Denyut Sawah yang Bangkit dari Rehabilitasi Irigasi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rizky Hidayat, petani asal Gampong Meudhang Ghon, melihat aliran air dari saluran irigasi yang kini mampu mengairi sawah warga secara merata. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Rizky Hidayat, petani asal Gampong Meudhang Ghon, melihat aliran air dari saluran irigasi yang kini mampu mengairi sawah warga secara merata. Foto: Dok. Istimewa

Suara gemericik air kini kembali terdengar di saluran irigasi Gampong Meudhang Ghon, Kecamatan Indra Jaya, Aceh Jaya. Air yang mengalir dari Sungai Alue Leman itu tampak jernih, menyusuri dinding beton saluran yang baru saja selesai direhabilitasi.

Bagi Rizky Hidayat (39), seorang petani yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari sawah, pemandangan ini terasa seperti napas baru.

“Alhamdulillah, sekarang air sudah mulai lancar. Tidak lagi kami harus pusing saat musim kemarau. Walaupun panas panjang, air tetap ada,” ujarnya sambil menunjuk persawahan yang siap dibajak usai panen bulan lalu.

Rizky masih ingat betul bagaimana beberapa tahun terakhir sawah-sawah di desanya sering mengalami kekeringan. Panen tidak menentu, bahkan terkadang gagal total, akibat saluran irigasi yang rusak parah.

Kini, berkat rehabilitasi irigasi oleh PT Hutama Karya (Persero), harapan itu kembali tumbuh. Tidak hanya memperbaiki saluran lama, saluran baru juga telah dibangun sehingga aliran air menjadi semakin lancar.

Perwakilan PT Hutama Karya bersama masyarakat meninjau saluran irigasi yang baru direhabilitasi di Gampong Meudhang Ghon, Kecamatan Indra Jaya, Aceh Jaya, Jumat (3/10/2025). Foto: Dok. Istimewa

Manfaat irigasi bukan hanya pada sawah yang kembali subur. Kehidupan sosial-ekonomi warga ikut terdampak. Hasil panen yang lebih pasti membuat orang tua bisa lebih tenang menyiapkan biaya sekolah anak. Sebagian keluarga mulai berani menabung untuk membeli pupuk dan bibit yang lebih baik.

“Kalau air sudah lancar, hati petani ikut lega,” kata Abdulrauf (42), Ketua Kelompok Tani Jaya Tani 2. Menurutnya, sejak saluran diperbaiki, semangat gotong royong warga juga meningkat. Ia yakin, ke depan petani bisa menanam dua kali setahun, bukan sekali seperti dulu. “Ini jelas sangat membantu ketahanan pangan daerah,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa irigasi ini bukan hanya bermanfaat bagi Meudhang Ghon, tetapi juga desa tetangga. “Saluran ini mengairi dua desa. Jadi bukan cuma satu gampong yang merasakan,”jelasnya.

Tantangan di Balik Pembangunan

Dari sisi pengerjaan, Bambang Arfandie, Project Manager Rehabilitasi Jaringan Irigasi Pada D.I./D.I.R. Kewenangan Daerah di Provinsi Aceh Hutama Karya, menjelaskan progres rehabilitasi sudah mencapai 953 persen dan ditargetkan selesai sepenuhnya pada Oktober ini.

Pekerjaan rehabilitasi dimulai sejak Juli 2025. Di Aceh Jaya sendiri, proyek ini menyasar tujuh titik daerah irigasi dengan luasan Optimasi Lahan (OPLAH)Oplah total 624,92 hektare.

“Ada tantangan, mulai dari medan geografis yang sulit, akses terbatas, hingga cuaca ekstrem sempat menjadi kendala. Mobilisasi alat berat juga harus dilakukan hati-hati agar tidak mengganggu aktivitas petani. Kami juga membangun shelter sementara untuk tenaga kerja. Tapi yang luar biasa, warga ikut membantu. Semangat gotong royong mereka membuat pekerjaan lebih ringan, Ini bukan hanya soal membangun saluran, tapi juga menjaga denyut pertanian warga,” kata Bambang.

Salah satu tenaga kerja lokal, Syamsuddin (32), mengaku bangga bisa terlibat. “Kami bekerja dengan semangat penuh, karena ini kebutuhan warga sendiri. Dari kita, untuk kita,” ujarnya.

Bupati Aceh Jaya, Safwandi, menilai proyek ini menjadi langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan daerah. Menurutnya, pertanian adalah nadi kehidupan masyarakat, dan selama ini keterbatasan infrastruktur membuat produksi rendah.

“Sebenarnya, sejak saya masih di DPR, saya sudah memperjuangkan irigasi ini. Alhamdulillah sekarang bisa terwujud. Meski masih 950 persen, manfaatnya sudah mulai terasa, kami berharap petani yang sebelumnya hanya bisa panen sekali, ke depan bisa dua kali setahun.” kata Safwandi saat ditemui di Kantor Bupati Aceh Jaya, Jumat (3/10/2025).

Bupati Aceh Jaya, Safwandi. Foto: Dok. Istimewa

Bupati juga berharap dukungan pemerintah pusat, masyarakat, dan PT Hutama Karya (Persero) menjadi faktor penting keberhasilan agar proyek berlanjut sehingga hasil panen meningkat, kesejahteraan petani terangkat, dan Aceh Jaya bisa menjadi salah satu lumbung pangan nasional.

Proyek rehabilitasi jaringan irigasi ini tidak hanya berlangsung di Aceh Jaya, tetapi mencakup 80 titik di 11 kabupaten/kota di Aceh dengan luas 12.507 hektare. PT Hutama Karya (Persero) dipercaya menggarap proyek strategis nasional ini melalui kontrak dari Kementerian PUPR.

Pekerjaan tersebut merupakan implementasi program Asta Cita ke-2 Pemerintahan Prabowo sebagaimana dituangkan dalam Instruksi Presiden No 2 Tahun 2025 Tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk mendukung swasembada pangan di Indonesia.

Targetnya, produktivitas pertanian meningkat hingga dua kali lipat, sejalan dengan misi Presiden Prabowo mewujudkan kemandirian pangan.