Dokter Militer Thailand Berikan Vaksin COVID-19 Palsu ke Pasukan PBB di Sudan

3 Maret 2021 0:50 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Seorang tentara Angkatan Udara AS mendapat vaksin virus corona di Pangkalan Udara Osan di Pyeongtaek, Korea Selatan, Selasa (29/12). Foto: U.S. Air Force/DVIDS/Handout via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang tentara Angkatan Udara AS mendapat vaksin virus corona di Pangkalan Udara Osan di Pyeongtaek, Korea Selatan, Selasa (29/12). Foto: U.S. Air Force/DVIDS/Handout via REUTERS
ADVERTISEMENT
Seorang dokter militer Thailand memberikan vaksin COVID-19 palsu kepada pasukan penjaga perdamaian PBB di Sudan Selatan. Militer Thailand mengkonfirmasi, jika dokter militer menyuntikkan air, bukan vaksin kepada para pasukan.
ADVERTISEMENT
Dikutip The Straits Times, Komandan Militer Chalermpol Srisawat mengatakan, vaksin palsu berisi air itu telah disuntikkan kepada 273 tentara dengan menagih pembayaran sejumlah USD 20.
Kecurigaan kemudian muncul dari seorang tentara. Lantaran setelah diperhatikan, botol yang digunakan dalam penipuan vaksinasi itu tidak berlabel. Tentara itu kemudian memberi tahu atasannya dan terungkap bahwa botol itu berisi air biasa.
Ilustrasi vaksin corona. Foto: Dado Ruvic/REUTERS
Perwakilan medis PBB kemudian meminta pejabat Angkatan Darat Thailand untuk memulangkan oknum dokter tersebut kembali ke Thailand. Juga minta agar mencegah insiden seperti itu terjadi lagi.
Dokter tersebut akhirnya kembali ke Thailand, namun melarikan diri dari tugas, sampai akhirnya pihak militer Thailand memecat dan mencabut izin medisnya. Dia dilaporkan masih dalam pelarian, sementara orang tuanya mengatakan dia belum kembali ke rumah.
ADVERTISEMENT
Jenderal Chalermpol menegaskan bahwa insiden itu tidak akan mempengaruhi kepercayaan PBB terhadap militer Thailand.
Penipuan vaksin itu terungkap dari laporan Transparency International berjudul, 'Tantangan Vaksin COVID-19 yang Tak Terucapkan - Distribusi dan Korupsi'. Di situ menyebutkan dokter militer itu bertugas di rumah sakit lapangan di Sudan Selatan dari Desember 2019 hingga Desember 2020. Ia diskors dari tugas menunggu penyelidikan atas tuduhan penipuan.