Diam-Diam Dibooster (1)
·waktu baca 2 menit
Tak ada orang yang tak ingin selamat. Masalahnya, bagaimana bila sejumlah orang selamat sementara yang lain tidak? Persis seperti inilah pusat perdebatan soal vaksin dosis ketiga COVID-19—tak hanya di Indonesia, tapi di dunia.
Persoalan ini, menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, menyangkut etik. Secara medis, vaksin dosis ketiga atau booster memang dapat menaikkan antibodi seseorang. Namun secara etis, itu sama sekali tak pantas karena hingga saat ini pemberian vaksin dosis pertama dan kedua pun belum merata di semua daerah di Indonesia.
Satu-satunya kalangan yang pantas mendapatkan booster, tegas Kementerian Kesehatan, adalah tenaga kesehatan yang setiap hari berisiko paling tinggi terpapar COVID-19. Merekalah yang membutuhkan perlindungan ekstra.
Booster is clinically right, but ethically wrong … protecting ourselves while other people die.
– Menkes Budi Gunadi Sadikin
Sejauh ini, baru 57,8 persen dari total nakes di Indonesia yang menerima vaksin dosis penguat. Sementara booster diam-diam disuntikkan kepada orang-orang di luar tenaga kesehatan.
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Siapa saja para penerima booster non-nakes itu? Dari mana mereka mendapat tawaran booster? Dan mengapa kebocoran vaksin booster bisa terjadi? Pihak mana saja yang mungkin terlibat di baliknya?
Simak jawabannya dalam Liputan Khusus “Keblinger Vaksin Booster” hanya di kumparan+. Langganan sekarang juga.

