Dicibir karena Sama-sama Disabilitas, Pasutri di Kudus Terus Berjuang demi Anak
ยทwaktu baca 4 menit

Menjalani kehidupan dalam keterbatasan menjadi keseharian Khuzaeni (47) dan Saidatun (42), pasangan suami istri disabilitas di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Namun, keduanya tak pernah menyerah.
Mereka bangkit menjalani hidup dengan menawarkan jasa potong rambut dan membuka warung gorengan. Khuzaeni menawarkan jasa potong rambut, sedangkan Saidatun berjualan gorengan, sosis, dan es.
Pasutri disabilitas itu berdomisili di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo. Keduanya sama-sama mengalami polio hingga kaki kanan Khuzaeni dan istrinya tak berfungsi normal.
"Kami berdua kena polio. Kaki kanan saya dan kaki kanan istri kurang berfungsi normal. Dahulu saat umur saya lima tahun mengalami demam, kemudian disuntik malah kaki kanan saya seperti ini," katanya, Rabu (29/4).
Kaki kanannya yang tak berfungsi normal mengharuskannya menggunakan alat bantu jalan atau kruk. Hal itu dilakukannya sejak kelas 4 Sekolah Dasar (SD) hingga sekarang.
Pada tahun 1990 saat masih berdomisili di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, ia mengambil kursus menjahit. Tentu, ia berharap dapat menghasilkan uang dengan bekerja sebagai penjahit.
Namun, seiring berjalannya waktu, kaki kanannya kesulitan apabila harus menggerakkan mesin jahit dalam durasi yang lama. Di sisi lain, target pekerjaan menjahit kala itu begitu banyak.
"Kaki kanan saya tidak mampu untuk mengoperasikan mesin jahit dalam waktu yang lama. Orderan jahit yang harus saya penuhi juga banyak. Akhirnya saya berhenti," sambungnya.
Lalu, ia mengambil pelatihan potong rambut yang digelar oleh Dinas Sosial Pekalongan. Pelatihan potong rambut dilakoninya selama tiga bulan.
Pada tahun 2008, dirinya pindah ke Kabupaten Kudus. Keahlian potong rambut itu coba dibawa ke Kota Kretek. Ia membuka usaha jasa potong rambut di kediamannya di Kabupaten Kudus.
Ia memilih membuka jasa potong rambut karena lebih ringan jika dibandingkan dengan menjahit. Selain itu, ia memprediksi jasa potong rambut pasti laku karena dibutuhkan masyarakat.
Jasa potong rambutnya buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 22.00 WIB. Biaya potong rambutnya terjangkau, yakni hanya Rp 10 ribu. Ia juga membuka jasa semir rambut dengan biaya Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu.
"Memotong rambut pelanggan sambil menggunakan kruk pastinya mengalami kesulitan karena kaki kiri saya harus menumpu lama. Biasanya kaki kiri saya pegal kalau selesai memotong rambut banyak pelanggan," terangnya.
Ia menyebut tak pernah mengeluh dengan kondisinya saat ini. Seberat apa pun kondisinya, menurutnya jika dijalani dengan nyaman akan terasa ringan.
Setidaknya dalam sehari ia mampu melayani sekitar 10 pelanggan. Momentum tahun ajaran baru di sekolah biasanya menjadi rezeki baginya karena jumlah pelanggan bisa naik dua kali lipat.
Terus Berjuang demi Anak
Penghasilan dari bekerja sebagai tukang potong rambut tetap disyukurinya. Setiap potongan rambut pelanggan yang dikerjakannya mampu ia gunakan untuk makan sehari-hari dan membayar kebutuhan sekolah ketiga anaknya.
Bagi Khuzaeni dan istri, mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari serta mencukupi kebutuhan sekolah ketiga anaknya sudah lebih dari cukup. Keduanya memang hidup dalam kesederhanaan.
Dalam hati kecilnya, ia ingin ketiga anaknya bisa bersekolah hingga jenjang yang lebih tinggi. Kedua mata Khuzaeni berkaca-kaca setiap mengucapkan keinginan agar anak-anaknya bisa sukses melebihi kedua orang tuanya.
"Semoga anak-anak saya sukses, tidak seperti orang tuanya," ucapnya.
Dicibir dan Dihina
Khuzaeni tak menampik, cibiran kerap datang kepada dirinya dan istrinya. Salah satu cemoohan yang kerap diterimanya berbunyi, "Sama-sama disabilitas, terus bagaimana menjalani hidup?"
"Cibiran pasti ada, tetapi saya dan istri selalu mendoakan yang terbaik bagi mereka yang sudah mencemooh. Kami tetap bersemangat menjalani kehidupan," jelasnya.
Biasanya saat Khuzaeni sedang menunggu pelanggan yang hendak potong rambut, ia juga membantu istrinya berjualan. Kebetulan, warung istrinya berada di samping rumah, berdampingan dengan ruang potong rambut di belakang rumahnya.
Khuzaeni bertugas membuat minuman es untuk anak-anak sekolah yang membeli jajanan di warungnya. Sementara itu, istrinya bertugas menggoreng bakwan, sosis, tempura, dan lainnya.
Meski menjalani kehidupan dengan keterbatasan, keduanya bersyukur dan tetap menjalani aktivitas sehari-hari layaknya orang pada umumnya. Keduanya tampak ramah melayani anak-anak sekolah yang membeli jajanan di warung sederhana mereka.
Istri Khuzaeni, Saidatun, mengatakan warungnya buka setiap hari. Setidaknya sudah tujuh tahun warung tersebut beroperasi.
"Sudah sekitar tujuh tahun saya berjualan makanan untuk anak-anak sekolah di sekitar rumah. Saya ingin membantu suami, penghasilan jualan bisa untuk uang jajan anak-anak," imbuhnya.
