Demokrat Ajak Kader Demo Tolak BBM Naik: Tak Perlu Nangis Sandiwara Seperti PDIP
·waktu baca 2 menit

Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani menyatakan partainya tegas menolak kenaikan harga BBM. Ia mengajak kader pengurus partai hingga anggota dewan Demokrat menyuarakan penolakan tersebut.
Kamar mengungkap, Demokrat membebaskan kadernya berdemonstrasi bersama masyarakat terkait penolakan kenaikan harga BBM.
Namun, ia mengingatkan kepada kader tak perlu sampai menangis seperti yang dilakukan elite PDIP saat kenaikan BBM di masa pemerintahan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kamhar juga mendorong agar kader berdemonstrasi bersama TNI bahkan Polri.
"Seluruh kader dibebaskan untuk ikut serta bersama rakyat melakukan unjuk rasa menolak kenaikan BBM ini, bila perlu mengajak keluarga TNI, keluarga Polri, keluarga PNS/ASN dan partai-partai lain untuk ikut turun ke jalan dalam aksi damai," kata Kamhar dalam pernyataannya yang dikutip kumparan, Rabu (8/9).
"(Namun) Kader tak perlu menangis dalam menyampaikan argumentasi penolakan kenaikan BBM ini sebagaimana aksi sandiwara elite-elite partai PDIP pada saat merespons kenaikan BBM di masa pemerintahan SBY," lanjutnya.
Ia menyebut, PDIP yang menolak kenaikan BBM di masa pemerintahan SBY, kini ketika berkuasa bisa memahami kenaikan BBM. Menurutnya saat ini situasi tidak mendesak jika pemerintah benar-benar peduli dengan rakyat.
Menurut Kamhar, argumentasi pemerintah menaikkan harga BBM karena beban APBN tidak relevan. Ia berpendapat, pemerintah bisa menempuh jalan lain seperti relokasi penggunaan anggaran IKN dan infrastruktur yang tidak bersifat prioritas.
"Bisa melalui relokasi penggunaan anggaran untuk meninjau ulang IKN dan infrastruktur yang tak prioritas, termasuk juga dengan jalan menekan tingkat kebocoran APBN. Tapi pemerintah mengambil jalan pintas dan jalan mudah untuk memenuhi segala ambisinya dengan memberikan beban kepada rakyat," ujar dia.
"Menaikkan harga BBM untuk menekan beban APBN ini langkah paling instan dan paling mudah, tapi sekaligus juga menunjukkan pemerintah tak kreatif tak punya hati," tandasnya.
