Din Syamsuddin Dorong Parpol-parpol Islam di Indonesia Gabung Jadi Satu

Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin, menjadi salah satu pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Bangka Belitung.
Dalam sambutannya, Din menyoroti banyaknya parpol berbasis Islam di Indonesia. Diketahui saat ini terdapat 4 parpol berbasis Islam yang lolos ke DPR yakni PKB, PAN, PKS, dan PPP.
Din menyadari demokrasi telah memberikan kebebasan yang luas sehingga banyak muncul partai berbasis ideologi Islam. Namun menurutnya, munculnya banyak parpol-parpol Islam justru membuat kebersamaan umat Islam tercerai-berai. Sehingga memperlemah perjuangan politik umat Islam di Indonesia.
“Pada setiap pemilu, setiap Pilpres, mereka (parpol-parpol Islam) jalan masing-masing. Ini yang kemudian memporak-porandakan kebersamaan,” ujar Din dalam salah satu sesi pleno kongres di Hotel Novotel Bangka and Convention Centre, Pangkalan Baru, Bangka Tengah, Kamis (27/2).
Berkaca pada hal tersebut, Din menilai perlunya parpol Islam tunggal di Indonesia. Din menilai kehadiran parpol Islam tunggal dapat memperkuat perjuangan umat Islam lewat jalur politik.
“Mendorong adanya partai politik Islam tunggal yang secara formal berfungsi sebagai kendaraan politik tokoh-tokoh umat Islam dan sarana artikulasi aspirasi politik umat Islam,” kata Din.
Din pun menawarkan dua opsi yang ditempuh parpol-parpol Islam di Indonesia. Pertama parpol-parpol tersebut bergabung dalam satu partai. Kedua gagasan partai tunggal bisa diwujudkan melalui pembentukan koalisi strategis parpol-parpol Islam.
“Idealnya ada partai tunggal berhimpun semua di situ, kalau tidak, banyak partai tapi bersedia membangun koalisi strategis. Menyangkut masalah-masalah yang berhubungan dengan umat Islam, mereka satu, sepakat,” tuturnya.
Selain menyoroti aspek politik, Din juga membahas perjuangan keumatan di bidang ekonomi, pendidikan, dan budaya. Din mengulas permasalahan pada aspek-aspek tersebut dan memberikan opsi-opsi penyelesaiannya.
Dalam bidang ekonomi, Din menekankan perlunya penguatan ekonomi umat melalui pembentukan bank-bank yang dikelola umat Islam. Hal itu menurutnya bisa memecahkan kebuntuan akses modal bagi umat Islam.
“Sudah waktunya ada bank yang secara khusus yang dikelola oleh umat Islam untuk kepentingan umat Islam. Karena saya tahu persis, permasalahan umat Islam dalam bidang ekonomi, tidak punya akses ke dunia perbankan,” tuturnya.
Di bidang kebudayaan, Din memandang perlunya umat Islam di Indonesia membangun visi kebangsaan berdasarkan perspektif Islam. Sementara di bidang pendidikan, Din menekankan perlunya revitalisasi pendidikan Islam agar sesuai dengan tantangan zaman.
Din mencontohkan, salah satu pekerjaan rumah pendidikan Islam yaitu menghilangkan dikotomi atau sekat pemisah antara ilmu-ilmu keagamaan dengan ilmu-ilmu umum.
“Dengan pemantapan landasan ontologis, kerangka epistemologis, dan orientasi aksiologis ilmu-ilmu pengetahuan, maka sistem pendidikan Islam akan dapat menghilangkan dikotomi antara ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu keduniaan,” tuturnya.
Diketahui Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) berlangsung selama 26 - 29 Februari di Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung. Kongres ini diikuti para pengurus MUI seluruh Indonesia, perwakilan organisasi Islam, ulama, unsur pondok pesantren, hingga unsur perguruan tinggi.
Dalam kegiatan kongres ini, para ahli agama atau cendikiawan akan membicarakan berbagai topik, berikut membentuk tawaran-tawaran solusi yang akan disampaikan kepada pemerintah. Topik itu menyangkut pendidikan, ekonomi, budaya, hukum dan sosial.
Pembahasan serta solusinya itu akan menjadi Deklarasi Bangka yang disampaikan pada bagian akhir kongres.
