Demo Tolak Lockdown di Belanda Rusuh, Massa Lempar Batu hingga Bakar Sepeda

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Orang-orang memprotes selama demonstrasi menentang tindakan terhadap COVID-19 di Amsterdam, Belanda, Sabtu (20/11). Foto: Eva Plevier/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Orang-orang memprotes selama demonstrasi menentang tindakan terhadap COVID-19 di Amsterdam, Belanda, Sabtu (20/11). Foto: Eva Plevier/REUTERS

Demonstrasi terjadi di sejumlah kota penting di Belanda sejak Jumat (19/11) terkait penerapan lockdown dan pembatasan bagi warga yang belum divaksin. Namun di berbagai wilayah demo ini berujung kerusuhan pada malam hari.

Kerusuhan kembali terjadi pada Sabtu (20/11) malam. Para perusuh melemparkan batu dan kembang api ke polisi, dan membakar sepeda ketika protes berubah menjadi kekerasan untuk demo di malam kedua.

Demo Rusuh di Den Haag

Petugas dengan perlengkapan antihuru-hara menghalau serangan kelompok pengunjuk rasa di Den Haag, sementara meriam air digunakan untuk memadamkan api di persimpangan yang ramai. Polisi berpatroli dengan menunggang kuda dan bersepeda.

Polisi menangkap beberapa orang di lingkungan kelas pekerja di kota itu setelah seharian protes.

Namun suasana berubah pada Sabtu malam, dengan sekelompok pemuda melempari petugas di Den Haag dan juga di pusat Kota Urk, serta kota-kota di provinsi Limburg selatan.

"Orang-orang di luar sini memprotes tentang 2G (pembatasan pada yang tidak divaksinasi) dan lockdown," kata pemilik toko pizza Den Haag, Ferdi Yilmaz, kepada AFP saat dia massa merangsek masuk tokonya.

"Mereka marah karena itu," kata Yilmaz, yang menambahkan polisi menyeret orang keluar dari tokonya dan "memukul kepala saya tanpa alasan."

Demo Rusuh di Rotterdam

Para pengunjuk rasa terlihat selama demonstrasi menentang tindakan COVID-19 yang berubah menjadi kekerasan di Rotterdam, Belanda. Foto: REUTERS

Pada Jumat (19/11) malam, setidaknya dua orang terluka setelah polisi melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa dan 51 orang ditangkap setelah "pesta pora" kekerasan di Rotterdam.

Belanda kembali menerapkan lockdown parsial pertama di Eropa Barat pada musim dingin mulai Sabtu pekan lalu, dengan tiga minggu pembatasan. Sekarang Perdana Menteri Belanda Mark Rutte berencana melarang orang yang tidak divaksin memasuki beberapa tempat, yang disebut opsi 2G.

Atas kebijakan ini beberapa ribu pengunjuk rasa turut berkumpul di Amsterdam. Seribu orang lainnya berbaris melalui kota selatan Breda, dekat perbatasan Belgia, membawa spanduk dengan slogan-slogan menolak lockdown.

"Orang-orang ingin hidup, itu sebabnya kami di sini," kata perwakilan demonstran, Joost Eras.

"Tapi, kami bukan perusuh. Kami datang dengan damai," tegasnya.

Orang-orang memprotes selama demonstrasi menentang tindakan terhadap COVID-19 di Amsterdam, Belanda, Sabtu (20/11). Foto: Eva Plevier/REUTERS

Di sekelilingnya suasana meriah, dengan beberapa pengunjuk rasa menari di belakang kendaraan hias dengan DJ.

Sementara di Rotterdam, massa marah dan berujung kerusuhan. Pihak kepolisian melepaskan tembakan peringatan dan tembakan yang ditargetkan, serta menggunakan meriam air.

"51 orang ditangkap selama gangguan besar pada Jumat malam dan malam di Coolsingel (jalan) di Rotterdam. Sekitar setengah dari mereka masih di bawah umur," kata polisi Rotterdam dalam sebuah pernyataan.

Menurut polisi, para perusuh datang dari berbagai bagian negara. Polisi masih mencari tersangka lainnya.

"Tiga perusuh terluka ketika mereka terkena peluru. Mereka masih di rumah sakit," kata polisi, seraya menambahkan departemen investigasi kriminal nasional Belanda akan menyelidiki apakah luka-luka itu disebabkan oleh peluru polisi atau tidak.

Para pengunjuk rasa terlihat selama demonstrasi menentang tindakan COVID-19 yang berubah menjadi kekerasan di Rotterdam, Belanda. Foto: REUTERS

Seorang polisi juga dibawa ke rumah sakit dengan cedera kaki, sementara beberapa petugas lainnya terluka atau mengalami kerusakan pendengaran karena kembang api besar yang dinyalakan oleh para perusuh.

Polisi telah melepaskan beberapa tembakan peringatan tetapi "pada satu titik situasi menjadi sangat berbahaya sehingga petugas merasa harus menembak sasaran".

Mereka menepis desas-desus di media sosial bahwa seseorang telah meninggal selama kekerasan di Rotterdam.

Wali Kota Rotterdam Ahmed Aboutaleb mengecam apa yang disebutnya "pesta pora kekerasan" ini. "Polisi merasa perlu untuk menarik senjata polisi pada akhirnya untuk membela diri," tegasnya.

Pemerintah pusat Belanda juga mengutuk kekerasan di Rotterdam.

"Kerusuhan dan kekerasan ekstrem terhadap polisi, polisi antihuru-hara, dan petugas pemadam kebakaran tadi malam di Rotterdam sangat mengerikan," kata Menteri Keamanan Belanda Ferd Grapperhaus.

"Polisi dan kantor kejaksaan melakukan yang terbaik untuk melacak, mengadili, dan menghukum para perusuh ini," jelasnya.