Distrik di Kaimana Belum Teraliri Listrik, Sampai Mana Program Papua Terang?

"Tahun depan di tanah Papua semua desa harus terang benderang. Medannya memang sangat berat. Seberat apapun medan harus bisa ditaklukan dan desa-desa harus terang benderang. Ini keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," Presiden Jokowi, 2017.
21 Januari 2021, puluhan warga dari empat kampung di Distrik Arguni Bawah, Kabupaten Kaimana, Papua Barat bergantian memikul tiang-tiang listrik untuk dipasang di wilayah setempat mereka.
Program Papua Terang yang dicanangkan Jokowi memantik harapan. Tak lama lagi, pikir mereka, salah satu hak hidup bagi setiap warga negara untuk merasakan manfaat listrik dapat tercapai.
Warga dijanjikan tidak lagi harus menghabiskan dana desa dan swadaya untuk keperluan genset.
Dengan kaki telanjang di atas jalan yang belum beraspal, tak jarang berlumur lumpur saat musim hujan, para warga bersemangat memikul tiap tiang setiap hari selama dua bulan, dengan jarak tempuh 4,9 kilometer dari dermaga Ruara menuju kampung masing-masing. Meski bertanya-tanya, mengapa tiang-tiang tersebut harus dipikul secara swadaya.
Sebagai informasi, jarak dari dermaga Ruara menuju wilayah Kabupaten/Kota Kaimana sejauh 170 kilometer, membutuhkan waktu tempuh selama 45 menit menggunakan speed boat.
"Kami hanya dikasih tiangnya saja. Kami berpikir, mungkin karena jalan belum bagus untuk masuk ke kampung-kampung. Warga kemudian bawa tiang-tiang itu sendiri dari pesisir," tutur Anton Arfa (32), warga Kampung Kufuryai kepada kumparan.
Setiap tiang dipikul oleh 10 orang. Selama dua bulan, 50 tiang terpasang di masing-masing kampung meliputi Kampung Kufuryai, Manggera, Egarwara, dan Weremenu.
Namun, sudah lebih dari satu tahun, tiang-tiang listrik itu berakhir menjadi pemandangan sampai hari ini.
Pasalnya, pusat pembangkit listrik tak kunjung dibangun, tak ada arus listrik sampai saat ini yang disalurkan ke tiap tempat huni mereka.
"Sampai sekarang warga masih bertanya-tanya. Kendalanya apa? Sebagai masyarakat kami tidak tahu. Latar belakangnya apa, penyebabnya apa, sehingga barang itu (listrik) belum muncul di tengah-tengah masyarakat," tutur Anton.
Anton mengatakan, apabila kendala pemerintah adalah masalah akses, lantas ia mempertanyakan mengapa jalan dari pesisir menuju kampung juga tak kunjung diselesaikan.
Dari pantauan, kumparan menemukan belasan drum aspal yang di dalamnya sudah mengeras. Drum-drum aspal itu tergeletak di sepanjang jalan menuju kampung. Ada juga aspal yang sudah tercecer.
Menurut Roy Tafre (41), warga kampung Manggera, ada puluhan drum aspal lainnya yang belum dipakai lebih dari setengah tahun. Drum-drum tersebut juga dibiarkan tergeletak di pinggir dermaga.
"Jumlahnya masih banyak, dari dermaga itu ke kanan ada puluhan. Masih ada di pelabuhan landing yang muat alat berat. Itu sudah hampir setengah tahun lebih belum dipakai," tutur Roy.
Anton berharap pemerintah dapat segera menuntaskan janji-janjinya. Termasuk menyelesaikan proyek untuk menerangi wilayah kampung dan akses jalan yang layak di Papua Barat.
"Kami sudah coba koordinasi dengan kepala-kepala kampung ke pemerintah setempat, tapi tidak menemukan jawaban juga. Sementara anggaran dana desa (untuk genset) punya kampung itu bisa dialihkan ke pembangunan fisik lain seperti rumah," ungkapnya.
Tanpa aliran listrik, 90 persen warga yang mengandalkan perkebunan pala tersebut kerap sulit melakukan inovasi-inovasi dalam produksi kebun.
Sementara mereka juga mengharapkan kemajuan daerah seperti di beberapa kampung lainnya di Kabupaten Kaimana yang sudah dialiri listrik dari PLN.
"Pak Jokowi, sebagai masyarakat kami tahunya kita menuju ke arah Papa Terang. Tapi Bapak harus punya lihat, kita masih seperti ini sampai sekarang," ungkap Anton.
Selain di wilayah Distrik Arguni Bawah, listrik juga belum dirasakan oleh warga di Pulau Namatota, terdapat sebuah desa bernama Desa Namatota, Distrik Kaimana yang tengah dirancang oleh Kemenparekraf sebagai desa wisata.
"Kami berharap wilayah kami juga dipercepat Papua Terang ini, karena belum masuk ini sudah setahun lebih. Ini juga jadi kendala kalau tempat kami mau dijadikan kampung wisata," tutur salah seorang warga Namatota bernama Kadir.
Penjelasan PLN soal kelanjutan Papua Terang di Kaimana
PLH Direktur Pemasaran dari Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3), PLN Kota Sorong, Papua Barat, Deskinel buka suara soal kelanjutan pengadaan listrik di sejumlah kampung di wilayah Kabupaten Kaimana tersebut.
Menurutnya, pihaknya saat ini sudah dalam tahap pengadaan pembangkit listrik di Distrik Arguni Bawah dan Namatota.
"Untuk di Kaimana kami sudah dalam tahapan pengadaan pembangkitnya. Termasuk di Namatota dan beberapa lokasi lainnya," ungkap Deskinel.
Dari temuan kumparan, daftar pengadaan listrik di Kaimana tahun 2022 ini akan mencakup Desa Urubika, Ururu, Coremuri, Hairapara, Boiya, Waho, Maimai dan Namatota.
Ia berjanji akan menuntaskan target pengadaan listrik di Kaimana tahun 2022 ini. Ia mengatakan hal itu juga tergantung pada situasi di lapangan.
"Target semua tahun ini tuntas berdasarkan kontrak kami, semua tergantung kondisi dan situasi di lapangan," tuturnya.
Sementara itu, Bupati Kaimana Freddy Thie berharap program di Kaimana dapat segera dipercepat.
"Selain listrik, telekomunikasi kita juga kurang. Warga sangat membutuhkan sinyal untuk dapat berkomunikasi. Itu juga yang kita tengah upayakan," tutur Freddy.
