Dirty Vote: Bansos Jelang Pemilu Lebih Banyak Dibanding Saat COVID-19
·waktu baca 2 menit

Beberapa waktu belakangan publik melihat begitu banyak Bantuan Sosial [Bansos] yang dibagikan pemerintah di sejumlah daerah.
Dalam film Dirty Vote yang digagas oleh tiga ahli hukum tata negara, Minggu (11/2), ditemukan fakta bahwa frekuensi pembagian Bansos menjelang Pemilu lebih banyak. Bahkan bila dibandingkan dengan pembagian bansos di masa pandemi COVID-19.
"Kita bisa melihat tahun demi tahun bagaimana di setiap Pemilu [pembagian Bansos] akan mendadak melonjak naik dibanding dengan tahun-tahun lainnya. Kecuali tentu saja pada 2020 sampai 2022 di mana kita mengalami pandemi COVID-19. Tapi bahkan kalau dibandingkan dengan itu pun, tetap Pemilu 2024 ini ternyata menunjukkan angka yang sangat tinggi hampir mencapai 500 triliun," ujar pakar hukum tata negara, Zainal Arifin Mochtar.
Dari data yang dimiliki Zainal, pemberian Bansos di era pemerintahan Jokowi cenderung meroket jelang Pemilu.
"Tahun 2008 santai, kemudian 2009 terjadi kenaikan, 2013 menjelang 2014 mulai rapat, kemudian 2019 kelihatan kerapatannya. Kita semua bisa melihat di sini sampai dengan Pemilu 204 begitu rapat dan begitu banyak di sini, tiba-tiba keluar berbagai macam bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah," jelasnya.
Zainal mengatakan, pada bulan Januari 2024, pemerintah telah menggelontorkan 78,06 triliun untuk bansos.
"Di sini kita juga bisa melihat beberapa detail bantuan sosial itu kita bisa lihat angkanya di atas dari Rp 496,8 triliun menjadi Rp 508 triliun. Rp 508 triliun ini sebagiannya memang belum dialokasikan, tapi sudah direncanakan untuk dialokasikan sampai dengan 2024 ini," jelasnya.
Ia juga menyinggung soal bansos sembako yang mencapa 18,8 juta kepala keluarga. Salah satu yang paling disorot adalah pembagian 10 kg beras yang meng-cover 22 juta kepala keluarga, serta Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk 18 juta kepala keluarga.
"Kita lagi-lagi bisa melihat bagaimana bantuan sosial ini meroket menjelang Pemilu ya, dan kita bisa melihat bagaimana kemudian Bansos ini dipergunakan secara berlebih-lebihan dan melebihi Apa yang dilakukan pada saat pandemi COVID-19," ujarnya.
