Denny Indrayana: Jurkani Diduga Dibacok karena Advokasi Kasus Tambang Ilegal

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Advokat, Jurkani (kiri), dan Denny Indrayana. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Advokat, Jurkani (kiri), dan Denny Indrayana. Foto: Dok. Istimewa

Denny Indrayana berduka atas meninggalnya advokat di Kalimantan Selatan bernama Jurkani. Jurkani meninggal dunia setelah hampir 12 hari dirawat di rumah sakit karena dibacok orang tak dikenal.

Peristiwa pembacokan itu terjadi pada 22 Oktober 2021. Jurkani terluka cukup parah hingga harus menjalani perawatan di Ciputra Mitra Hospital Banjarmasin hingga akhirnya meninggal dunia.

Denny Indrayana menduga peristiwa tersebut terkait dengan advokasi yang sedang dilakukan Jurkani. Sebelum meninggal, Jurkani sedang menjadi advokat dari perusahaan PT Anzawara Satria. Ia tengah mengadvokasi masalah izin usaha pertambangan (IUP) di sana.

"Jurkani dikeroyok dan dibacok oleh segerombolan orang karena mengadvokasi kasus tambang illegal di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan," kata Denny dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Rabu (3/11).

Konpers Denny Indrayana usai PSU Pilgub Kalsel. Foto: Dok. Istimewa

Denny mengaku kehilangan sosok Jurkani. Ia menyebut Jurkani merupakan salah satu relawannya ketika Denny Indrayana menjadi cagub Kalsel.

"Saya sangat berduka. Kanda Jurkani sudah seperti saudara bagi saya. Beliau adalah salah satu relawan yang berjuang tanpa pamrih dalam pencalonan saya sebagai Gubernur Kalimantan Selatan. Beliau orang yang sangat baik, lurus, loyal, apa adanya, dan tegas dalam bersikap. Kita kehilangan petarung yang hingga akhir hayatnya terus berjuang untuk kehidupan Banua Kalsel yang lebih adil, baik, sejahtera, tanpa mafia," tutur Denny.

Denny pun mengutuk peristiwa yang menimpa Jurkani. Ia menyebut peristiwa itu sebagai pembunuhan yang biadab.

"Pembunuhan biadab dengan pembacokan semacam ini karena soal tambang batubara bukan kali pertama terjadi. Sumber daya alam Kalimantan Selatan yang seharusnya membawa manfaat dan kesejahteraan, akhirnya sering menjadi sumber konflik dan berujung dengan konflik lahan bahkan pembunuhan," papar Denny.

Menurut dia, sudah beberapa kali peristiwa terkait tambang yang muncul di Kalsel.

"Sebelumnya ada seorang guru yang dikabarkan dibacok hingga tewas, karena persoalan jalan tambang batubara. Ada seorang wartawan yang akhirnya tewas di penjara, karena menulis soal perebutan lahan sawit. Yang terakhir, Kanda Jurkani tewas dibacok karena soal tambang ilegal batubara," ungkap Denny.

"Semuanya adalah kematian karena konflik lahan dan kekayaan alam bumi Lambung Mangkurat. Ironisnya, semuanya juga belum terungkap apa yang sebenarnya terjadi, serta siapa sebenarnya pelaku utama alias dalang di balik pembunuhan-pembunuhan biadab tersebut. Agaknya, aparat kepolisian kesulitan mengungkap tuntas, karena berbagai persoalan non-hukum, dan karena tindak pidana tersebut dilakukan dengan pola mafioso, yang jejaringnya sudah merambah ke mana-mana. Jaringan mafioso yang kuat dan luas itu dibangun dengan kekuatan uang—yang saat ini menjadi kekuatan utama dalam menentukan kebijakan politik dan penegakan hukum kita di banyak tempat di tanah air. “DUITokrasi”, uang telah berdaulat dan membangun sistem bernegaranya sendiri yang membunuh demokrasi," sambungnya.

Pelaku pembacokan Jurkani diduga empat orang. Dua di antaranya sudah ditangkap polisi.

Polisi belum berbicara motif pembacokan terhadap Jurkani, apakah terkait perkara yang sedang diadvokasinya atau bukan.

"Saya terus mendukung agar aparat kepolisian—sesulit apa pun—tidak berhenti mengusut tuntas kasus ini, hingga menemukan dan menghukum pelaku utamanya. Dengan kerja profesional, serta integritas yang tak terbeli, harapan itu masih ada," kata Denny yang juga senior partner Indrayana Centre, for Government, Constitution, and Society (INTEGRITY) Law Firm.

"Saya berdoa Kanda Jurkani mendapatkan tempat terbaik di Jannah Allah SWT. Kita yang ditinggalkannya masih memiliki banyak pekerjaan rumah untuk melanjutkan perjuangannya, membangun bumi Kalimantan Selatan yang lebih adil, lebih sejahtera, tanpa mafia yang merajalela," pungkasnya.