Dituduh Bantu Kirim Teroris ke Luar Negeri, Eks PM Tunisia Ditangkap
·waktu baca 2 menit

Polisi menangkap mantan Perdana Menteri Tunisia, Ali Larayedh, atas tuduhan mengirimkan warga negaranya untuk bergabung dengan organisasi teroris di luar negeri pada Selasa (20/12).
Kabar tersebut diungkap partai politik demokrat Islam Larayedh, Gerakan Ennahdha. Larayedh terjerat dalam penyelidikan tentang dugaan bersekongkol mengerahkan ribuan pemuda Tunisia untuk berperang dengan kelompok-kelompok teroris di luar negeri.
Sebanyak 6.000 warga Tunisia tersebut melakukan perjalanan ke Libya, Irak, dan Suriah. Menurut kelompok oposisi sekuler, jumlah itu menunjukkan pengabaian yang disengaja.
Penyelidikan terhadap tuduhan ini turut menargetkan pemimpin veteran Gerakan Ennahdha, Rached Ghannouchi. Investigasi telah berlangsung sejak presiden yang sangat anti-Islame tersebut memecat pemerintah dan menangguhkan parlemen pada Juli 2021.
Penangkapan tokoh nomor dua dalam partai itu terjadi hanya beberapa hari sejak hampir 90 persen pemilik suara memboikot pemilihan parlemen baru yang dibentuk Presiden Tunisia, Kais Saied, setelah perebutan kekuasaan besar-besarannya pada 2021.
Membela tindakannya, Saied menyebut perlu melakukan perebutan kekuasaan demi mengakhiri krisis politik yang menyertai transisi Tunisia menjadi demokrasi usai revolusi Musim Semi Arab 2011.
Tetapi, upaya untuk melegitimasi kekuasaan barunya telah berulang kali diserang para pemilik suara. Mereka memboikot referendum pada Juli lalu memboikot pemilu parlemen pada Sabtu (17/12).
Gerakan Ennahdha—yang memboikot pemungutan suara seperti hampir semua partai di negara itu—lantas menuduh pemerintah Saied menargetkan para pemimpinnya secara sistematis.
Partai tersebut meyakini, pihak berwenang mencoba mengalihkan perhatian dari seruan masyarakat untuk pengunduran diri Saied.
"Penangkapan Larayedh menandai upaya putus asa oleh administrasi kudeta dan presidennya, Kais Saied, untuk menutupi sandiwara pemilihan parlemen yang diboikot oleh 90 persen pemilih," tegas Gerakan Ennahdha, dikutip dari AFP, Selasa (20/12).
Tudingan ini datang pula dari Presiden National Salvation Front (NSFT), Ahmed Nejib Chebbi. Dia mengatakan, penangkapan tersebut bertujuan mengalihkan perhatian dari hasil pemilu.
NSFT adalah koalisi oposisi utama negara itu yang mencakup Ennahdha. Pihaknya menegaskan, jumlah pemilih yang sedikit seharusnya menjadi isyarat bagi Saied untuk mundur.
Tetapi, Saied justru memukul balik para pengkritiknya.
Dia menggarisbawahi, beberapa dari mereka pun memiliki tuntutan pidana. Komentar terselubung tersebut merujuk kepada penyelidikan terhadap para pejabat Gerakan Ennahdha.
