Densus 88 Sebut DPR Jadi Target Teror, Komisi III: Di Sini Sudah Ketat
19 November 2025 15:07 WIB
·
waktu baca 3 menit
Densus 88 Sebut DPR Jadi Target Teror, Komisi III: Di Sini Sudah Ketat
Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman menanggapi pernyataan Densus 88 Antiteror Polri yang mengatakan gedung DPR RI menjadi salah satu target teror .kumparanNEWS

ADVERTISEMENT
Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman menanggapi pernyataan Densus 88 Antiteror Polri yang mengatakan gedung DPR RI menjadi salah satu target teror oleh seorang tersangka perekrut anak-anak sebagai anggota jaringan terorisme melalui media sosial dan game online. Menurut Habiburokhman, penjagaan di DPR RI sudah ketat.
ADVERTISEMENT
“Ya kita, kalau aspek keamanan menurut saya sudah cukup maksimal standar pengamanan di DPR ini. Kayak saya juga kadang-kadang masuk ke sini kan saya lihat ada yang jaga, dicek mobil kita, itu kan termasuk mobil anggota kan dicek,” ucap Habiburokhman dalam konferensi pers di DPR, Rabu (19/11).
“Menurut saya sudah cukup ketat masuk ke DPR, ada deteksi apa namanya, buat logam, ada detektor seperti itu. Menurut saya sudah baik,” tambahnya.
Menurutnya, bahkan penjagaan di DPR RI terlalu ketat. Ia bercerita, kerap ada tamunya dari daerah pemilihan (Dapil) yang sulit masuk.
“Kadang-kadang nih terlalu ketat juga agak repot. Kayak saya itu kadang-kadang agak kesulitan terima tamu ya kan, dari Dapil, Jakarta Timur ke sini nyangkut di depan lama banget gitu kan ya. Padahal sudah apa namanya menunjukkan identitas segala macam,” ucap Habiburokhman.
ADVERTISEMENT
“Sementara yang jaga itu, kayaknya itu kan ganti-ganti ya, itu juga susah pengkondisiannya. Sehingga saya lebih nyaman kalau ketemu orang tuh di posko saya di Utan Kayu, daripada di sini. Di sini bisa lama nunggu di depan bisa 30 menitan orang-orang itu,” tambahnya.
Ia juga menanggapi soal kelompok itu merekrut anak-anak. Menurutnya, Densus 88 harus mengikuti prosedur yang telah ada soal menangani anak yang bersinggungan dengan hukum.
“Lalu soal persoalan hukum terhadap anak-anak kan kita harus spesifik nih. Ada beberapa apa, antisipasi secara spesifik, ada mekanisme yang spesifik mengatur soal anak. Tentu kita minta kepolisian mematuhi hal tersebut,” ucap Habiburokhman.
Sebelumnya, Densus 88 Antiteror menangkap lima orang tersangka yang merekrut anak-anak melalui media sosial dan game online untuk jaringan terorisme.
ADVERTISEMENT
Para pelaku ini memulai pendekatan lewat media sosial. Salah satunya lewat game online, lalu mengarahkan target anak-anak ke grup yang lebih privat yang terenkripsi, untuk proses indoktrinasi.
Para pelaku berinisial FW alias JT asal Medan; LM dari Banggai, Sulteng; PP alias BBMS dari Sleman; MSVO asal Tegal; serta JJS alias BS dari Agam.
Salah satu pelaku disebut sudah memiliki keinginan untuk melakukan aksi teror di Gedung DPR RI, sehingga Densus harus segera melakukan penindakan.
“Dan yang terakhir kemarin kami temukan, salah satu dari pelaku ini juga berkeinginan untuk melakukan aksi di Gedung DPR RI. Nah, ini yang membuat harus segera dilakukan penegakan hukum,” ujar Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, dalam konferensi pers Penanganan Rekrutmen Online Terhadap Anak-Anak oleh Kelompok Terorisme di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa (18/11).
ADVERTISEMENT
