Diduga Sebar Berita Palsu, Mahathir Diperiksa Polisi Malaysia

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mahathir Mohamad (Foto: REUTERS/Lai Seng Sin)
zoom-in-whitePerbesar
Mahathir Mohamad (Foto: REUTERS/Lai Seng Sin)

Pemimpin oposisi Malaysia, Mahathir Mohamad, tengah diinvestigasi karena diduga menyebarkan berita palsu. Aparat keamanan menuding eks Perdana Menteri itu menyebarkan kabar bohong soal jet pribadinya yang disabotase.

Keterangan tersebut disampaikan oleh Kepala Kepolisian Kuala Lumpur, Mazlan Lazim. Dia mengatakan, Mahathir akan diperiksa di bawa UU anti-berita palsu yang baru saja disahkan di Malaysia.

"Kami akan menggelar pemeriksaan dengan proses investigasi yang biasa kami lakukan," ucap Lazim seperti dikutip dari AFP, Kamis (3/5).

Mahathir pada akhir pekan lalu, menyatakan pesawatnya telah disabotase. Tindakan itu dilakukan saat dirinya bersiap menuju Langkawi untuk mendaftarkan diri menjadi salah satu kandidat dalam pemilu Malaysia yang akan dihelat Rabu (9/5).

Dalam keterangannya, Mahathir menyebut dirinya akhirnya menggunakan penerbangan lain untuk menuju Langkawi.

Tudingan sabotase ditanggapi langsung oleh Pemerintah. Walau Mahathir menyatakan tidak akan melaporkan dugaan sabotase ke polisi, otoritas Negeri Jiran bersikeras melakukan investigasi.

Najib Razak (Foto: Reuters/Olivia Harris)
zoom-in-whitePerbesar
Najib Razak (Foto: Reuters/Olivia Harris)

Dari klaim Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia, ditemukan tidak ada sabotase di pesawat pribadinya. Atas dasar tersebut, Malaysia akhirnya memeriksa Mahathir terkait dugaan penyebaran berita palsu.

UU anti-berita palsu merupakan aturan kontroversial di Malaysia. Kelompok oposisi menyebut UU ini akal-akalan koalisi berkuasa pimpinan Perdana Menteri Najib Razak demi memberangus lawan politiknya jelang pemilu.

Mahathir sendiri saat ini adalah calon PM dari koalisi oposisi Pakatan Harapan. Bersekutu dengan eks rivalnya Anwar Ibrahim, pria 92 tahun itu kembali terjun ke dunia politik untuk menyingkirkan Najib yang dituduh terlibat kasus mega korupsi 1MDB dari tampuk kekuasaan.