Deretan Makanan Haram di Kristen Advent: Babi, Udang, hingga Kopi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
27
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
video youtube embed

Sejumlah kursi tengah ditata menghadap ke depan altar Gereja Jakarta International Seventh-day Adventist Church (JISDAC). Gereja itu merupakan tempat ibadah milik Kristen Advent yang terletak di Jalan M.T. Haryono, Jakarta Selatan.

Kursi tersebut dipersiapkan untuk para jemaat yang akan melaksanakan ibadah Sabat (Sabtu). Sebuah kebaktian rutin bagi umat Gereja Advent.

Mendekati pukul 09.00 WIB–waktu dimulainya ibadah–kursi-kursi tersebut mulai ‘berpenghuni’. Para jemaat mulai memadati aula gereja, siap untuk melaksanakan ibadah.

Suasana saat kebaktian Gereja Advent. Foto: Aditya Adrian/kumparan

Ibadah doa yang dilaksanakan terbilang cukup lama, kurang lebih berdurasi 3-4 Jam. Ini merupakan pengalaman baru bagi kami. Karena umumnya, ibadah dalam agama Kristen Protestan dan Katolik berdurasi kurang lebih 1 jam. Namun rupanya tidak berlaku dalam Gereja Advent.

Usai kebaktian itu selesai, para jemaat tidak langsung beranjak pulang. Sebagian di antara mereka melanjutkan diskusi dan belajar agama. Ada juga yang berlatih paduan suara dengan menyanyikan lagu puji-pujian untuk Tuhan. Pemandangan tersebut kami saksikan hingga pukul 18.00 WIB.

“Jadi kalau hari Sabat itu kita memang benar-benar menyerahkan hari itu untuk Tuhan. Karena itulah artinya ‘kudus’. Seharian itu kita dedikasikan untuk Tuhan. Jadi enggak ada entertainment, enggak pergi kerja, kita enggak pergi jalan-jalan. Kita minimize waktu untuk melakukan hal-hal duniawi dan fokus ke hal-hal surgawi,” jelas Pastor Yoanes saat berbincang dengan kumparan, Sabtu (17/12).

"Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya."

Keluaran Bab 2 ayat 8-11

Kitab Suci Perjanjian Lama

Suasana saat kebaktian Gereja Advent. Foto: Aditya Adrian/kumparan

Mengenal Hari Sabat

Melansir situs churchofjesuschrist.org, kata Sabat berasal dari bahasa Ibrani yang artinya istirahat. Sebelum kebangkitan Yesus Kristus, hari Sabat memperingati hari istirahat Tuhan Allah setelah Dia menyelesaikan penciptaan.

Tujuan hari Sabat ialah untuk memberi suatu hari khusus dalam seminggu, untuk mengarahkan pikiran dan tindakan kepada Tuhan. Itu merupakan hari sakral untuk diluangkan dengan peribadatan dan kekhidmatan.

Sejak dulu, tradisi dari hari ketujuh ini telah dipelihara di beberapa bangsa di dunia. Berdasarkan catatan kuno, yang pertama kali menerapkan tradisi ini ialah bangsa Israel pada abad kedua.

Meski begitu, beberapa pemimpin Yahudi membuat sejumlah aturan yang tak perlu mengenai Sabat. Mereka memutuskan berapa jauh orang dapat berjalan, jenis simpul apa yang dapat diikat, dan sebagainya.

Haram-Halal

Ilustrasi Daging Babi Foto: Thinkstock

Seperti halnya agama Islam, Gereja Advent juga mengharamkan untuk memakan babi. Ya, keunikan Gereja Advent lainnya ialah memiliki ajaran makanan Haram dan Halal. Hal tersebut diwajibakan bagi seluruh jemaat Gereja Advent.

Ajaran haram dan halal ini tercermin dalam Kitab Imamat Bab 11. Di sana, disebutkan secara spesifik ciri-ciri makanan apa saja yang diharamakan dan yang boleh untuk dimakan.

Lalu TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun, kata-Nya kepada mereka: 'Katakanlah kepada orang Israel, begini: Inilah binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang berkaki empat yang ada di atas bumi: setiap binatang yang berkuku belah, yaitu yang kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan. Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu. Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu. Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu. Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.

Imamat Bab 11

Kitab Suci Perjanjian Lama

Suasana saat kebaktian Gereja Advent. Foto: Aditya Adrian/kumparan

Beda halnya dengan hewan laut. Gereja Advent hanya boleh memakan hewan laut yang bersirip dan bersisik. Sisanya dianggap sebagai makanan haram. Tak hanya itu, segala hal yang mengandung kafein pun juga masuk kategori haram.

Jika disimpulkan maka berikut di antaranya makanan yang masuk dalam kategori haram dalam Gereja Advent:

  • Babi

  • Unta

  • Kelinci

  • Udang

  • Belut

  • Kopi

  • Teh

Beda Kitab Suci Perjanjian Lama & Perjanjian Baru

Lalu, mengapa Katolik dan Kristen lainnya boleh memakan daging babi? Hal ini karena adanya perbedaan pedoman Kitab Suci. Gereja Advent berfokus pada Kitab Suci Perjanjian Lama.

Sementara itu, Kristen Protestan secara umum berpedoman pada Perjanjian Lama dan Baru. Sedangkan Katolik, berpedoman pada Kitab Suci Deuterokanonika, kitab Suci yang berisikan bagian-bagian tertentu dari kedua Kitab Suci tersebut. Tidak semuanya.

Melansir dari rubrikkristen.com, beda Perjanjian Lama dan Baru antara lain Perjanjian Lama berpedoman pada Hukum Taurat yang Tuhan berikan melalui Nabi Musa. Sedangkan Perjanjian Baru berpedoman pada teladan dan ajaran Yesus Kristus.

ilustrasi kitab suci Foto: Shutterstock

Pada Perjanjian Baru, tertulis bahwa Yesus Kristus menggenapi Hukum Turat. Sebuah hukum yang menjadi pedoman Perjanjian Lama.

"...sebab dengan mati-Nya sebagai manusia, Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,"

Efesus bab 2 ayat 15

Sehingga bagi kepercayaan yang tidak terfokus pada Perjanjian Lama, umumnya tidak menerapkan hukum Haram-Halal.

Dekat dengan Ajaran Islam

Warga bersalaman saat mengikuti acara silaturahim lintas agama dalam perayaan Idul Fitri 1443 Hijriah di Dusun Tekelan, Desa Batur, Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (2/5/2022). Foto: Aji Styawan/Antara Foto

Adanya hukum haram-halal dalam ajaran Gereja Advent memang secara sekilas mempunyai kemiripan dengan ajaran Islam. Hal tersebut menjadi pemantik kedekatan antara jemaat Gereja Advent dengan jemaat Islam. Itu dirasakan oleh Arief Timbul Parhusip. Salah satu jemaat di Gereja JISDAC.

“Kalau untuk yang teman-teman Muslim, mereka sampai bilang ‘lho kok kenapa haram? Kok kayak kita’ begitu. Hal begitu malah jadi suatu persahabatan yang lebih kental gitu. ‘Sama dong kita’, gitu kalau temen-temen muslim,” ujarnya sambil tertawa senyum.

“Misalnya ya, kita bisa bilang kalau teman-teman Muslim kan babi haram. Kami sampai udang, lele pun itu juga sama hukumnya dengan babi. Sama-sama haram. Mereka jadi curious. ‘oh iya? kenapa kenapa gitu’, tegas Arif.

Arief Timbul Parhusip, salah satu jemaat Gereja Advent Jakarta. Foto: Aditya Adrian/kumparan

Bukan tanpa alasan. Menurut Pastor Yoanes, adanya hukum haram-halal dalam Gereja Advent ialah karena para jemaat dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi Kudus

“Kalau saya lihat secara Advent dalam Alkitab, saya menyadari bahwa kita sebagai umat Tuhan itu dipanggil untuk menjadi Kudus. Arti Kudus secara kitabiah adalah disisihkan. Disisihkan dari orang-orang, sehingga cara kita makan, cara kita minum itu harus berbeda dengan orang-orang lain. Memang Kesehatan itu adalah alasan juga mengapa Tuhan memberikan kategori makanan haram dan halal. Tapi tujuan utama Ia memberikan kategori itu karena Tuhan ingin supaya umatnya menjadi orang-orang yang Kudus.” jelasnya.