Dewan Pers Kecam Israel yang Tangkap Jurnalis RI, Minta Pemerintah Bebaskan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jurnalis Republika yang juga partisipan Global Sumud Flotilla Thoudy Badai dan Bambang Noroyono. Foto: Republika
zoom-in-whitePerbesar
Jurnalis Republika yang juga partisipan Global Sumud Flotilla Thoudy Badai dan Bambang Noroyono. Foto: Republika

Dewan Pers mengecam militer Israel yang mencegat dan menangkap rombongan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) di perairan Siprus, Mediterania Timur menuju Gaza.

Dalam rombongan tersebut, terdapat jurnalis Indonesia, yakni Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai (Ody) dari Republika serta Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo.

Dewan Pers menyatakan telah berkomunikasi dengan pemimpin redaksi dari dua media tersebut untuk mengetahui perkembangannya.

“Dewan Pers berkomunikasi dengan Pemimpin Redaksi dari Republika dan Tempo TV untuk mengetahui perkembangan peristiwa ini. Kedua media tersebut mendapatkan informasi yang terkonfirmasi soal penangkapan terhadap jurnalisnya pada Senin malam waktu Jakarta,” dalam pernyataan tertulis yang dikeluarkan Dewan Pers, Selasa (19/5).

Jurnalis Republika yang juga partisipan Global Sumud Flotilla Bambang Noroyono bersiap menuju Gaza. Foto: Republika

Dewan Pers mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat dan menangkap jurnalis Indonesia, termasuk warga sipil di dalam rombongan tersebut.

“Mengecam tindakan militer Israel yang melakukan pencegatan dan penangkapan terhadap jurnalis Indonesia bersama awak sipil lainnya di perairan internasional saat dalam perjalanan menuju Gaza, Palestina,” bunyi poin pertama sikap Dewan Pers.

Selain itu, Dewan Pers meminta pemerintah Indonesia mengupayakan jalur diplomatik untuk membebaskan hingga memulangkan seluruh WNI yang ditangkap.

“Meminta pemerintah Indonesia menggunakan jalur diplomatiknya untuk membebaskan wartawan dan warga sipil Indonesia lainnya yang ditangkap militer Israel. Termasuk membantu pemulangannya ke Indonesia,” bunyi poin kedua sikap Dewan Pers.

Berdasarkan informasi Dewan Pers, terdapat sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam rombongan ini yang bernama Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).

Adapun armada GAF berangkat dari Kota Marmaris, Turki, Kamis (14/5) bersama 54 kapal dengan awak yang berasal dari sekitar 70 negara. Kapal ini membawa bantuan makanan dan obat-obatan.

“Armada ini memasuki perairan internasional dan berada sekitar 310 mil laut dari Gaza saat ditangkap militer Israel,” ucap narasi Dewan Pers.

Kapal-kapal misi perdamaian Global Sumud Flotilla dicegat tentara Israel di perairan internasional saat membawa bantuan ke Gaza pada Senin (18/5). Sejumlah WNI pun kini diduga diculik para tentara itu.

Berikut daftar para WNI yang diduga diculik, didapatkan dari Global Sumud Flotilla:

  • Thoudy Badai (Jurnalis Republika) - Kapal Ozgurluk

  • Rahendro Herubowo - Kapal Ozgurluk

  • Bambang Noroyono (Jurnalis Republika) - Kapal Boralize

  • Andre Prasetyo Nugroho (Jurnalis TV Tempo) - Kapal Ozgurluk

  • Andi Angga (Aktivis) - Kapal Josef

Selain itu, ada sejumlah WNI yang masih berlayar. Mereka adalah:

  • Ronggo Wirasnu (Aktivis) - Kapal Zefiro

  • Herman Budianto (Aktivis) - Kapal Zefiro

  • As'ad Aras (Aktivis) - Kapal Kasri Sadabat

  • Hendro Prasetyo (Aktivis) - Kapal Kasri Sadabat

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia mengecam militer Israel, yang mencegat rombongan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) di perairan Siprus, Mediterania Timur.