Day 1 kumparan Green Initiative Conference: Transisi Energi-Kelola Limbah Sampah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemimpin Redaksi kumparan Arifin Asydhad menyampaikan sambutan dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemimpin Redaksi kumparan Arifin Asydhad menyampaikan sambutan dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Hari pertama kumparan Green Initiative Conference 2025 yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (17/9) telah usai. Lebih dari 275 peserta, pembicara, dan panelis yang berasal dari pemerintahan, industri swasta, akademisi, organisasi, hingga umum hadir dan saling berkolaborasi untuk mendorong terwujudnya energi bersih dan berkelanjutan.

Acara dimulai dengan speech dari Pimpinan Redaksi kumparan, Arifin Asydhad. Dalam sambutannya, Arifin menekan soal pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk membangun energi berkelanjutan.

"Kali ini, kita mulai masuk dalam pembahasan energi bersih yang sudah menjadi kebutuhan dasar saat ini dan tentu masa mendatang. Maka lebih baik kita semua persiapkan diri jauh-jauh hari daripada nanti-nanti karena seperti kita tahu energi fosil akan habis," kata Arifin dalam pemaparannya di kumparan Green Initiative Conference 2025, Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (17/9).

Suasana saat sesi panel satu dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Wahyu

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan diskusi "Membangun Ketahanan Energi dan Industri melalui Transisi Berkelanjutan". Pihak panelis yang terlibat dalam diskusi ini antara lain Direktur Energia Prima Nusantara sekaligus Group Legal Advisor Pamapersada Nusantara, Boy Gemino Kalauserang; Professor in Industrial Engineering Head of XPloo, BINUS Center of Excellence in Digital Transformation & Sustainability, Prof. Firdaus Alamsjah, Ph.D; dan Staf Ahli Menteri Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kemenperin, Emmy Suryandari.

Salah satu yang disoroti dalam diskusi ini adalah soal pembiayaan proyek hijau yang awalnya membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Emmy Suryandari menyebut, berkaca dari negara-negara lain, proyek hijau memang membutuhkan modal besar di awal untuk membangun infrastruktur, setelah itu dalam jangka panjang biayanya bisa lebih terjangkau.

"Hanya saja memang speed-nya (pembangunan infrastruktur hijau di Indonesia) ini yang perlu dikolaborasikan, dielaborasi antara pendanaan dan juga who does what-nya ini siapa. Karena kalau tidak diutilisasi akan sampai berapa tahun juga hanya akan sebatas potensi,” jelas Emmy.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan sambutan dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Wahyu

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan paparannya usai break siang. Ada sejumlah hal yang ia bahas, mulai dari rencana penandatanganan UE-CEPA Full Agreement pada tanggal 23 September mendatang, 8 paket program untuk mendorong perekonomian hijau negeri, hingga pengembangan energi berbasis fotovoltaik,

"Kenapa fotovoltaik itu penting? Karena itu menjadi bagian dari hilirisasi silika. Jadi hilirisasi silika itu juga bisa membuat ada dua jalur. Satu jalur dari silika sampai floating glass, fotovoltaik untuk solar panel dan ini akan dibutuhkan di Indonesia," ungkap Airlangga.

Sesuai pesan Presiden Prabowo, diharapkan ada 80 ribu desa dialiri listrik melalui fotovoltaik. Pemerintah, kata Airlangga, juga tengah berusaha mengurangi ketergantungan terhadap fossil fuel termasuk dengan mendorong penggunaan renewable energy.

"Jadi saya akan mengakhiri disini dengan pantun. Ibu guru membawa nampan, isinya es cincau dan roti serikaya. Transisi energi demi masa depan, agar lingkungan hijau lestari selamanya. Terima kasih," tutup Airlangga.

Usai pemaparannya, Airlangga mendapatkan cinderamata dari kumparan Green Initiative Conference 2025 berupa jam yang terbuat dari material daur ulang. Jam tersebut juga diberikan kepada panelis dan pembicara lain.

Suasana saat sesi panel dua dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Panel kedua tak kalah seru dengan mengusung tema "Peluang Mencapai Target 100 Persen Listrik dari Energi Terbarukan 10 Tahun Lebih Cepat". Sesi ini diisi oleh Rektor UMN, Ir. Andrey Andoko, M.Sc., Ph.D; Dosen dan Peneliti Prodi Teknik Lingkungan ITB, Dr. Ir. Moch. Chaerul, ST., MT; dan Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan UI, Dr. Ir. Mahawan Karuniasa.

Dalam sesi ini, Chaerul menjelaskan, meski konsepnya adalah "waste to energy" namun sebenarnya output dari pemanfaatan limbah sampah tak cuma energi listrik saja. Energi, kata Chaerul, ada banyak jenisnya.

"Misalnya biogas, biogas itu energi. Misalnya tadi dikemukakan oleh Ibu Dirjen ya, staf ahli atau Ibu Dirjen ya. Misalnya RDF. Nah, itu juga energi walaupun mungkin tidak selalu berhubungan dengan listrik. Misalnya RDF itu seperti batu bara. Kalau digunakan untuk PLTU memang listrik. Tetapi bisa saja kemudian menjadi co-processing untuk apa? Industri semen," jelas Chaerul.

Salah satu tantangan dalam pengelolaan sampah menjadi energi listrik adalah tidak ada jaminan homogenitasnya. Sampah yang dihasilkan di satu hari dengan hari lainnya kemungkinan besar akan berbeda terus dan hal itu bisa berpengaruh kepada output energi yang dihasilkan.

"Jadi kertas dan segala macam memang punya energi tetapi karena kita tadi heterogen sekali sampah kita itu dan tidak bisa menjamin walaupun katanya 60% organik. Kita ya, kita menghasilkan 60% organik itu. Tapi kan tidak bisa menjamin besoknya 60, besoknya bisa 50%, besoknya lagi 80%. Plus juga karakteristik yang paling mempengaruhi adalah kadar air," tuturnya.

Deputi bidang Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Nani Hendiarti menyampaikan paparan dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Di sesi berikutnya, Deputi Bidang Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Nani Hendiarti, menyampaikan soal "Pengelolaan Sampah dan Masa Depan Energi Bersih". Di Kemenko Pangan, kata Nani, ada tiga regulasi terkait pengelolaan sampah, salah satunya mengatur soal konversi sampah menjadi energi atau PLTSa.

"Sekarang sedang proses menunggu. Sudah lama prosesnya, tapi sudah empat lima bulan, kita sedang menunggu penetapannya untuk revisi Perpres 35 tentang pengelolaan sampah menjadi energi, tapi ini untuk terbarukan, kita masukkan ke kelompok terbarukan dan menggunakan teknologi ramah lingkungan," tutur Nani.

Di Indonesia, jika dilihat berdasarkan jenisnya, 70% sampah merupakan sampah organik yang mencakup limbah sisa pangan atau food waste. Sedangkan untuk sampah plastik, meski tak sebanyak sampah organik, namun jumlahnya kemungkinan bisa terus naik.

"Jadi memang isunya adalah bagaimana kita menangani mengelola, mengelola dalam hal ini adalah mengurangi dan menangani, jadi pengurangan dan penanganan," ungkapnya.

Green Initiative Conference 2025. Foto: kumparan

Hari pertama kumparan Green Initiative Conference ditutup dengan acara "Curhat bersama Mbak kumparan". Dalam kesempatan ini, para peserta dipersilakan untuk mengutarakan uneg-uneg dan pengalaman mereka seputar pengolahan sampah.

Salah satu pembahasan seru adalah pengelolaan limbah pangan. Di beberapa lokasi, produk makanan yang sudah melewati masa tertentu biasanya tetap bisa dijual dengan potongan harga besar, meski kondisinya masih baik.

Namun di tempat lain, seperti di kebanyakan tenant di Jakarta, produk yang sudah melewati masa tertentu atau mendekati kadaluarsa biasanya akan langsung dimusnahkan. Meski, tentu saja, ada banyak pertimbangan khusus soal ini, namun menurut peserta, seharusnya hal tersebut bisa ditangani lebih bijak agar tidak menambah limbah makanan.

Nantikan Hari ke-2 kumparan Green Initiative Conference

kumparan Green Initiative Conference hari pertama memang sudah selesai, namun masih ada keseruan lain yang menanti di hari kedua. Akan ada sejumlah panelis hingga narasumber yang tak kalah menarik yang akan hadir pada Kamis (18/9) besok.

Sejumlah menteri juga akan datang membagikan insight tentang energi hijau dan keberlanjutan di Indonesia di hari kedua kumparan Green Inisiative Conference. Di antaranya Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono.

Berbagai inisiatif pro-lingkungan yang ada di kumparan Green Initiative Conference 2025 tidak lepas dari dukungan dan kolaborasi brand terkemuka yang peduli terhadap keberlanjutan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Astra, Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Blibli, PLN, Harita Nickel, Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, Bank Mandiri, Telkom Indonesia, Telkomsel, Pagatan Usaha Makmur, PT Alamtri Resources Indonesia, Pupuk Indonesia, Makmur Bersama Indonesia.

Kemudian ada juga kolaborasi dengan berbagai universitas di Indonesia. Misalnya saja dengan Telkom University, Binus University, Universitas Multimedia Nusantara.

Kesuksesan kumparan Green Initiative Conference 2025 juga tidak terlepas dari dukungan Hotel Borobudur Jakarta, Tetra Pak, Wastgood, Control New, Magalarva, Richeese Factory

Sementara itu sejumlah media partner turut menyebarluaskan informasi kumparan Green Initiative Conference 2025, yakni Metro TV, Bisnis Indonesia, Bisnis.com, Bisnis Muda, Katadata, Katadata Green, Suara.com, Kaskus, Opini ID, Delta FM, Prambors, Jak FM, Kis FM, Most Radio, Greeners.Co

Acara ini juga digelar dengan menggandeng sejumlah organisasi dan komunitas lingkungan seperti Trash Ranger Indonesia, Ayo Less Waste, Rumah Edukasi Komunitas Pilah Sampah, ewasterj, Economy for Ecology, Warriors Cleanup Indonesia, Mangrove Jakarta, Berplonggingria.