Dinas Kebudayaan Kulon Progo: Kami Beli 4 Paket Petasan, Tanpa Bendera

Peringatan Hari Jadi Kabupaten Kulon Progo ke-67 di Alun-alun Wates, Senin (15/10) lalu ternodai dengan viralnya foto bendera Republik Rakyat Cina (RRC) di atas bendera merah putih. Bendera kecil berbahan kertas tersebut tampak terikat pada parasut kecil. Viralnya insiden itu juga diiringi kabar bahwa parasut berbendera tersebut keluar sesaat setelah petasan meledak di udara.
Sekretaris Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo, Joko Mursito menjelaskan pihaknya tidak mengetahui soal insiden tersebut. Meski begitu pihaknya mengakui bahwa telah membeli 4 paket buah petasan seharga Rp 4 juta di sebuah toko di Jalan Godean, Sleman, Yogyakarta.
Petasan tersebut digunakan untuk menyemarakkan rangkaian Gelaran Sewu Angguk menjadi pemungkas upacara peringatan Hari Jadi ke-67 Kabupaten Kulon Progo.
"Saya ingin Sewu Angguk ini menjadi energi kebaruan di Kulon Progo menjadi ikon Kulon Progo dan digelar dalam jumlah yang sangat besar. Lalu saya butuh penguatan-penguatan biar gongnya itu daylight kembang api warna warni itu yang saya tahu," jelas Joko di kantornya, Rabu (17/10).

"Saya menggunakan bukan kali pertama sebelumnya kami sudah pakai (di toko yang sama) untuk pembukaan Porda DIY itu tahun 2015. Apel pencak silat Muhammadiyah di Stadion Cangkring juga pakai daylight," lanjutnya.
Pihaknya juga secara khusus tidak memesan petasan yang mengeluarkan bendera. Dinas Kebudayaan Kulon Progo hanya memesan petasan yang mengeluarkan warna-warni saja. Ledakan petasan pun, pihaknya meminta yang suaranya tidak terlampau menggelegar.
"Tidak ada bendera tidak ada aksesoris. Sehingga saya selaku pembeli pengorder saya memesan barang yang saya tahu juga saya hanya butuh warna nggak spesifik bendera. Ledakan pun saya mencari ledakan yang paling kecil tapi efek warna yang saya cari," tegasnya.
"Sehingga saya tidak tahu menahu kalau ternyata ada kejadian seperti itu. Sampai malam saya nggak tahu kalau nggak dikasih kabar itu," tuturnya.
Joko mengaku mengetahui informasi (bendera China dalam parasut) tersebut dari aparat. Joko sedang berada di rumah kemudian segera pergi ke alun-alun Wates dan memberikan klarifikasi kepada aparat.
"Jadi saya betul-betul tidak tahu apalagi ada niatan ke arah sana. Di panggung konsentrasi saya biar pagelaran menarik," ungkapnya.
Sampai saat ini ia mengaku juga belum melihat langsung bendera tersebut yang terpasang di dalam parasut.
"Saya tidak begitu memperhatikan. Kok fisik, saya mengerti ada benda saja ndak, kok lihat fisik. Saya konsentrasinya musik dan tarian biar sinkron (saat acara)," bebernya.
Pada saat itu menurut Joko pihaknya juga tidak mungkin mengintip kotak petasan satu-satu. Selain itu, secara keseluruhan acara hari jadi sudah berkoordinasi dengan pihak keamanan jauh-jauh hari.
"Secara keseluruhan sudah melalui proses koordinasi dengan keamanan dan sudah terstruktur lama. Konyol dan enggak mungkin dengan menghadirkan itu (bendera) ya (saya) bunuh diri. Yang jelas kami sangat tidak mengetahui karena benar-benar sangat-sangat tidak tahu," ucapnya.
Menurutnya, jika bendera tersebut memang benar-benar ada kemungkinan sudah dibawa anak-anak kecil yang menghadiri acara tersebut
"Kalau memang itu ada mungkin sudah dibawa aparat atau dibawa bocah-bocah," pungkasnya.


