Dokter PPDS RSUP Sardjito Dipukul Keluarga Pasien, Sempat Ngaku Keluarga Dirut
ยทwaktu baca 4 menit

Seorang dokter yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) atau dokter residen anestesi di RSUP Dr Sardjito berinisial EN jadi korban pemukulan oleh anak pasien.
Dokter residen itu berjenis kelamin laki-laki. Sementara pelaku adalah seorang perempuan.
Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan menjelaskan, saat itu UGD RSUP Dr Sardjito menerima pasien dalam kondisi kritis pada Jumat (22/8), rujukan dari Rumah Sakit Soerojo, Magelang, Jawa Tengah.
Saat datang, pasien sudah menderita pendarahan lambung. Pasien diinformasikan sudah sempat henti jantung di rumah sakit sebelumnya.
Tujuan rujukan salah satunya adalah tindakan endoskopi melihat kondisi organ dalam. Prosedur di Sardjito harus memperbaiki kondisinya dahulu tidak bisa langsung endoskopi. Fase kritikal harus ditangani dahulu.
"Malam itu, ternyata kondisinya makin buruk. Kita sudah berupaya maksimal sesuai dengan prosedur di bawah pengawasan dokter anestesi yang ketat ternyata beliau tidak bisa tertolong dan meninggal (pada Sabtu pagi)," kata Banu ditemui di RSUP Dr Sardjito, Senin (25/8).
Saat itu dokter PPDS ada dua, selain EN ada satu dokter PPDS perempuan. Tapi yang mengalami kekerasan hanya EN saja.
"Dia yang terkena kontak fisik tersebut," katanya.
EN mendapatkan pukulan tetapi dia bisa menangkis dengan lengannya. Usai kejadian EN pun sempat visum.
"Memang dipukul, begitu. Kemudian karena yang mukul cewek dia sendiri mau jatuh. Nah residen kami sempat memegangi supaya dia (pelaku) nggak jatuh," katanya.
Sempat Ngaku Keluarga Dirut Sardjito
Pelaku yang oleh Sardjito tak disebutkan namanya ini mengaku dalam kondisi emosional karena kematian orang tuanya. Saat pemukulan itu pelaku sempat menyebut dirinya keluarga Direktur Utama RSUP Dr Sardjito.
"Ini perlu kami luruskan keluarga pasien yang mengaku keluarga dirut, itu bukan keluarga dirut," jelasnya.
"Dia juga bukan dari tempat (asal) ibu direktur kami," katanya.
Banu mengatakan nama Dirut RSUP Dr Sardjito dicatut saat peristiwa itu.
"Ketika saat emosional itulah salah satu keluarga menyatakan kami keluarganya Bu Direktur. Saat emosional itu. Sehingga muncul lah informasi ini keluarganya Bu Direktur," katanya.
Pelaku Bukan Dokter
Dalam kabar yang beredar di media sosial, pelaku disebut merupakan dokter. Banu mengatakan, pelaku bukan tenaga kesehatan.
Yang merupakan dokter adalah adik pelaku yang berinisial H. Dokter tersebut juga tidak bertugas di RSUP Dr Sardjito.
"Itu yang melakukan bukan nakes tersebut tetapi keluarganya," jelasnya.
Anak pasien yang berprofesi sebagai dokter saat peristiwa terjadi sedang mengurus jenazah orang tuanya.
Berakhir Damai
Setelah insiden itu, dilakukan pertemuan antara pihak pelaku dan korban. Saat itu pelaku mengaku meminta maaf atas peristiwa tersebut.
"Kita sudah bertemu bersama artinya sepakat untuk menyelesaikan ini secara mediasi. Kami sangat memberikan perlindungan terhadap tenaga medis yang ada di kita. Kita tidak membiarkan bentuk apa pun intimidasi dan sebagainya terhadap SDM kita," jelas Banu.
Dalam pernyataannya, perwakilan keluarga pelaku menyampaikan permintaan maaf kepada korban. Kemudian menegaskan tidak ada hubungan keluarga Dirut RSUP Dr Sardjito.
Lalu, menyampaikan peristiwa itu terjadi karena emosional semata dan berkomitmen mendukung penuh zero tolerance bullying di rumah sakit.
Di samping pernyataan sikap ini, Banu mengatakan sudah ada pula surat akta penyelesaian sengketa yang ditandatangani oleh RSUP Dr Sardjito dan pihak keluarga.
Kenapa Tak Bawa ke Ranah Hukum Pidana?
Banu mengatakan dirinya yang menyuruh EN visum setelah peristiwa ini. Tetapi soal ke ranah pidana merupakan hak EN.
"Pemikiran kami terutama saya bahwa ini kita selesaikan di ranah pidana. Dalam kapasitas ini kami mengikuti prinsipal. Orang yang dipukul dan keluarga yang memukul. Di awal prinsipal memang belum kami mintai keterangan lebih lanjut. Namun setelah kita panggil menyatakan permintaan maaf dan lain sebagainya," katanya.
Menurut Banu EN menyatakan menerima permintaan maaf pelaku dan persoalan ini sudah selesai. Korban saat ini juga tengah fokus agar pendidikannya selesai.
"Ini tetap kita hormati tetapi mereka (korban) tetap dalam perlindungan kami," tegasnya.
