Distributor Oksigen di Bogor Kebingungan Stok Tabung Kecil Langka
·waktu baca 3 menit

Warga Kota Bogor mulai kesulitan mencari tabung oksigen ukuran satu meter kubik. Tak hanya warga, satu persatu penjual distributor pengisian oksigen di Kota Bogor kini mulai kehabisan stok tabung oksigen dan hanya bisa melayani pengisian oksigen.
"Tabung yang kecil itu sudah enggak ada dua minggu yang lalu dari pasaran, saya sudah enggak jual, biasanya di sini," kata Rahman, distributor Medical Oxygen Al Royan di Jalan Kebon Pedes, Tanah Sareal, Kota Bogor, Senin (5/7).
Rahman mengatakan, karena stok tabung kecil langka, saat ini di tokonya hanya menerima pengisian tabung. Selain langka, kata Rahman, terjadi kenaikan harga dari Rp 35 ribu menjadi Rp 40 ribu per kubik.
"Di sini kita jual 40 ribu ukuran 1 kubik ada kenaikan 5 ribu. Tapi di tempat lain ada yang menjual sampai 55 ribu," ujarnya.
Rahman mengajak para distributor oksigen untuk tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan pengisian oksigen. Sebab, tabung 1 meter kubik, banyak dibutuhkan oleh pasien-pasien COVID-19 yang sedang isolasi mandiri.
Menurutnya, memang ada kenaikan harga dari filling station ataupun dari pabrikan liquid oksigen, hanya saja dia meminta jangan sampai para distributor menaikkan persentase harga hingga dua sampai tiga kali lipat.
"Kita sebagai distributor tabung atau pun tempat-tempat stasiun pengisian itu jangan dijual terlalu tinggi. Kita di sini naik, cuma sedikit karena kemanusiaan harus dilihat itu," ucapnya.
"Saya mengajak teman-teman para pengisian tolong jangan menyulitkan orang-orang yang sedang sulit juga gitu, ini ada unsur kemanusiannya lagi. Kita ada usaha bisnis tapi jangan sampai memanfaatkan momentum memberatkan kepada orang-orang yang membutuhkan apalagi ini dibutuhkan oleh orang yang sedang sakit, dosa kita juga," imbuh Rahman.
Rahman mengatakan tokonya hanya menerima pengisian tabung kecil bagi masyarakat dan tabung besar di 11 rumah sakit di Kota Bogor.
Pengisian tabung besar didapatkan distributor dari filling station. Saat ini terjadi kelangkaan pengisian di filling station sehingga menyebabkan kenaikan harga liquid oksigen.
"Tapi kenaikan harga itu sebetulnya bisa dikendalikan kalau misalnya si pejualnya, distributornya punya hati nurani, itu kuncinya," ungkapnya.
Rahman mengatakan, di Kota Bogor tidak ada filling station oksigen, tokonya harus mengisi di wilayah Kabupaten Bogor.
"Kota Bogor biasanya isi filling station di Kabupaten, di Gunungputri, Cileungsi, Cibinong, Bilabong Kemang, pengisian tabung besar itu harus pakai listrik. Kalau di sini pakai transfer dipindahkan ke tabung kecil," jelasnya.
Rahman mengungkapkan saat ini para distributor ini kesulitan mendapatkan ketersediaan tabung oksigen ukuran 1 kubik.
"Harga melonjak segala macam, informasi yang beredar, tabung sudah tidak ada. Kita kemarin bisa jual tapi sekarang tidak bisa beli lagi. Karena keadaannya tidak ada," kata.
Rahman menjelaskan kelangkaan tabung oksigen akibat permintaan pembelian dan pengisian tabung meningkat. Akibatnya, saat ini para penjual oksigen kesulitan untuk mendapatkan tabung. Rata-rata meningkatnya permintaan berasal dari masyarakat yang melakukan isolasi mandiri dan perawatan di rumah.
"Kalau untuk kemasan isi ulang tabung itu yang mengakibatkan stok menipis. Karena permintaan masyarakat barangnya itu sangat tinggi untuk isolasi mandiri di rumah,” katanya.
Rahman mengaku sudah mencari tabung ke para importir penyedia tabung oksigen. Namun stok di pasaran sudah mulai langka. Kalaupun ada harganya melambung tinggi.
"Karena tabung sulit untuk kita beli karena di importir tidak ada kosong. Karena tabung ini impor kan masalahnya. Importir rekanan saya itu semuanya pada kosong Pak barangnya,” jelasnya.
Rahman mengaku khawatir kondisi kelangkaan gas ini akibat penimbunan. Sebab, Tak hanya tokonya, saat ini seluruh penjual kebingungan mendapatkan oksigen akibat stok di pasaran mulai langka.
“Kalaupun ada sangat mahal dan kita jual juga bingung, takutnya kelangkaan tabung ini diakibatkan bukan karena keadaan, melainkan semata-mata karena mengambil kesempatan. Tapi memang keadaannya seperti ini. Jadi ini saya yang berjualan saja bingung. Meski harganya mahal pun stok barangnya tidak ada. Kita mau beli untuk penambahan aset perkuatan stok, itu pun tidak ada tabungnya,” ungkap Rahman.
Rahman mengatakan kelangkaan oksigen mengakibatkan stok di rumah sakit muli habis. Bahkan, 11 rumah sakit yang dipasok oleh tokonya sudah mulai kehabisan stok.
“Ini rumah sakit menjadi prioritas, mengisi perorangan pun kita mau tidak mau harus mengupayakan keberadaan gas oksigen ini agar tabungnya mereka terisi ulang kembali,” katanya.
