Dedi Mulyadi Ingin Dapur MBG Dekat dengan Sekolah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi usai rapat paripurna DPRD Kota Bandung dalam memperingati hari jadi ke-215 Kota Bandung, Kamis (25/9/2025). Foto: Linda Lestari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi usai rapat paripurna DPRD Kota Bandung dalam memperingati hari jadi ke-215 Kota Bandung, Kamis (25/9/2025). Foto: Linda Lestari/kumparan

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menginginkan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) berada di sekolah. Ia menyebut, sekolah bisa menjadi konsumen sekaligus produsen.

"Saya ingin ke depan, keinginan saya dapurnya itu di sekolah saja, ini keinginan saya ya. Ya sudah, yang di sekolahnya siswanya seribu yang dapurnya di situ. Kalau seperti itu pengelolaannya kan bisa sama ibu-ibunya," ucap Dedi di , Kamis (2/10).

Ia juga mengatakan keinginan ini dapat membantu membangun siklus ekonomi. Dalam pelaksanaannya, anak-anak sekolah dapat diajarkan untuk lebih produktif, misalnya pengajaran menanam sayuran.

"Kan kita ingin membangun siklus ekonomi. Kalau kita ingin membangun siklus ekonomi, saya ingin anak-anak sekolah produktif," kata Dedi.

"Kalau ingin anak-anak sekolah produktif ya suruh saja sekolah-sekolah nanam sayuran di alam sekolah, kemudian ditanami pohon pisang, jagung, kacang panjang, sehingga dapur itu jadi pusat dari pasar," lanjut dia.

Dedi menjelaskan, pada program MBG itu, Jawa Barat mendapatkan dana Rp 50 triliun.

Namun, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat, telah mengalami penurunan pembiayaan sebesar Rp 5,7 triliun. Sehingga, kata dia, perputaran ekonomi harus tetap berjalan.

"Kalau dikelolanya dengan baik, membangun sistem ekonomi kerakyatan, produktivitas pertanian terserap, lapangan kerja terbuka, anak-anak sekolah produktif, sehingga kan ini yang ingin kita dorong, makanya minggu depan akan MOU. Yang tidak boleh itu mata rantai ekonominya dikuasai oleh orang asing yang punya modal, itu yang kita nggak setuju," kata Dedi.

"Kemudian ada monopoli, dan itu bisa menjadi bumerang. Makanya harapan saya, dengan dapur nanti didekatkan ke sekolah, sebenarnya lagi mendekatkan mata rantai pasar," kata Dedi menambahkan.