Di Rapat DPR, Raja Juli Klaim Angka Deforestasi Hutan Berkurang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Kehutanan Indonesia, Raja Juli Antara dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Kamis (4/12/2025). Foto: YouTube/ TVR Parlemen
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kehutanan Indonesia, Raja Juli Antara dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Kamis (4/12/2025). Foto: YouTube/ TVR Parlemen

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan angka deforestasi hutan berkurang pada tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Hal itu diungkapkan Raja Juli saat hadiri dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR pada Kamis (4/12). Dalam rapat ini, dibahas juga terkait bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

“Kondisi deforestasi hutan kita. Pada 2025, deforestasi Indonesia hingga bulan September, saya tegaskan sampai bulan September, karena kami akan ukur kembali di akhir Desember, deforestasi Indonesia hingga bulan September menurun sebesar 49.700 hektare jika dibandingkan tahun 2024. Atau menurun 23,01%,” kata Raja Juli.

Data penurunan deforestasi hutan yang dipaparkan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di rapat kerja bersama Komisi IV DPR pada Kamis (4/12/2025). Foto: Youtube/TVR PARLEMEN

Ia mengatakan, angka penurunan deforestasi hutan itu juga termasuk 3 provinsi yang terdampak banjir dan longsor yakni Aceh, Sumbar, dan Sumut.

“Di Aceh menurun sebesar 10,04%. Di Sumut menurun sampai 13,98%, dan di Sumbar turun 14% jika dibandingkan dengan 2024,” ujarnya.

Data penurunan deforestasi hutan yang dipaparkan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di rapat kerja bersama Komisi IV DPR pada Kamis (4/12/2025). Foto: Youtube/TVR PARLEMEN

Sementara itu, ia mengungkapkan parahnya bencana banjir yang terjadi itu disebabkan oleh tiga faktor mulai dari cuaca hingga daerah aliran sungai (DAS) yang rusak.

“Adanya siklus tropis senyar yang membuat cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi,” tuturnya.

“Namun, juga ada karena bentuk geomorfologi DAS (Daerah Aliran Sungai), serta yang ketiga adalah tentu karena ada kerusakan pada daerah tangkapan air atau DTA,” ucap dia.