Demo, Rusuh, dan Penjarahan: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Prancis?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah manekin dari toko yang dijarah terlihat di tengah benda-benda yang terbakar saat demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Marseille, Prancis, Sabtu (17/10/2026). Foto: Manon Cruz/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah manekin dari toko yang dijarah terlihat di tengah benda-benda yang terbakar saat demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Marseille, Prancis, Sabtu (17/10/2026). Foto: Manon Cruz/REUTERS

Kerusuhan pecah di Prancis pada Sabtu (17/10). Sejumlah toko dijarah, masyarakat bentrok dengan polisi, hingga gedung bersejarah dibakar.

Namun, kerusuhan itu tak terjadi begitu saja. Awalnya, kerusuhan ini bermula dari demonstrasi yang digelar sebagai protes kenaikan harga-harga bahan pokok.

Berikut adalah ringkasan apa yang sebenarnya terjadi di Prancis.

Demo Inisiasi Gerakan Rompi Kuning

Seorang pengunjuk rasa 'rompi kuning' memberi isyarat di dekat api selama protes tradisional May Day di Paris, Prancis, Sabtu (1/5). Foto: Manuel Ausloos/REUTERS

Gerakan Yellow Vest atau Rompi Kuning di Prancis, yang menggelar demonstrasi jalanan delapan tahun lalu untuk memprotes rencana kenaikan pajak bahan bakar oleh pemerintahan Macron, menyerukan aksi demonstrasi "rompi kuning dan kaum muda" pada Sabtu (17/10).

Keluhan utama para demonstran adalah tingginya biaya hidup. Kondisi ini sebagian dipicu oleh perang di Timur Tengah yang turut mendorong lonjakan inflasi di Eropa dan berbagai wilayah lainnya.

"Kami muak bekerja keras dengan upah yang hanya cukup untuk hidup dalam kemiskinan, sementara biaya sewa rumah terus naik," kata seorang guru bernama Regine Monfroid kepada AFP di kota Strasbourg, Prancis timur.

Namun, ada pula persoalan lainnya yang ikut menjadi isu pada demonstrasi kali ini.

Di Paris, puluhan ribu orang berbaris melintasi wilayah timur dan utara kota dalam salah satu aksi unjuk rasa besar. Sejumlah demonstran meneriakkan "Semua orang membenci polisi" dan "Macron, mundurlah".

Seorang siswa sekolah menengah berusia 18 tahun, Kamil Alahyan, mengatakan dirinya berunjuk rasa "karena begitu banyak alasan—pemilihan umum yang akan datang pada 2027, para politikus yang berbohong, serta orang-orang super kaya yang terus mengumpulkan semakin banyak kekayaan selama 10 tahun terakhir".

Sejumlah demonstran berupaya menarik persamaan antara situasi saat ini dan Revolusi Prancis pada 1789.

"Inilah Revolusi—kita merebut Bastille!" teriak sejumlah orang di Marseille ketika mereka memaksa masuk ke kantor wali kota.

Para pengunjuk rasa memecahkan kaca jendela sebuah gerai perusahaan makanan Prancis saat demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). Foto: Geoffroy Van der Hasselt / AFP

Di kota La Rochelle, Prancis barat, para demonstran berbaris di belakang spanduk bertuliskan, "Revolusi atau kematian."

Sementara itu, di kota Montpellier, Prancis selatan, sebuah spanduk biru raksasa bertuliskan "Rakyat akan menang" dibentangkan di atas sebuah alun-alun pusat kota.

"Pemerintah sedang gemetar dan memang sudah seharusnya gemetar, karena ketika rakyat Prancis marah, mereka tidak akan berhenti," kata Ryad Rani, ketua organisasi perwakilan siswa sekolah menengah LSU, kepada wartawan di Paris.

Aksi unjuk rasa menentang kenaikan biaya hidup tersebut berubah menjadi kekerasan "ekstrem".

Kerusuhan meluas setelah berminggu-minggu berlangsungnya aksi protes mahasiswa. Situasi ini terjadi hanya enam bulan sebelum pemilihan umum untuk menentukan pengganti Presiden Emmanuel Macron.

Sejumlah ruas jalan di Paris "telah hancur", kata Wali Kota Paris Emmanuel Gregoire. Sementara itu, kelompok-kelompok pemuda bertopeng membakar mobil yang terparkir dan menjarah toko-toko.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut aksi tersebut diikuti oleh 550.000 orang. Serikat pekerja CGT, yang turut berpartisipasi, menyebut jumlah peserta mencapai 800.000 orang.

1.200 Orang Diamankan

Para pengunjuk rasa menggunakan alat pemadam kebakaran untuk memecahkan kaca jendela kantor pariwisata Lyon saat demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Lyon, Prancis, Sabtu (17/10/2026). Foto: JEFF PACHOUD / AFP

Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu, yang mengecam kekerasan dengan "intensitas ekstrem", mengatakan sebanyak 1.200 orang telah ditangkap dan 150 polisi mengalami luka-luka.

"Merupakan sebuah keajaiban jumlah korban tidak lebih banyak," katanya.

Kekerasan bermula di sela-sela aksi unjuk rasa menentang kenaikan biaya hidup di ibu kota dan sejumlah kota lainnya.

Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menghadapi demonstran yang melemparkan benda-benda ke arah petugas dan menyalakan kembang api.

Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa di kota Saint-Etienne, Prancis selatan.

Toko-toko Dijarah

Para pengunjuk rasa menjarah sebuah supermarket saat demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). Foto: Abdul Saboor/REUTERS

Selama dan setelah demonstrasi berlangsung, kelompok-kelompok pemuda berkeliaran di jalan-jalan kota. Mereka sesekali terlibat bentrokan dengan polisi, membakar benda-benda, serta menyerang toko-toko yang pintunya tertutup untuk menerobos masuk dan menguras barang-barang di rak.

Puluhan toko dijarah di Paris, Marseille, Nice, Nantes, Bordeaux, Limoges, Lille, Toulouse, dan Strasbourg. Toko-toko tersebut mencakup supermarket, apotek, butik mewah, toko pakaian, optik, penjual kosmetik, hingga toko elektronik konsumen.

Seorang pengunjuk rasa mencuri layar Apple dari Apple Store yang telah dijarah saat demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Lille,, Prancis, Sabtu (17/10/2026). Foto: Sameer Al-DOUMY / AFP

Jurnalis AFP di Paris melihat kelompok-kelompok yang terdiri dari sekitar enam pemuda menyerang toko-toko secara terorganisasi. Dengan mengenakan masker dan sarung tangan, mereka terlebih dahulu memutus sambungan kamera pengawas sebelum memecahkan kaca untuk masuk.

Penjarahan menambah kerusakan dan aksi vandalisme yang terjadi sepanjang hari, termasuk penyerangan terhadap balai kota di sejumlah wilayah.

Gedung Bersejarah Terbakar

Balai Kota Limoges yang berusia lebih dari 140 tahun sebagian besar hancur akibat kebakaran yang dipicu oleh demonstran bertopeng yang menerobos masuk, menurut pejabat tertinggi di wilayah tersebut. Dua balai kota lainnya di Marseille dan Lille juga diterobos dan dirusak.

Kobaran api membakar gedung Balai Kota setelah sekelompok orang memaksa masuk ke dalam bangunan tersebut saat aksi demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di Limoges, Prancis bagian tengah, Sabtu (17/10/2026). Foto: Pascal LACHENAUD / AFP

Sebuah kompleks kepolisian di Bordeaux turut dirusak, sementara di Lyon, para demonstran membakar kantor pariwisata.

Berbagai Respons Bermunculan

Kekerasan tersebut menjadi sorotan media internasional. Di Amerika Serikat, Wakil Presiden JD Vance menyalahkan imigrasi atas kerusuhan tersebut.

"Kaum liberal Barat mengimpor dunia ketiga ke Prancis dan negara-negara lain atas nama keberagaman dan kasih sayang. Mereka mengabaikan pertanyaan mendasar mengenai asimilasi dan kesesuaian," tulisnya di X.

Wakil Presiden AS JD Vance melambaikan tangan saat naik ke pesawat Air Force Two setelah menghadiri pembicaraan tentang Iran di Islamabad, Pakistan, Minggu (12/4/2026). Foto: Jacquelyn MARTIN / POOL / AFP

Presiden Macron mengatakan, "Mereka yang melakukan vandalisme, menyerang kantor-kantor pemerintahan atau tempat usaha, maupun melakukan penjarahan—bahkan di balai kota kita sendiri—akan dituntut dan dihukum."

Para politikus oposisi yang bersaing untuk menggantikan Macron dalam pemilihan presiden pada April dan Mei mendatang memanfaatkan situasi kacau tersebut.

Kandidat sayap kanan Marine Le Pen mengecam "para perusuh" dan mengeklaim bahwa partai pesaingnya dari sayap kiri radikal, Jean-Luc Melenchon, telah "melegitimasi kekerasan".

Presiden Prancis Emmanuel Macron menghadiri pernyataan pers bersama dengan Presiden Indonesia di Istana Kepresidenan Elysee di Paris, Prancis, Kamis (28/5/2026). Foto: Ludovic Marin/AFP

Dia berjanji akan melindungi warga Prancis "dari kekerasan sayap kiri ekstrem".

Melenchon, yang secara terbuka mendukung demonstrasi tersebut dan aksi protes mahasiswa sebelumnya, meminta para demonstran menjauhi segala bentuk penjarahan. Dia menyebut tindakan itu "bertentangan dengan cara-cara kami".