Dimas Prasetyo, PNS Tuna Netra yang Dapat Beasiswa S2 di Australia

Niat untuk memberikan manfaat bagi sesama menjadi tiket seorang penyandang tuna netra Dimas Prasetyo Muharam (32) untuk belajar di Australia. Ia dinyatakan lolos menjadi penerima Australia Awards Scholarship (AAS) pada 2020.
Saat ini, ia tengah mempersiapkan keberangkatannya belajar (PDT) ke Negeri Kanguru tersebut. Rencananya ia mengambil jurusan Master of Education di the University of Adelaide. Jurusan tersebut sesuai dengan profesinya di Kemendikbud sebagai PNS di bidang Pusat Asesmen dan Pembelajaran.
“Saya ingin dapat berkontribusi lebih banyak lagi dalam mewujudkan pendidikan nasional yang lebih inklusif melalui penelitian,” ujar Dimas kepada Indonesia Mengglobal, Februari lalu.
Meski sudah berangkat dengan niat baik, jalan Dimas untuk terbang ke Australia tidak selalu mulus. Salah satunya adalah dalam mempersiapkan tes bahasa Inggris. Sebab, menurutnya hanya IELTS yang memungkinkan bagi tuna netra seperti dirinya.
“Alternatif lainnya yaitu TOEFL, hanya disediakan format braille, sedangkan kecepatan membaca saya kurang baik,” tambahnya.
Alasan melamar AAS
Dimas mengaku mengetahui beasiswa AAS saat mengikuti program kursus di Australia selama tiga bulan pada 2013. Dalam acara itu, ia bertemu dengan seorang tuna netra yang tengah menempuh magister di Flinders University.
“Saat itu yang menyadarkan betapa menariknya dapat melanjutkan kuliah di luar negeri, khususnya di Australia,” kenangnya.
Hanya saja, niat untuk studi lanjut itu baru menguat setelah menjadi PNS di awal 2018. “Jabatan sebagai peneliti ahli pertama mendesak saya untuk memperoleh jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan pengalaman ilmiah lebih luas sehingga pekerjaan dapat lebih optimal,” katanya.
Alasan lain memilih AAS adalah, program ini memiliki kategori dan program studi prioritas. Pekerja PNS baik di kantor pusat maupun daerah menjadi salah satu kategori prioritas AAS.
“Selain itu, program Master of Education yang hendak saya ambil masuk ke dalam Priority Field Areas yang di antaranya ada pendidikan, kesehatan, kebijakan publik, dan bidang lainnya,” tambahnya.
Lalu, menurut Dimas, program AAS lebih sederhana baik dari mulai pendaftaran hingga proses persiapan studi. Mulai dari biaya kuliah, tiket pesawat, hingga pengurusan visa semua ditanggung oleh pemberi beasiswa.
“Sejak proses seleksi, pendampingan selama tahap administrasi dan wawancara, kelas PDT, hingga keberangkatan dan tiba di Australia, sampai kembali ke Indonesia, AAS memberikan dukungannya yang membuat saya yang seorang tunanetra tidak mengalami kendala,” papar Dimas.
Sekilas proses seleksi AAS
Dimas mengatakan, biasanya seleksi beasiswa AAS dibagi menjadi dua tahap, administrasi dan wawancara (Joint Selection Team). Di tahap pertama, kandidat diminta untuk mengisi sejumlah data dan pertanyaan (esai) di OASIS dan juga mengirimkan Additional Information. Kedua form itu wajib diselesaikan sebelum penutupan di tanggal 30 April.
“Empat pertanyaan tersebut seperti alasan memilih jurusan dan kampus, bagaimana sumbangsih jurusan yang dipilih terhadap karier, pengalaman kamu dalam memecahkan masalah dan menerapkan pembaharuan di organisasi atau pekerjaan,” ujar Dimas.
Selain harus ditulis dalam Bahasa Inggris, tantangan bagian ini adalah tiap pertanyaan hanya dapat dijawab dengan maksimal 2.000 karakter," kata Dimas.
Sekitar satu atau dua bulan, pihak AAS akan mengirimkan surat apakah lolos ke tahap selanjutnya atau tidak. Ada dua hal yang dilakukan di tahap Joint Selection Team yaitu tes IELTS dan wawancara itu sendiri. Dalam kondisi pandemi, proses wawancara dilakukan secara daring.
“Pewawancara hanya ingin menggali lebih dalam lagi topik yang kamu pilih, bagaimana korelasi jurusan yang dipilih dengan kebutuhan kamu, atau jika ada hal-hal menarik misal social project yang pernah kamu kerjakan. Jadi tak perlu panik karena tensi wawancara cukup santai dan menyenangkan,” pungkasnya.
***
Tulisan ini pernah dimuat di Indonesia Mengglobal ditulis oleh Yogis Saputra Mahmud Content Indonesia Mengglobal untuk Australia, New Zealand, dan Pacific Islands.
