Demi Biaya Upacara Rp 1,5 M, Warga Bali Kelola Air Terjun Jadi Wisata

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana Taman Sari Waterfall. Foto: Denita br Matondang/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Taman Sari Waterfall. Foto: Denita br Matondang/kumparan

Upacara Karya Agung yang diperingati setiap 50 tahun sekali akan dihelat pada April tahun 2020 mendatang. Perkiraan biaya untuk upacara ini mencapai Rp 1,5 miliar.

Warga Banjar Ngenjung Sari, Desa Bakbakan, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali, antusias menyambut upacara ini.

Untuk urusan pembiayaan upacara, Desa yang terdiri dari 130 Kepala Keluarga (KK) ini bergotong royong melakukan patungan. Bahkan, warga yang sebagian besar bekerja di sektor pariwisata ini melakukan hal kreatif dengan menyulap air terjun yang berada di wilayahnya menjadi tempat wisata.

“Selain dari urunan krama (warga desa) kami berusaha mencari potensi pendapatan terselenggaranya upacara. Kami urunan masing-masing 2,5 juta per KK. Tapi, masih banyak kurangnya,” kata salah satu petugas yang juga warga Desa Bakbakan Nyoman Padma kepada Kumparan, Minggu (8/12).

Suasana Taman Sari Waterfall. Foto: Denita br Matondang/kumparan

Pertengahan tahun 2019, air terjun dengan luas sekitar 0,5 hektare mulai dikelola. Kawasan air terjun yang berbentuk sawah petak ini mulai didesain. Batu-batu besar dihancurkan, dipindahkan dari petak secara manual.

Pasir lalu dituang agar jadi bahan dasar atau pijakan. Kedalaman kolam sekitar 130 meter. Tangga-tangga semen dibuat untuk akses menuju air terjun. Toilet perempuan dan lelaki dibangun sederhana.

Akses alkohol berkadar rendah juga diberikan kepada turis dewasa agar lebih nikmat.

Suasana Taman Sari Waterfall. Foto: Denita br Matondang/kumparan

Dua bulan kemudian, Air terjun yang diberi nama Taman Sari Waterfall yang menujukkan arti membasuh diri ditemani kesejukan alam atau taman siap dikenalkan kepada wisatawan. Promosi dilakukan melalui media sosial dengan gencar.

Alhasil, selama dua bulan alias sejak Oktober 2019 lalu dibuka setiap akhir pekan, air terjun ini kebanjiran pengunjung. Baik turis lokal atau asing, perempuan atau laki-laki, anak-anak atau dewasa tertarik merasakan sejuknya air Taman Sari Waterfall ini.

Air terjun ini juga tak luput dari konten media sosial para anak muda. Setiap sudut air terjun indah dijadikan objek foto. Senyum sumringah menghiasi ketenangan air terjun ini.

Biaya masuk memang tak dipatok, se-ikhlas pengunjung. Tapi, rata-rata pengunjung dimintai sumbangan sekitar Rp 15 ribu per orang. Selama dua bulan, Padma memprediksi sudah Rp 30 juta masuk ke khas desa.

“Semua dana yang sekarang donasi dari pengunjung itu semuanya fokus untuk mendukung kami akan ada Upacara Karya agung di Pura Pusah yang puncaknya 14 April 2020 yang perkiraan biaya untuk acara itu sekitar Rp 1,5 miliar,” ujar dia.

Suasana Taman Sari Waterfall. Foto: Denita br Matondang/kumparan

Bagaimana dengan izin mengelola daerah wisata? Bali memang terkenal dengan destinasi wisata. Setiap sudut wilayah mulai dari seni, adat, budaya hingga alamnya berpotensi menjadi sumber penghasilan sektor wisata. Padma mengatakan, desanya tak luput dalam pengurusan izin.

“Kalau izinnya ini baru, sekarang sedang diproses dan makanya kita belum gunakan tiket masih sistem donasi. Itu dalam beberapa hari akan selesai lewat Desa Pakraman Gitgit dan Bakbakan. Itu daerah desa akan ke Pemkab gianyar sudah ada dulu pembicaraan. Ketua penjuru (ketua adat desa) sudah mengurus,” imbuh Padma.

Keselamatan keamanan wisatawan juga telah disiapkan. Hingga acara upacara digelar, warga akan bergantian. Dua orang berjaga di parkiran, dua orang berjaga di pintu masuk, dua orang berjaga di kawasan air terjun.

kumparan post embed

Bila upacara usai, warga akan tetap membuka objek wisata baru ini. Rencana operasi akan dibicarakan lewat diskusi lagi. Tapi, Padma berharap operasi tidak melibatkan pihak ketiga. Warga dinilai mampu mengelola wisata air terjun ini.

“Kami juga masih memiliki rencana lebih lagi dengan tempat ini. Penambahan kolam-kolam, kita juga akan buat jalur trekking kurang lebih satu kilometer sehingga bisa menopang pendapatan warga desa kami,” ujar dia.