan, kejadian terakhir keracunan massal MBG baru saja terjadi malam tadi. Salah satu penyebabnya adalah saat siswa mengkonsumsi susu.

“Jadi yang terakhir kejadian kemarin di Pasar Rebo dan juga di Kadungora. Di Kadungora ini kejadian yang tak terduga karena sebetulnya SPPG memberikan makanan dua kali. Yang pertama masakan segar, kemudian karena mau ada renovasi ia memberikan makanan untuk hari ini,” ujar Dadan.

“Salah satu makanan yang dibagikan adalah susu. Susunya langsung diminum dan yang susu kemudian menimbulkan gangguan pencernaan,” tambahnya.

Situasi GOR Cipongkor, tempat perawatan siswa keracunan MBG di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (24/9/2025). Foto: Linda Lestari/kumparan

Adapun total penerima manfaat yang sampai kini tercatat sempat keracunan MBG ada sekitar 6.457 orang.

“Berikutnya, kalau dilihat dari sebaran kasus, maka kita lihat bahwa di wilayah 1 itu tercatat ada yang mengalami gangguan pencernaan sejumlah 1.307, wilayah 2 sudah bertambah, tidak lagi 4.147, ditambah dengan yang di Garut mungkin 60 orang,” ujar Dadan.

“Kemudian yang di wilayah 3 ada 1.003 orang. Dan kita catat tanggal per tanggal dari kejadian ini,” tambahnya.

Dadan mengatakan bahwa eskalasi kasus bertambah dalam 2 bulan terakhir ini. Kebanyakan kasus keracunan disebabkan oleh SOP yang tidak dijalankan.

“Nah dengan kejadian-kejadian ini kita bisa melihat bahwa kasus kejadian banyak terjadi di dua bulan terakhir dan ini berkaitan dengan berbagai hal dan kita bisa identifikasi bahwa kejadian itu rata-rata karena SOP yang kita tetapkan tidak dipatuhi dengan saksama,” jelas Dadan.

“Seperti contohnya pembelian bahan baku yang seharusnya H-2 kemudian ada yang membeli H-4, kemudian juga ada yang kita tetapkan processing masak sampai delivery tidak lebih dari 6 jam karena optimalnya 4 jam,” tambahnya.