Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Dikeluhkan Mahal, UKT Mahasiswa Baru UB Malang Tembus '2 Digit'
15 Mei 2024 14:58 WIB
·
waktu baca 3 menit
ADVERTISEMENT
Penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa baru (maba) 2024 menjadi sorotan publik. Pasalnya, sejumlah maba mengeluhkan tingginya biaya UKT yang ditetapkan.
ADVERTISEMENT
Salah satunya Wulan, mahasiswa baru Universitas Brawijaya (UB) Malang. Ia dikenakan biaya UKT golongan 10, sebesar Rp 11 juta.
Padahal, dirinya lolos masuk di UB dengan jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Ia juga sempat kaget lantaran pengumuman penetapan UKT yang terlalu mepet.
"(Saya kena UKT) golongan 10, Rp11.800.000," ujar Wulan kepada kumparan, Rabu (15/5).
"Pengumuman penetapan UKT-nya baru keluar 8 Mei 2024, yang mana itu H-2 pengumuman UKT (10 Mei 2024). Terus akhirnya diundur lagi pengumuman UKT-nya jadi tanggal 13 Mei 2024," tambahnya.
Wulan mengaku keberatan atas penetapan UKT ini yang tembus hingga belasan juta rupiah.
"Jujur saja, saya sangat keberatan. Dilihat dari UKT SNBP 2023 kemarin ini merupakan kenaikan yang sangat drastis dari 50 persen sampai dengan 100 persen. Apalagi pada prodi saya sendiri, saya cukup keberatan dengan prodi saya tapi UKT sampai 2 digit. Padahal tahun kemarin saja cuma mentok di angka Rp 5,75 juta saja," ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Ia juga telah berkomunikasi dengan orang tuanya atas UKT nya yang cukup mahal.
"Jujur orang tua kaget dan gak nyangka bisa tembus sampai 2 digit untuk jalur SNBP. UKT SNBP sudah berasa seperti UKT Mandiri. 'Kalau tau bisa sampai 2 digit seperti ini mending ambil swasta aja dan itu udah di jurusan yang saya inginkan,' begitu kata mama saya," terangnya.
Wulan mengaku dirinya tidak bisa mengajukan penurunan UKT nya."Tidak memenuhi persyaratan yang ada dan juga cukup sulit," kata dia.
Saat ini, dirinya tinggal menunggu apakah ada pihak-pihak yang mendorong kampus untuk menurunkan UKT bagi mahasiswa baru.
"Sekarang para maba sedang ramai menyuarakan suara mereka supaya terjadi penurunan UKT massal seperti UKT Unsoed," jelasnya.
ADVERTISEMENT
"Jikalau berhasil, saya melanjutkan untuk pembayaran UKT. Jika tidak saya membicarakannya lagi dengan orang tua saya," lanjutnya.
Kata Pihak Rektor
Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Sumber Daya Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Muchamad Ali Safaat menyebut bahwa cukup banyak mahasiswa baru UB yang mendapatkan UKT rendah.
"UKT ditentukan berdasarkan kondisi ekonomi orang tua calon mahasiswa. Yang mendapatkan UKT rendah lebih banyak dari pada yang tinggi," ucap Ali kepada kumparan, Rabu (15/5).
Ali menjelaskan, standarisasi penetapan UKT ini berdasarkan pada pendapatan orang tua calon mahasiswa.
"Diasumsikan 30 persen (pendapatan orang tua calon mahasiswa) adalah untuk pendidikan. Lalu mempertimbangkan indeks kondisi orang tua, indeks pekerjaan orang tua, indeks tanggungan orang tua. Diolah melalui sistem informasi yang menghasilkan penggolongan lalu diverifikasi oleh fakultas," terangnya.
Saat ditanya apakah ada kuota di setiap golongan UKT yang ditetapkan, Ali menjawab tidak ada.
ADVERTISEMENT
"Sepenuhnya ditentukan oleh kondisi orang tua. Ada beberapa prodi yang golongan 10, 11, dan 12 nya kosong. Artinya tidak ada kondisi orang tua mahasiswa yang masuk golongan tersebut," ujarnya.
Ali menyampaikan, pihak kampus juga telah menyediakan layanan pengajuan bagi mahasiswa baru yang merasa keberatan karena tidak sesuai dengan kondisi ekonominya.
"Jika ada tambahan atau perubahan kondisi ekonomi dapat mengajukan bantuan keuangan melalui sibaku.ac.id.," ungkap dia.