Di Lapas Nusakambangan, Harapan Para Narapidana Tumbuh dari Tanah dan Kolam

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah petugas dengan menggunakan sebo, melakukan penjagaan di Blok B Lapas Kelas II-A Karanganyar, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jateng, Kamis (22/8). Foto: ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah petugas dengan menggunakan sebo, melakukan penjagaan di Blok B Lapas Kelas II-A Karanganyar, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jateng, Kamis (22/8). Foto: ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

Jalan aspal hitam mulus membentang mengelilingi Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Dari dermaga tempat kapal bersandar hingga kawasan tambak udang vaname di tepi pantai, akses jalan kini terlihat tertata.

Saat menyusuri pulau menggunakan bus khusus, hamparan laut biru terlihat menyatu dengan langit. Di sepanjang perjalanan, tampak berbagai lembaga pemasyarakatan (lapas) dengan karakter berbeda-beda.

Sebagian lapas berbentuk bangunan tertutup yang dikelilingi kawat berduri dan dijaga sangat ketat. Namun ada pula lapas yang menyerupai kompleks rumah sederhana. Di beberapa lokasi, narapidana terlihat beraktivitas di luar lapas sambil bekerja di area budidaya dan pelatihan kerja.

Keberadaan para narapidana di luar lapas itu berkaitan dengan sistem pembinaan berdasarkan tingkat risiko dan keamanan yang diterapkan di Nusakambangan.

Pulau ini memiliki empat kategori lapas. Dua kategori pertama diperuntukkan bagi narapidana berisiko tinggi.

Kategori pertama adalah Super Maximum Security yang terdiri dari Lapas Kelas I Batu, Lapas Kelas IIA Karang Anyar, dan Lapas Kelas IIA Pasir Putih. Pada kategori ini, narapidana ditempatkan seorang diri dalam sel dan dipantau melalui CCTV.

Sejumlah petugas dengan menggunakan sebo, melakukan penjagaan di Lapas Kelas II-A Karanganyar, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jateng, Kamis (22/8). Foto: ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

Berikutnya adalah kategori Maximum Security yang terdiri dari Lapas Kelas IIA Besi, Lapas Kelas IIA Gladakan, Lapas Kelas IIA Ngaseman, dan Lapas Kelas IIA Narkotika. Pengamanan tetap sangat ketat, tetapi satu sel dapat dihuni beberapa narapidana.

Selanjutnya terdapat lapas kategori Medium Security yakni Lapas Kelas IIA Kembang Kuning, Lapas Kelas IIA Permisan, dan Lapas Kelas IIA Kumbang. Pada kategori ini, narapidana mulai dilibatkan dalam berbagai kegiatan budidaya di luar lapas dan kembali ke lapas setelah aktivitas selesai.

Kategori terakhir adalah Minimum Security, yakni Lapas Kelas IIB Nirbaya dan Lapas Kelas IIB Terbuka. Narapidana yang berada pada tahap ini sudah mendekati masa integrasi dan memiliki keleluasaan lebih besar dalam mengikuti kegiatan kerja.

“Lapas minimum itu untuk yang memang sudah asimilasi setengah dari masa pidana. Mereka sudah bekerja persiapan untuk integrasi maupun bebas,” ujar Kepala Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Batu Nusakambangan, Aryono, Sabtu (20/6).

Suasana kandang kambing di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (20/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Dari Tambak Udang hingga Konveksi

Nusakambangan selama ini identik dengan penjara berpengamanan ketat. Namun di balik citra tersebut, Nusakambangan kini juga menjadi pusat berbagai kegiatan budidaya yang melibatkan para narapidana.

Salah satu yang terbesar adalah tambak udang vaname seluas 7,5 hektare dengan 20 kolam. Sebanyak 16 narapidana dari Lapas Permisan dilibatkan dalam pengelolaannya.

“(Narapidana) yang sudah mendekati hari-hari mereka bebas. Mungkin itu kan bisa menjadi bekal mereka gitu. Setelah keluar dari sini sudah punya keterampilan nih, kita udah bisa ngasih pakan udang, udah bisa ngasih obat-obatan, dan yang paling penting udah bisa ini, kotoran udang itu seperti apa mereka siphon sendiri,” kata Penanggung Jawab Tambak Bentar Panjang, Ahmad Kofi Asalaf.

Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto dan Menteri Imipas, Agus Andrianto saat meninjau budidaya udang vaname oleh narapidana di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (20/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Di kawasan lain, tepat di seberang Lapas Kembang Kuning, terdapat lahan pertanian yang membudidayakan semangka, jamur, anggur, dan anggrek. Terdapat pula peternakan kambing dengan populasi sekitar 180 ekor.

“Ada sekitar kurang lebih seratusan warga binaan yang terlibat,” kata Kalapas Kembang Kuning Nusakambangan, Winarso.

Suasana kebun anggur di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (20/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Selain sektor pertanian dan peternakan, terdapat pula lokakarya pengolahan limbah pembakaran batu bara atau fly ash dan bottom ash (FABA) menjadi paving block yang digunakan untuk kebutuhan pembangunan di Nusakambangan.

Sebanyak 20 narapidana dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

“Ada 20. Itu setiap hari, kecuali hari Minggu ya. Libur,” kata Kalapas Wahyudi.

“Ada dalam satu mesin ini ada 10 orang, dua orang bagian itu pengayakan, di mixer empat orang, conveyor dua orang, di mesin cetak dua orang,” imbuhnya.

Para narapidana di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah saat memanen udang vaname, Sabtu (20/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Kegiatan lain yang cukup besar adalah konveksi pakaian di Lapas Nirbaya yang melibatkan sekitar 175 narapidana. Mereka memproduksi keset, kaus, hingga seragam warga binaan.

“Kita produksi yang di sini baju kaus seperti ini, baju seragam warga binaan,” ujar Kalapas Nirbaya, Helmi Nacih Saida.

Suasana produksi pakaian di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (20/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Nusakambangan juga memiliki budidaya sidat dengan sekitar 740 kolam yang dikelola 60 narapidana.

Selain itu, terdapat unit pengolahan pupuk organik berbahan dasar kotoran ayam, kambing, sapi, hingga kelelawar. Sebanyak 10 narapidana terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Ini kan kerja sama juga ada PKS (perjanjian kerja sama) dengan Unsoed, ada itu (untuk) hasil uji labnya juga. Terus kami juga bekerja sama dengan Kementerian Pertanian. Mereka rombongan dari penyuluh-penyuluh (untuk narapidana),” jelas Aryono.

Dari Pulau Penjara Menjadi Pulau Produktif

Beragam program budidaya tersebut membuat Nusakambangan perlahan berubah wajah. Lahan-lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini menjadi sarana pembinaan sekaligus pemberdayaan narapidana menjelang kembali ke masyarakat.

Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto dan Menteri Imipas, Agus Andrianto saat meninjau peternakan ayam petelur di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (20/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Perubahan itu bahkan mengubah kesan Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau biasa disapa Titiek, saat mengunjungi berbagai lokasi budidaya di Nusakambangan.

“Pak Menteri (Agus Andrianto) ini kreatif sekali dari Nusakambangan yang kita dengar selalu serem, kita bayangannya Alcatraz, ternyata setelah ke sini so friendly dan bisa menghasilkan begitu banyak produk-produk yang bermanfaat untuk kita semuanya,” tutur Titiek usai kunjungan di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (20/6).