Data Pesawat Jatuh di RI 20 Tahun Terakhir: Kejadian Paling Sering Tahun 2011

Insiden yang menimpa pesawat Sriwijaya Air SJ 182 pada Sabtu (9/1) menambah daftar panjang insiden jatuhnya moda transportasi udara di Indonesia. Sebelumnya, pesawat jatuh terjadi pada Oktober 2018 lalu yang menimpa maskapai Lion Air.
Berdasarkan data Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang diolah kumparan, ada 51 moda transportasi udara yang jatuh dari tahun 2000 hingga 2020. Sebagian di antaranya jatuh karena menabrak objek atau daratan, atau dalam dunia penerbangan disebut CFIT (controlled flight into terrain).
Data ini berasal dari klasifikasi yang kumparan lakukan terhadap 199 dokumen investigasi kecelakaan yang diunggah di situs knkt.go.id.
Dari penelusuran data tersebut, kecelakaan pesawat jatuh paling banyak terjadi pada tahun 2011. Ada sembilan insiden jatuhnya moda penerbangan di wilayah Indonesia di tahun tersebut.
Salah satu kecelakaan paling banyak memakan korban tahun 2011 adalah jatuhnya pesawat Merpati Nusantara Airlines di dekat Bandara Utarom, Kaimana, Papua. Pesawat seri Xi 'An MA-60 bernomor registrasi PK-MZK tersebut jatuh di laut dekat landasan bandara.
Sebanyak 25 orang dalam pesawat Merpati Nusantara Airlines penerbangan nomor 8968 itu tewas. Rinciannya, 4 orang kru pesawat dan 21 orang penumpang.
Selain itu, kecelakaan jatuh menimpa helikopter dan pesawat-pesawat kecil yang mengambil rute penerbangan perintis. Dua di antara pesawat kecil yang jatuh pada tahun 2011 dioperasikan PT. ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air) milik Susi Pudjiastuti dengan nomor registrasi PK-VVG dan PK-VVE.
Adapun, jika dikategorikan berdasarkan bulan kejadian jatuhnya moda penerbangan, rupanya bulan April dan Agustus paling banyak terdapat insiden. Masing-masing bulan tersebut terdapat 8 kecelakaan jatuhnya pesawat.
Kejadian terbesar pesawat jatuh pada bulan April dialami maskapai Lion Air. Di insiden yang berlangsung tahun 2013 itu, pesawat Boeing 737-800NG jatuh ke laut saat proses pendaratan di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.
Badan pesawat Lion Air tersebut kemudian patah menjadi dua. Beruntung, 108 orang dalam pesawat bernomor registrasi PK-LKS itu selamat dan tak ada yang menjadi korban jiwa atas insiden ini.
Sementara, pada bulan Agustus tragedi pesawat jatuh yang memakan korban korban paling banyak dialami Trigana Air 267 tahun 2015. Pesawat tersebut berseri ATR 42-300.
Pesawat Trigana Air 267 hancur setelah menabrak lereng gunung dekat Bandara Oksibil di Papua. Kejadian ini merupakan salah satu tragedi CFIT. Kru dan penumpang pesawat yang berjumlah 54 orang tewas.
Pesawat Kecil Paling Banyak Jatuh
Dari 51 moda transportasi penerbangan yang jatuh dalam 2 dekade ke belakang, pesawat kecil menyumbang paling banyak insiden jatuh. Berdasarkan FAA, pesawat kecil ialah yang memiliki berat sama atau di bawah 12.500 lbs (5669,9 kg).
Ada 26 (50,98 persen) kejadian pesawat kecil jatuh sejak 2000-2020. Pesawat kecil yang jatuh itu beberapa di antaranya menempuh penerbangan perintis. Ada juga beberapa pesawat charter yang digunakan untuk melakukan survei.
Dua maskapai atau operator menjadi penyumbang terbanyak kecelakaan pesawat kecil jatuh. Masing-masing dari keduanya menyumbang 3 kecelakaan pesawat yakni PT. ASI Pudjiastuti Aviation atau Susi Air dan Sinar Mas Super Air.
Tiga kecelakaan Susi Air melibatkan armadanya berseri Cessna 208B Grand Caravan dan Pilatus Porter PC-6. Sementara, pada 3 kecelakaan yang dioperasikan Sinar Mas Super Air ketiganya merupakan pesawat pertanian Fletcher FU24-950.
Barulah setelah kecelakaan pesawat kecil, pesawat komersil besar menyumbang pesawat jatuh kedua. Ada 10 insiden (19,61 persen) dalam 2 dekade.
Jatuhnya Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang pada 2018 merenggut korban terbanyak. Sebanyak 189 orang di pesawat seri Boeing 737-8 (MAX) itu dinyatakan tewas dalam tragedi tersebut.
Setelah itu, kecelakaan moda transportasi yang jatuh ketiga merupakan pesawat kecil yang digunakan untuk melatih calon pilot. Ada 8 insiden (15,69 persen) terkait ini. Terakhir, barulah helikopter jatuh menyumbang 7 kejadian (13,73 persen).
