Deklarasi Dukungan di Bidakara Dinilai Upaya Black Campaign Terhadap Anies
ยทwaktu baca 2 menit

Deklarasi dukungan terhadap Gubernur DKI Anies Baswedan yang dilakukan kelompok Majelis Sang Presiden menuai perhatian. Sebab, peserta yang hadir dalam acara tersebut merupakan gabungan dari eks anggota organisasi terlarang, FPI dan HTI, hingga mantan narapidana terorisme.
Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, mempertanyakan apakah deklarasi tersebut benar dilakukan oleh relawan Anies atau dilakukan sebagai black campaign terhadap Anies.
"Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk melihat apakah memang itu relawan resmi Anies yang tercatat atau katakanlah memang sengaja melakukan deklarasi itu untuk black campaign terhadap Anies. Itu, kan, bisa terjadi," kata Ujang, Rabu (8/6).
"Oleh karena itu, saya melihat bahwa persoalan ini tidak sesederhana yang kita lihat akan ber-impact atau berdampak kepada Anies sendiri," lanjutnya.
Ujang menilai ada banyak pihak yang ingin menjatuhkan nama baik atau elektabilitas Anies. Apalagi, Anies sedang disorot karena kesuksesan Pemprov DKI menggelar Formula E akhir pekan lalu.
"Nah, mungkin saja deklarasi itu salah satunya adalah untuk mendegradasi popularitas atau hasil yang telah dicapai oleh Anies terkait popularitasnya. Dan yang kedua, poinnya adanya deklarasi itu yang bisa dikatakan black campaign itu akan seperti itu. Artinya bahwa genderang perang pilpres itu sudah dimulai, sudah terjadi, dan siapa orkestranya, yang mendesain persoalan atau masalah itu, kita juga tidak tahu," jelasnya.
Jika memang itu yang ingin dicapai lewat deklarasi tersebut, Ujang menilai Anies akan dituduh sebagai capres yang berhaluan kanan dan radikal. Apalagi dalam deklarasi tersebut sempat terlihat beberapa peserta yang membawa bendera HTI, organisasi yang dilarang oleh pemerintah.
"Saya rasa tidak boleh. Simbol-simbol organisasi yang sudah dibubarkan tidak boleh dipublikasi. Oleh karena itu harus disita terkait bendera itu. Saya punya keyakinan ini adalah desain untuk mendegradasi atau menurunkan elektabilitas atau popularitas Anies kalau desainnya seperti itu karena sudah ada rancangan yang terencana," tuturnya.
"Masa relawan lain tidak tahu? Mestinya Anies dan relawan lain terkoordinasi. Oleh karena itu, saya melihat ini desain kelompok tertentu atau pihak yang sengaja untuk menghancurkan nama baik Anies terkait pencapresan," lanjutnya.
Terakhir, Ujang meminta pihak deklarator dan Anies mengklarifikasi hal ini. Sebab, efeknya akan sangat besar khususnya terhadap Anies karena akan dicap didukung kelompok ekstremis.
"Saya, sih, berkeyakinan bahwa acara itu memang didesain, direncanakan dengan matang untuk mendegradasi itu tadi, popularitas dan elektabilitas Anies itu," pungkasnya.
