kumparan
20 Agustus 2019 11:05

Dituduh Sampaikan Ceramah Rasial, Zakir Naik Minta Maaf

Kuliah umum Zakir Naik di Yogyakarta
Kuliah umum Zakir Naik Foto: Andreas Fitri Atmoko/Antara
Penceramah asal India, Zakir Naik, meminta maaf atas komentar kontroversialnya. Ucapan Zakir dua pekan lalu dinilai mengeluarkan pernyataan rasial terhadap etnis Tionghoa dan India di Malaysia.
ADVERTISEMENT
Zakir Naik, yang telah memenuhi panggilan polisi sebanyak dua kali, menyatakan ucapannya dipelintir oleh penentangnya.
Zakir Naik (NOT COVER)
Zakir Naik
"Saya merasa harus meminta maaf kepada semua orang yang merasa sakit hati atas kesalahpahaman ini, saya tak ingin ada yang menyimpan perasaan buruk pada saya," kata Zakir seperti dikutip dari The Star, Selasa (20/8).
Zakir mengatakan, ia sama sekali tidak bermaksud menyampaikan pernyataan rasial. Apalagi sampai menimbulkan perselisihan antarmasyarakat di Malaysia.
"Saya tak ada keinginan untuk mengecewakan individu dan masyarakat. Itu bertentangan dengan prinsip dasar Islam dan saya ingin menyampaikan permintaan maaf tulus atas kesalahpahaman ini," sambung dia.
Ia menegaskan, tujuan utamanya menyampaikan ceramah adalah untuk menyebar perdamaian. Namun, ada kelompok atau individu yang mencoba mencegah dirinya menjalankan tujuannya.
ADVERTISEMENT
"Saya dituduh sebagai penyebab perselisihan rasial di negara ini dan para pencela saya memotong beberapa kalimat dan menambahi kebohongan di dalamnya," sambung dia.
Saat ini, Zakir merasa sedih. Sebab, warga non-Muslim berpikir bahwa ia seorang rasialis. Dugaan tersebut sama sekali tidak benar.
"Rasisme merupakan kejahatan yang saya lawan dengan keras. Seperti halnya dalam Al-Quran, (rasisme) adalah kebalikan dari apa yang saya perjuangan sebagai penceramah Islam," tegasnya.
Zakir tersandung masalah hukum terkait ucapannya yang menyebut warga Tionghoa sebagai tamu lama di Malaysia. Ketika itu Zakir meminta warga Tionghoa kembali ke negaranya.
Dalam kesempatan serupa, Zakir Naik juga menyebut warga Hindu di Asia Tenggara punya hak 100 persen lebih banyak dibanding umat Islam di India.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan