Dirut Antara: Banyak Jubir Masih Sebatas Menjelaskan, Belum Mampu Meyakinkan

Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, menilai banyak juru bicara (jubir) masih berada pada tahap menjelaskan kebijakan, tetapi belum mampu meyakinkan atau memengaruhi publik.
Hal itu disampaikan Benny saat ditemui wartawan usai peluncuran buku Juru Bicara: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi di Antara Heritage Center, Jakarta, Jumat (11/9).
Buku tersebut ditulis Benny bersama Prof. Dr. Marlinda Irwanti Poernomo dan membahas peran juru bicara dalam menghadapi kompleksitas komunikasi publik di era disrupsi.
Menurut Benny, terdapat tiga tingkatan komunikasi yang perlu dikuasai seorang juru bicara, yakni menjelaskan, meyakinkan, dan memengaruhi.
“Bagaimana ternyata dari situ saya mendapatkan peran juru bicara itu enggak gampang. Berbicara sih bisa, tapi meyakinkan orang. Nah, di sini level juru bicara ternyata dalam berkomunikasi ada tiga, yaitu menjelaskan, meyakinkan, dan memengaruhi,” terang Benny.
Benny menilai, para juru bicara masih banyak yang berada pada tahap menjelaskan dan belum mampu mencapai level meyakinkan atau memengaruhi.
“Dan ini level para juru bicara ternyata masih dalam posisi untuk menjelaskan, tidak bisa dalam meyakinkan atau memengaruhi,” kata dia.
Menurutnya, kemampuan memengaruhi merupakan tingkatan tertinggi karena dapat mendorong publik untuk berpihak atau memberikan dukungan.
“Nah, akhirnya dari situ muncul di level untuk memengaruhi. Nah, memengaruhi inilah yang akhirnya memberikan sebuah tadi level orang untuk berpihak, orang mendukung. Dan itu yang sebenarnya level yang paling tinggi,” ujarnya.
Saat ditanya apakah juru bicara pada akhirnya hanya menjadi corong pemerintah, Benny menilai peran tersebut seharusnya tidak sebatas membela kebijakan. Menurutnya, jubir perlu menyampaikan konteks yang lebih luas dan membandingkan data agar publik mendapat pemahaman yang utuh.
“Ya, sebetulnya tidak demikian, ya. Memang tidak dipungkiri banyak yang membela kebijakan pemerintah tanpa memberikan sebuah keyakinan atau konteks yang lebih luas. Misalnya kita memberikan data tanpa memberikan sebuah komparasi. Nah, itu yang harusnya diberikan,” tuturnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Chief Reassurance Officer (CRO) yang dijelaskan Marlinda dalam sambutannya. Menurutnya, juru bicara harus menyampaikan kondisi sesuai kenyataan, bukan memoles atau menutupi persoalan, sekaligus menjelaskan langkah yang disiapkan untuk menghadapinya.
“Tidak hanya sekadar dia mengeluarkan kalimat, tetapi bagaimana kalimat dan kata-kata yang diucapkan itu sesuai dengan kenyataan, bukan dipoles sedemikian rupa,” jelas Marlinda.
“Jadi bukan memoles untuk melihat sesuatu yang kemudian kita tutupi, tidak. Kenyataan kita sampaikan, tapi kemudian diberikan perencanaannya yang baik,” tambahnya.
Lebih lanjut, Benny kemudian menekankan pentingnya kemampuan memahami perspektif publik dalam menjalankan tugas sebagai juru bicara. Menurutnya, kalangan wartawan memiliki keunggulan tertentu karena terbiasa memahami empati masyarakat.
“Walaupun kenyataannya yang paling sanggup menjadi juru bicara ternyata banyak diisi dari kalangan wartawan juga gitu, karena keunggulannya mereka adalah memahami sebuah empati publiknya itu,” beber Benny.
“Walau tidak menutup kemungkinan profesi lain bisa, tapi keunggulan yang bisa dimiliki di sini adalah kemampuan memahami dari hati publik itu ada di mereka,” lanjutnya.
Ia menilai, kemampuan mendengarkan publik akan memudahkan juru bicara dalam menyampaikan pesan secara tepat.
“Jadi ketika kamu memahami publik, mendengarkan publik, maka kamu lebih mudah untuk menyampaikan pesan itu,” tandasnya.
