Di Balik Bank Sampah Srengseng dan Upaya Membumikan Pilah Sampah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi Bank Sampah Bumi Lestari di Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat, dengan volume sampah yang tersisa relatif sedikit usai proses pengangkutan beberapa hari lalu, Jumat (15/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Bank Sampah Bumi Lestari di Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat, dengan volume sampah yang tersisa relatif sedikit usai proses pengangkutan beberapa hari lalu, Jumat (15/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

One man's trash, is another man's treasure, ungkapan ini seolah dihidupi oleh Bank Sampah Bumi Lestari di Srengseng, Jakarta Barat. Mereka melihat sampah sebagai sebuah peluang rezeki.

Terutama jelang 1 Agustus 2026, saat berlakunya keputusan Kementerian Lingkungan Hidup yang menetapkan bahwa Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang hanya menerima sampah residu, yakni sampah yang tak mampu diolah atau didaur ulang kembali.

Sehingga memilah sampah dari rumah lalu membawanya ke bank sampah adalah langkah yang paling tepat; mengurangi sampah lingkungan lalu mendapat keuntungan.

Di Bank Sampah Bumi Lestari ini, sampah anorganik seperti kardus, kertas, botol plastik, hingga wadah bekas rumah tangga dipilah dan dikumpulkan sebelum dijual kembali ke pengepul maupun Bank Sampah Induk untuk didaur ulang.

Ketua Bank Sampah Bumi Lestari, Sukini (59), mengatakan, bank sampah yang berdiri sejak 2015 itu mampu mengumpulkan ratusan kilogram hingga lebih dari satu ton sampah setiap bulan.

Kondisi Bank Sampah Bumi Lestari di Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat, dengan volume sampah yang tersisa relatif sedikit usai proses pengangkutan beberapa hari lalu, Jumat (15/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

“Globalnya kemarin 923 kilo. Bulan sebelumnya malah sampai 1.300 kilogram. Enggak pasti, kadang ada penurunan, ada kenaikan,” kata Sukini saat ditemui kumparan, Jumat (15/5).

Menurutnya, sebagian besar sampah yang masuk merupakan sampah anorganik yang dipilah langsung oleh warga dari rumah masing-masing. Sistem tersebut memungkinkan volume sampah yang sebelumnya berpotensi dibuang ke TPST dapat dikurangi dari sumbernya.

Ketua RW 07, Suprapto (69), mengatakan, setiap agenda penimbangan bank sampah mampu menyerap sedikitnya tiga hingga empat truk sampah warga.

“Setiap penimbangan, paling minim tiga truk, kadang sampai empat truk. Itu sangat membantu sekali,” ujar Suprapto.

Ia menilai keberadaan bank sampah menjadi salah satu solusi nyata untuk menahan laju sampah menuju Bantar Gebang, terutama ketika pemerintah mulai mendorong agar yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir hanya sampah residu.

Kondisi Bank Sampah Bumi Lestari di Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat, dengan volume sampah yang tersisa relatif sedikit usai proses pengangkutan beberapa hari lalu, Jumat (15/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Warga: Alhamdulilah Bisa Beli Beras dari Uang Sampah

Saat ini, Bank Sampah Bumi Lestari memiliki sekitar 80 nasabah aktif. Warga menyetorkan sampah terpilah, lalu hasil penjualannya dicatat sebagai tabungan yang dapat dicairkan sewaktu-waktu.

Selain mengurangi sampah, skema ini juga memberi manfaat ekonomi bagi sebagian warga.

“Ada warga yang bilang, setelah adanya bank sampah bisa beli beras, beli sayuran pakai uang sampah,” kata Sukini.

Meski demikian, pengelolaan sampah di tingkat komunitas belum sepenuhnya tanpa hambatan.

Proses pemilahan sampah di Bank Sampah Bumi Lestari, Kelurahan Srengseng, Jakarta Barat. Foto: Dok. Bank Sampah Bumi Lestari

Bank Sampah Bumi Lestari hingga kini baru berfokus pada sampah anorganik. Upaya mengolah sampah organik melalui komposting dan budidaya maggot sempat dilakukan, tetapi belum berlanjut karena keterbatasan tenaga, fasilitas, dan pendampingan teknis.

“Pernah budidaya maggot juga, tapi enggak bisa berlanjut. Harus fokus dan perlu kandang khusus,” ujar Sukini.

Tantangan lain datang dari keberlanjutan pengelolaan. Mayoritas pengurus bank sampah saat ini merupakan warga lanjut usia yang bekerja secara sukarela.

Ia berharap ada dukungan lebih konkret, mulai dari insentif bagi pengurus hingga bantuan alat operasional sederhana seperti karung, sarung tangan, dan alat pemilah.

Di tengah upaya pemerintah menekan timbulan sampah yang masuk ke Bantar Gebang, keberadaan bank sampah seperti di Srengseng menunjukkan bahwa pengurangan sampah dari rumah tangga masih menjadi salah satu langkah paling mendasar, sekaligus paling menentukan.