Deretan Penyebab Padatnya KRL Green Line: Penumpang Melonjak, Keretanya Terbatas

Siapa di antara kamu yang merupakan pengguna KRL Jabodetabek lintas Green Line? Masyarakat yang tinggal di wilayah Tangerang dan sekitarnya pasti sudah akrab dengan jalur KRL ini. Sebab KRL lintas Green Line tersebut menghubungkan Stasiun Rangkasbitung (Lebak, Banten) melalui wilayah Tangerang, Tangerang Selatan, Jakarta Barat, hingga ke Stasiun Tanah Abang (Jakarta Pusat).
Moda transportasi KRL menjadi salah satu transum utama warga Tangerang untuk bisa beraktivitas di wilayah Ibu Kota Jakarta. Namun, banyak masyarakat yang mengeluhkan keberadaan KRL Green Line ini, mulai dari warga yang merasa terlalu lama menunggu kereta melintas hingga sering terjadinya penumpukan penumpang.
Apabila dilihat dari persentase kenaikan jumlah penumpang KRL berdasarkan tipe pelintasannya, pengguna KRL Green Line mengalami kenaikan hingga 79,03 persen selama periode 2022 hingga 2025.
Volume penumpang KRL Green Line menempati urutan ke-2 dengan persentase kenaikan tertinggi. Posisi pertama dengan kenaikan volume penumpang tertinggi ada pada KRL Pink Line yang kenaikannya dari 2022 hingga 2025 mencapai 120,83 persen. KRL ini menghubungkan Stasiun Tanjung Priok sampai Stasiun Jakarta Kota.
Meski begitu, apabila ditotal berdasarkan jumlah penumpang, KRL Red Line memiliki jumlah penumpang paling banyak, mencapai 155 juta pada 2025. Volume kenaikan penumpang dari 2022 hingga 2025 mencapai 51,89 persen. KRL ini menghubungkan Stasiun Bogor dan Nambo hingga Stasiun Jakarta Kota.
Kenaikan jumlah penumpang ini menjadi masalah ketika tidak diimbangi dengan jumlah rangkaian dan gerbong yang memadai. Sehingga, banyak masyarakat terlebih lagi di jalur Green Line yang mengeluhkan penumpukan penumpang hingga kereta terlalu lama.
Jika dilihat berdasarkan jumlah rangkaian (trainset) dan gerbong, KRL Green Line hanya memiliki 19 rangkaian, dengan satu rangkaian yang terdiri dari 10 gerbong. Ini terbilang cukup timpang dengan KRL Red Line dan Blue Line.
Sebab KRL Red Line memiliki jumlah trainset terbanyak, mencapai 37 rangkaian, dengan satu rangkaian yang bisa memiliki 12 gerbong.
Kemudian, disusul oleh KRL Blue Line yang memiliki rangkaian terbanyak kedua. Trainset KRL Blue Line ada sebanyak 26 rangkaian, dengan satu rangkaian yang terdiri dari hingga 12 gerbong.
Trainset adalah satu rangkaian kereta yang terdiri dari beberapa kereta yang dirangkai dan beroperasi bersama. Dalam konteks ini, satu trainset dapat terdiri dari 8, 10, atau 12 gerbong kereta, tergantung pada konfigurasi dan penugasan operasionalnya.
Meski begitu, KAI Commuter memang sudah menargetkan rangkaian kereta rel listrik (KRL) dengan formasi 12 gerbong atau SF12 dapat beroperasi di lintas Green Line paling lambat semester I 2027. Pengoperasian rangkaian yang lebih panjang ini disiapkan untuk menambah kapasitas angkut KRL di lintas Rangkasbitung yang selama ini menghadapi kepadatan penumpang.
"Yang sekarang ini kita siapkan KAI dengan KCI terkait dengan prioritasnya adalah ke Green Line. Jadi yang prioritas adalah kita meng-upgrade gardu, sama menambah beberapa gardu baru sehingga bisa dijalankan SF12," kata Dirut KAI Commuter Mochamad Purnomosidi usai Press Conference Commuter Run 2026 di Commuterline Hall, Stasiun Juanda, Senin (24/8).
Keberadaan jumlah rangkaian (trainset) dan gerbong KRL Jabodetabek perlu menjadi perhatian yang serius. Terlebih lagi, jumlah penumpang di KRL sendiri terus mengalami lonjakan dari tahun ke tahun. Pada 2025, misalnya, KAI menyebut jumlah penumpang KRL Jabodetabek tembus 349,31 juta.
Tahun sebelumnya, 2024, jumlah penumpang KRL Jabodetabek tercatat 328,15 juta dan pada 2023 jumlah penumpang mencapai 290,89 juta.
Jika trainset dan gerbong cenderung stagnan dan tidak ada penambahan berarti, dikhawatirkan lonjakan jumlah penumpang KRL Jabodetabek tak bisa teratasi dengan efektif.
Jumlah Penumpang di Green Line Terus Meningkat.
Di tengah jumlah trainset dan gerbong yang tak bertambah, KAI memproyeksikan penumpang KRL akan terus bertambah hingga 2040. KAI melihat peningkatan jumlah penumpang KRL Green Line yang cukup tajam pada 2040, yakni mencapai 657 ribu orang per hari.
Pada 2025, jumlah penumpang KRL Green Line ada di angka 234 ribu per hari. Artinya, bakal ada kenaikan jumlah penumpang hingga 180,77 persen.
Sementara itu, proyeksi jumlah penumpang KRL Red Line pada 2040 ada di angka 694 ribu per hari. Adapun jumpah penumpang harian pada 2025 mencapai 469 ribu. Artinya, peningkatannya mencapai 47,97 persen. Adapun di Blue Line, proyeksi peningkatan penumpang harian mencapai 144,79 persen
Perumahan Sekitar Green Line Berorientasi ke Tol
Menurut Ketua Umum Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), Rahman Andra, penumpukan penumpang yang kerap terjadi di stasiun tertentu pada KRL Green Line disebabkan oleh permukiman yang lokasinya tidak dibangun berorientasi dekat dengan rel kereta.
"Problemnya sebagian besar stasiun kita ini kan stasiun existing yang sudah ada dari masa lalu, gitu ya. Sementara perkembangan permukiman di daerah sekitar itu dulu karena tidak berorientasi pada rel, jadi perkembangan (permukiman) yang banyak justru jauh dari rel gitu ya. Jauh dari stasiun lah," kata Rahman kepada kumparan, Sabtu (10/10).
Menurut Rahman, investasi rel untuk keperluan jalur KRL kemungkinan beban biaya yang dikeluarkan akan lebih kecil dibandingkan dengan pembangunan jalan tol.
"Tambah rel (untuk KRL) baru sebetulnya investasinya akan jauh lebih kecil. Akan tetapi, investasinya lebih kecil atau lebih besar itu sebetulnya relatif, ya. Dibandingkan dengan membangun jalan tol, kita memerlukan lahan yang sangat lebar. Sementara, membangun dua jalur rel kereta api itu cuma perlu lahan yang sangat kecil, ya. Sebetulnya, dari investasi awal secara teoritis lahan yang dibebaskan mestinya jauh lebih kecil gitu," tegasnya.
Sementara itu, menurut pengamat tata kota, Yayat Supriatna, double-track pada KRL Green Line ternyata berimplikasi pada pertumbuhan penduduk di wilayah sekitar Green Line. Padahal Yayat menyebut wilayah Tangerang hingga Serpong, sebelumnya dibangun dengan mengutamakan jalan tol sebagai penggerak perkotaannya daripada jalur KRL.
"Semenjak Stasiun Rangkasbitung dibuat double-double track itulah, berkembangnya cepat gitu ya. Jadi, bisa dikatakan ada pengaruhnya juga dari format perubahan itu. Karena terus terang aja kan wilayah Tangerang atau wilayah-wilayah Serpong itu dulunya berorientasi pada jalan tol. Akan tetapi, seiring dengan pertumbuhan kawasan perumahan yang makin pesat untuk menengah bawah, itu artinya potensi lahannya masih besar, pasar perumahannya besar," jelas Yayat kepada kumparan, Minggu (10/10).
Green Line Minim Transportasi Umum Alternatif
Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menegaskan bahwa transum alternatif yang paling mungkin dikembangkan dalam waktu dekat di lintasan Green Line adalah Transjabodetabek. Sementara untuk jangka panjang ada proyek MRT Timur-Barat.
"(MRT) Timur-Barat sudah nambah kapasitasnya, tapi kan itu butuh paling tidak Timur-Barat tuh, selesai 5 tahun lagi kok, masih lama. Paling cepat ya Transjabodetabek," terang Djoko kepada kumparan, Sabtu (10/10).
Minimnya transum alternatif di lintasan Green Line memunculkan pilihan baru, yakni layanan shuttle bus yang dikelola pihak swasta.
Djoko menyoroti soal demografi masyarakat di Tangerang Selatan (Tangsel). Baginya, terdapat segelintir warga menengah ke atas di Tangsel yang memilih menggunakan angkutan bus milik swasta daripada harus berjibaku dengan keramaian Green Line.
"Kalau (warga) rumah-rumah yang mewah, yang di atas Rp 2 miliar, itu mereka enggak mau menggunakan ini (KRL), kereta tuh enggak suka dia. Tapi dia bus sendiri lah," katanya.
Walaupun ada pilihan bus shuttle milik swasta, Djoko menyatakan bahwa itu tak dapat serta-merta menyelesaikan persoalan Green Line. Ia turut menyoroti absennya layanan transum ke arah barat.
"JR Connexion-nya ada, tapi enggak banyak. Banyak itu diambil dari arah selatan sama timur. Nampaknya barat tuh terlupakan," ungkapnya.
Untuk menyelesaikan persoalan ini, Djoko mengimbau agar pemerintah daerah memberikan perhatian lebih terhadap layanan transportasi masyarakat, termasuk transum feeder dari stasiun ke permukiman.
"Ya, mayoritas (masyarakat) sih senang kereta. Kan lebih cepat kereta sebetulnya. Cuma begitu sampai di stasiun enggak ada feeder-nya menuju perumahan, biaya mereka enggak mahal? Kasihan, kan? Perumahan-perumahan enggak dihubungkan dengan feeder," tambahnya.
Walaupun ia mengakui bahwa kebanyakan masyarakat lebih suka naik kereta, ia menyebut bahwa layanan bus, baik Transjabodetabek maupun bus shuttle swasta yang masuk tol, juga bisa jadi opsi untuk masyarakat.
Satu Meter Persegi KRL Green Line Diisi 12 Orang
Pada pertemuan RDP dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9) lalu, Dirut KAI, Bobby Rasyidin, sempat menyebut soal ruang di gerbong. Menurutnya, dalam ukuran 1 meter persegi di dalam gerbong, sudah diisi sekitar 8 orang. Jika terdapat ruang di gerbong dengan ukuran 60 meter persegi, maka total penumpang bisa mencapai 400 sampai 480-an orang.
Bahkan, ia juga menyebut okupansi KRL Green Line dari Stasiun Rangkasbitung sendiri sudah mencapai 160 persen. Artinya, dalam 1 meter persegi, ruang di gerbong KRL Green Line bisa diisi oleh 12 orang.
"Yang Rangkasbitung itu okupansinya sekarang 160 persen, yang ke Bekasi itu 120 persen. Kemudian, yang Bogor itu 130%. Jadi kalau standarnya itu tadi 1:6 (6 orang per meter persegi). Nah, Bogor dan Bekasi itu masih sekitar 1:7 (7 orang per meter persegi). Sementara, kalau yang rangkasbitung ini 1:12 (12 orang per meter persegi)," kata Bobby di RPD DPR RI.
Selain menambahkan prasarana, KAI juga menargetkan untuk memangkas waktu headway agar dapat memecah penumpukan penumpang KRL Green Line.
"Nah, itu karena headway kita masih 10 sampai 15 menit, karena persinyalannya masih persinyalan zaman baheula. Jadi, sinyalnya tertutup. Nah, ini rencana program yang kami tingkatkan. Jadi persinyalannya itu nanti kita bikin terbuka, blok terbuka. Jadi headway-nya itu nanti bisa tetap sampai 5 menit. Listriknya (watt) kita tambah," jelas Bobby.
Bobby menargetkan prasarana Green Line beres pada 2028. "Insya Allah, prasarana kita bereskan sampai 2028 ya. Terutama yang di rangkas Green Line, dan kita penambahan juga bisa disetujui jadi kita tambal dulu," tambahnya.
