Diam-diam Harga Garam di Pasar Naik

Minimnya stok garam di pasaran membuat harga garam melonjak. Misalnya yang terjadi di pasar tradisional Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Para pedagang mengaku harga jual garam dapur rata-rata naik Rp 1.000/bungkus dengan kemasan isi 250 gram. Menurut salah satu pedagang, bernama Mahdi, kenaikan harga garam dapur mulai terjadi sejak seminggu setelah Lebaran.
“Awalnya itu kerasa sejak ya seminggu setelah Lebaran, tapi waktu itu masih enggak begitu tinggi. Tapi sekarang paling banyak naik mentok Rp 1.000/bungkus,” ujar Mahdi kepada kumparan (kumparan.com), Selasa (25/7).
Mahdi menjelaskan sebelum ada kenaikan harga, garam dapur per bungkus dengan kemasan isi 250 gram dijual seharga Rp 2.000 hingga Rp 2.500. Harga tergantung dari mereknya. Namun karena adanya kenaikan harga di tingkat sales, Mahdi menjual garam dapur seharga Rp 3.000 hingga Rp 3.500/bungkus dengan kemasan isi 250 gram.

Menurut mahdi, biasanya sales menjual garam dapur kepada para pedagang dalam ukuran per pak dengan isi 20 bungkus ukuran 250 gram seharga Rp 20.000 hingga Rp 25.000. Setelah ada kenaikaan harganya menjadi Rp 40.000 hingga Rp 50.000.
“Naiknya itu sekarang dua kali lipat yang dibeli pedagang, jadi Rp 40.000 sampai Rp 50.000, mau enggak mau kita jadi ngejualnya mahal di konsumen,” imbuh Mahdi.
Memperdalam pendapat Mahdi soal kenaikan harga garam dapur, kumparan (kumparan.com) menelusuri pedagang lainnya, di Pasar Minggu. Salah satu pedagang bernama, Kiki, mengakui jika kenaikan harga garam dapur saat ini mencapai Rp 1.000/bungkus dengan kemasan isi 250 gram.
“Karena lagi naik, karena stoknya sedikit ya mau enggak mau pedagang jadi naikin harga, sama seperti yang lain naik Rp 1.000/bungkus dari yang semula Rp 2.000 jadi Rp 3.000, yang Rp 2.500, ya paling naiknya Rp 500, tergantung mereknya dan naiknya paling tinggi Rp 1.000,” jelas Kiki.

Kiki mengatakan bila kenaikan harga tersebut tak terlalu berdampak bagi dirinya. Pasalnya permintaan garam dapur di pasaran, saat ini relatif stabil.
“Mahal gini ya kita (pedagang) yang rugi, soalnya kita beli mahal, jual mahal, tapi saat ini konsumennya dikit, apalagi ibu-ibu rumah tangga beli hanya per satuan bungkus 250 gram. Beli satu beli dua, kan garam dapur biasanya cuma untuk penyedap saja,” pungkas Kiki.
