Dinkes DKI: Mikroplastik Bisa Picu Gangguan Janin dan Kelahiran Prematur
·waktu baca 2 menit

Paparan mikroplastik di udara berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan ibu hamil dan janin.
Hal ini diungkap oleh Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan P2P Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Rahmat Aji Pramono, menyusul temuan adanya mikroplastik dalam air hujan Jakarta oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Pramono, partikel mikroplastik berukuran sangat kecil dapat masuk ke dalam sistem peredaran darah dan mengganggu fungsi organ, termasuk janin di dalam kandungan.
“Ya, memang kalau dia ukurannya sangat kecil ya, jadi kalau dari penelitian itu kita ngomonginnya adalah polutan yang ukurannya di bawah 2,5 mikron ya atau PM 2,5. Jadi di dalam PM 2,5 itu juga termasuk mikroplastik yang ukurannya sangat kecil,” ujar Pramono dalam media brief di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (24/10).
PM 2,5 atau Particulate Matter 2.5 merupakan partikel halus di udara dengan ukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel ini dapat menembus sistem pernapasan hingga masuk ke aliran darah manusia.
Rahmat menjelaskan, mikroplastik dan polutan sejenis dapat memengaruhi proses tumbuh kembang janin dalam kandungan.
“Memang dari beberapa penelitian ini, ketika dia sudah masuk dalam tubuh kita dan dia masuk ke dalam peredaran darah, itu bisa mengganggu organ manapun yang dia kunjungi ya,” kata Pramono.
“Termasuk ketika dia ibu hamil dan ketika polutan ini sampai kepada peredaran untuk janin, ini bisa mengganggu untuk pemberian nutrisi pada janinnya ya,” lanjut dia.
Ia menambahkan, paparan jangka panjang terhadap partikel mikroplastik maupun PM 2,5 dapat meningkatkan risiko gangguan tumbuh kembang janin.
“Memang di dalam beberapa penelitian, penyebab dari PM 2,5 ini bisa menyebabkan gangguan tumbuh kembang si janin di dalam tubuh,” tutur Pramono.
“Jadi janinnya akan lahir prematur atau janinnya akan lahir dengan berat badan yang kurang, itu bisa jadi seperti itu,” lanjutnya.
Mengenai kemungkinan hubungan antara mikroplastik dengan autisme, Pramono menegaskan belum ada bukti langsung yang menghubungkan keduanya.
“Autisme ini sebenarnya tidak terlalu ada efek langsung dari si PM 2,5-nya ini atau dari mikroplastiknya ya. Banyak faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya autisme pada anak-anak kecil,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan mikroplastik tetap menjadi salah satu faktor risiko yang perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan ibu dan janin.
“Tapi memang si mikroplastik ini atau PM 2,5 ini menjadi salah satu risiko juga, salah satu risiko menjadi gangguan kepada janin tersebut,” tutupnya
