Dilema Kerja Tak Sesuai Bidang Studi: Produktivitas Nasional Bisa Tergerus
·waktu baca 7 menit

Ekosistem lapangan pekerjaan yang homogen memaksa para pencari kerja untuk mengambil karier yang berbeda dengan bidang studinya. Fenomena ini menyebabkan adanya horizontal mismatch, sebuah kondisi ketika pendidikan atau bidang studi tak sesuai dengan pekerjaannya saat ini.
Eugen Isaka menjadi pekerja yang mengalami horizontal mismatch. Meski memiliki latar belakang teknologi pertanian, Eugene kini bekerja di sektor keuangan desa melalui lembaga simpan pinjam. Ia mengaku keputusan itu bukan semata karena meninggalkan dunia pertanian, melainkan karena peluang kerja yang tersedia membawanya ke sektor lain.
"Yang dibutuhkan sedikit, sedangkan saingannya banyak. Dari berbagai universitas kan pasti ke sana (Perusahaan Pertanian), sedangkan yang dibutuhkan sedikit, formasinya sedikit," ujar pria berusia 31 tahun itu ke kumparan pada Kamis (28/05)
Padahal, kata dia, tujuannya memilih teknologi pertanian di Universitas Jember adalah memajukan pertanian Indonesia. Eugen menilai sektor pertanian sebenarnya memiliki potensi keuntungan ekonomi yang lebih besar dibanding sektor finansial. Menurutnya, rantai usaha pertanian sangat luas, mulai dari hulu hingga hilir, sehingga membuka banyak peluang pendapatan.
“Kalau bisnis, pertanian itu pasti lebih menguntungkan,” ucap sarjana angkatan 2014 ini.
"Memang dari segi bisnis tetap menguntungkan, kasarnya kan tiap hari orang butuh makan. Itu dari segi bisnis memang menjanjikan," tambahnya.
Banting Setir Sarjana Pertanian Sudah Terjadi Puluhan Tahun
Ramainya lulusan pertanian pindah ke sektor keuangan memang sudah terjadi lama. Bahkan menurut guru besar Fakultas Pertanian IPB, Andreas Santosa, separuh sarjana pertanian bekerja di bidang perbankan.
"Saya sampaikan 40 tahun yang lalu ketika saya selesai [studi] itu juga terjadi [mismatch]. Yang tadi saya sampaikan 50 persen lulusan fakultas pertanian kerja di perbankan," cerita Andreas, saat berbincang dengan kumparan, Selasa (26/05).
Tentu, menurut Andreas, fenomena yang terjadi akan terus berlanjut. Sebab, kata dia, keselarasan bidang pekerjaan para lulusan pertanian merupakan masalah struktural yang relatif kompleks.
"Kenyataannya kan [peminat bidang pertanian] terus mengalami penurunan," tambahya.
Andreas lalu menjabarkan bahwa usaha di bidang pertanian juga semakin homogen. Menurutnya hal ini turut terjadi di berbagai sektor usaha bidang pangan.
"Karena kalau kita lihat dari data survei nasional tersebut justru terjadi penurunan di semua subsektor pertanian, baik pangan, hortikultura, peternakan, dan semuanya menurun semua. Menandakan apa? Menandakan diversifikasi usaha di dunia pertanian menurun," tegasnya.
Lulusan Saintek Lebih Banyak Mismatch daripada Soshum
kumparan menemukan deretan prodi di Indonesia yang lulusannya paling selaras dan tidak selaras dengan pekerjaan saat ini. Kami melakukan scraping data dari statistik tracer study di website Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti) terhadap 127 PTN se-Indonesia. PTN di sini meliputi universitas, institut, sekolah tinggi, maupun politeknik.
Data yang kami tarik fokus pada 127 PTN di Indonesia. Jika dilihat dari pengelompokan rumpun, lulusan saintek punya ketidaksesuaian kerja lebih tinggi ketimbang lulusan soshum.
Tracer study adalah survei pelacakan rekam jejak lulusan perguruan tinggi yang dikelola Kemendikti. Survei ini wajib diisi alumni dua tahun setelah kelulusan untuk mengevaluasi kesesuaian kurikulum dengan dunia kerja, sekaligus menjadi salah satu syarat akreditasi.
Data yang kami gunakan merupakan akumulasi hasil survei dari 2022 hingga 2025. Karena setiap program studi memiliki jumlah responden yang berbeda-beda, kami menormalisasi data berdasarkan nama program studi. Tujuannya sekaligus untuk mencermati prospek tiap prodi secara nasional.
Pendidikan dokter UI dan ilmu kedokteran UGM, misalnya, dihitung sebagai satu kelompok prodi "kedokteran". Untuk menjaga keandalan analisis, hanya program studi dengan minimal 50 responden yang kami sertakan.
Dalam grafik perbandingan horizontal mismatch tersebut, rumpun soshum unggul dalam hal keselarasan kerja. Sebanyak 83,36% lulusan Soshum berhasil bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusannya, dengan angka ketidakselarasan yang relatif kecil, yaitu hanya 16,64%.
Sebaliknya, rumpun saintek mencatatkan angka keselarasan yang lebih rendah, yakni di angka 78,26%. Hal ini berbanding lurus dengan tingkat ketidakselarasan (mismatch) lulusan Saintek yang menyentuh angka 21,74%, signifikan lebih tinggi dibanding kelompok Soshum.
Kami juga turut mengklasifikasikannya prodi-prodi ke dalam bidang-bidang keilmuan. Mulai dari bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, hingga pertanian. Bidang pertanian di sini meliputi ilmu-ilmu peternakan maupun ilmu-ilmu perikanan.
Selain mengelompokkan prodi-prodi itu ke dalam rumpun soshum dan saintek, kami juga mengklasifikasikannya ke dalam bidang-bidang keilmuan. Mulai dari bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, hingga pertanian. Bidang pertanian di sini meliputi ilmu-ilmu peternakan maupun ilmu-ilmu perikanan.
Berdasarkan analisis yang kami lakukan, bidang pertanian menjadi bidang dengan tingkat ketidakselarasan tertinggi sebesar 33,53 persen, diikuti MIPA (30,06 persen) dan humaniora (29,53 persen).
Mismatch Berpengaruh Terhadap Produktivitas Industri
Fenomena horizontal mismatch turut memengaruhi produktivitas nasional. Menurut Media Wahyudi Askar, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), tingginya horizontal mismatch akan menurunkan produktivitas nasional lantaran investasi pada pendidikan tidak memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
"Akibatnya kan investasi pendidikan jadi kurang efisien. Jadi negara kan juga masih relatif mensubsidi perguruan tinggi cukup besar ya, dan kemudian produktivitas nasional juga pasti akan menurun juga karena investasi pendidikan tadi enggak menghasilkan nilai tambah dalam bentuk produktivitas tenaga kerja," jelas Media, saat wawancara bersama kumparan, Kamis (28/5).
Ia juga menjelaskan, mismatch terjadi karena jumlah lulusan lebih besar dibanding daya serap industri. Di sisi lain, Indonesia mengalami deindustrialisasi dini, yakni kondisi ketika sektor industri bernilai tambah tinggi tidak berkembang optimal dan justru bergeser ke sektor jasa serta ekonomi digital.
"Jadi jumlah lulusan di bidang tertentu ya itu lebih besar daripada kebutuhan industrinya dan penciptaan lapangan kerja juga relatif terbatas hari ini, khususnya yang punya nilai tambah tinggi. Jadi ini juga sejalan sama deindustrialisasi," tegasnya.
Media juga megamini bahwa memang pertumbuhan lapangan pekerjaan untuk bidang sains cenderung lambat.
"Menurut saya problem terbesarnya karena memang struktur industri kita masih bertumpu pada padat karya ya dibandingkan knowledge-based economy," tambahnya.
Mismatch Tetap Punya Kompetensi
Berdasarkan data Tracer Study Kemendikti, filsafat UI juga mengalami ketidakselarasan pekerjaan mencapai 34,83 persen. Filsafat masuk ke dalam bidang humaniora. Kaprodi Filsafat UI, Ikhaputri Widiantini atau Upi, menilai pembacaan data mengenai ketidakselarasan ini perlu lebih teliti.
Sebab, kata Upi, ketidakselarasan antara latar belakang pendidikan dengan pekerjaan yang ditempuh itu bukan berarti ada ketidaksesuaian kompetensi.
"Jadi, kalau terhadap mismatch itu sebenarnya kita perlu membaca datanya secara lebih teliti, perspektifnya harus lebih diubah. Karena ada beberapa bidang, seperti salah satunya itu filsafat, yang ketika dikatakan tidak selaras itu terutama yang horizontal ya sifatnya, tidak selalu menunjukkan ketidaksesuaian kompetensi," jelas Upi kepada kumparan, Selasa (26/5).
Menurutnya, filsafat sendiri merupakan kemampuan analisis, argumentasi, hingga pengambilan keputusan yang dibutuhkan berbagai perusahaan.
"Karena kata filsafat ini sifatnya adalah lebih abstraksi. Misalnya, kita bicara sastra, cultural studies, jadi kita harus melihat bahwa lulusan filsafat ini akan menggunakan kompetensi yang didapat selama kuliah. Nah, ini bisa tergantung pada bagaimana mereka menggunakan kemampuan analisis mereka, argumentasi, pengambilan keputusan, dan yang kemudian sering kali muncul (digunakan) di perusahaan itu adalah refleksi etis," kata Upi.
Menurut Upi, kemampuan kompetensi inilah yang kemudian membuat banyak lulusan filsafat berprofesi sebagai analis kebijakan, peneliti, hingga jurnalis.
"Itu yang dilatih di dalam perkuliahan filsafat. Makanya banyak analis kebijakan, peneliti, konsultan, jurnalis yang bekerja. Sekarang banyak juga di filsafat yang ikut di NGO (Non-Governmental Organization), terus ada yang mungkin di agensi, praktisi komunikasi kayak PR (Public Relations) gitu, ada yang HR (Human Resources) hingga Data Analyst," sambungnya.
Lebih lanjut, Upi menjelaskan tak seharusnya ada pengkotak-kotakan bahwa lulusan seperti filsafat, harus menjadi seorang filsuf. Justru dari pengembangan filsafat yang menjadi dasar untuk keahlian (expertise) lanjutan di berbagai topik.
"Tapi yang diharapkan itu sebenarnya tidak lagi kemudian mengkotak-kotakkan, seakan-akan kalau lulusan filsafat itu tidak lagi selaras gitu kesannya. Karena hanya sesuai dengan tren yang lagi muncul, misalnya di media sosial tentang para filsuf yang kesannya hanya omong-omong saja. Padahal kami memang berada di dalam lingkup research dan kajian filsafat yang melihat banyak topik sesuai dengan expertise lanjutan kami," jelas Upi.
Sementara itu, Ketua Umum ILUNI FIB UI, Visna Vulovik, menyampaikan strategi dalam mengatasi ketidakselarasan pekerjaan terutama horizontal mismatch yang kerap menjadi diskursus utama para alumni UI, khususnya FIB.
Menurutnya, ILUNI berusaha untuk menjembatani gap antara dunia akademik dengan tuntutan industrialisasi.
"Kami menjembatani gap antara dunia akademik dan tuntutan industrialisasi. Beberapa upaya konkret yang terus berjalan, yaitu melakukan program inkubasi dan mentoring karier, mendorong kolaborasi dengan alumni, hingga melakukan pemetaan kemampuan (skill-mapping)," kata Visna.
Dalam program tersebut, Visna menceritakan, sertifikasi di bidang digital dan manajemen menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan industri.
"Salah satunya adalah jejaring alumni untuk hadir menyediakan program pelatihan intensif singkat atau kerja sama dengan lembaga sertifikasi di bidang digital dan manajemen. Salah satunya adalah sinergi dengan UI sebagai kelembagaan yang membuat Migran Center bekerja sama dengan Pemkot Depok dan KP2MI. Jadi, pusat ini harapannya juga menjadi hubungan, bukan hanya berdampak untuk internal FIB, tetapi lintas fakultas," jelas Visna.
