Dominasi Sapu-sapu di Ciliwung, Tanda Sungai Tak Baik-baik Saja

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menunjukkan ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) hasil tangkapannya di sepanjang Sungai Ciliwung kecil, kawasan Pasar Baru, Jakarta, Kamis (29/9/2022). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga menunjukkan ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) hasil tangkapannya di sepanjang Sungai Ciliwung kecil, kawasan Pasar Baru, Jakarta, Kamis (29/9/2022). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Sungai Ciliwung disebut menjadi salah satu wilayah dengan populasi ikan sapu-sapu terbanyak.

Hal ini diungkapkan oleh pegiat lingkungan sekaligus konten kreator Arief Kamarudin, berdasarkan pengamatan langsungnya selama bertahun-tahun.

Menurut Arief, keberadaan ikan sapu-sapu sebenarnya tidak hanya ditemukan di Ciliwung. Ia mengaku pernah mengecek sejumlah perairan lain, seperti Setu Babakan hingga danau di kawasan Universitas Indonesia.

Namun, dari berbagai lokasi tersebut, Ciliwung tetap menjadi yang paling dominan.

“Kalau ditanya paling banyak di mana, gua rasa di Ciliwung. Karena wilayahnya luas banget,” kata Arief kepada kumparan, Senin (30/3).

Sungai Panjang, Populasi Sapu-sapu Melimpah

Warga menunjukkan ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) hasil tangkapannya di sepanjang Sungai Ciliwung kecil, kawasan Pasar Baru, Jakarta, Kamis (29/9/2022). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Arief menjelaskan, salah satu faktor yang membuat populasi ikan sapu-sapu di Ciliwung sangat besar adalah panjang sungai itu sendiri. Ciliwung membentang hingga sekitar 120 kilometer, dari wilayah Bogor hingga Jakarta Utara.

Menurutnya, dengan bentang yang luas, ikan sapu-sapu memiliki ruang berkembang biak yang sangat besar.

“Kalau di UI itu banyak karena terkonsentrasi di satu titik. Tapi Ciliwung panjang, jadi kalau dijumlah totalnya jauh lebih banyak,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi sungai yang tercemar justru mendukung pertumbuhan ikan sapu-sapu.

Spesies ini dikenal mampu bertahan di lingkungan dengan kadar oksigen rendah, berbeda dengan banyak ikan lokal.

Tanda Ekosistem Bermasalah

Warga menunjukkan ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) hasil tangkapannya di sepanjang Sungai Ciliwung kecil, kawasan Pasar Baru, Jakarta, Kamis (29/9/2022). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Maraknya ikan sapu-sapu di Ciliwung, menurut Arief, menjadi indikator bahwa kondisi ekosistem sungai sedang tidak baik-baik saja.

Pasalnya, ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang cenderung mendominasi ketika lingkungan sudah terganggu.

“Karena kondisi sungainya memungkinkan, akhirnya sapu-sapu yang survive. Ikan lain banyak yang nggak kuat,” jelasnya.

Selain itu, ikan sapu-sapu juga memiliki kemampuan berkembang biak yang cepat.

Arief menggambarkan, meski sudah bertahun-tahun ditangkap dalam jumlah besar, populasinya tetap tidak berkurang signifikan.

“Bayangin aja, tiap hari bisa diambil puluhan kilo sampai bertahun-tahun tapi nggak habis,” katanya.

Bukan Sekadar Banyak, Tapi Mengkhawatirkan

Warga menunjukkan ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) hasil tangkapannya di sepanjang Sungai Ciliwung kecil, kawasan Pasar Baru, Jakarta, Kamis (29/9/2022). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Meski tidak memiliki data pasti, Arief menilai jumlah ikan sapu-sapu di Ciliwung sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Ia melihat langsung bagaimana ikan ini mendominasi ruang dan sumber makanan di sungai, yang pada akhirnya berdampak pada ikan lokal.

“Jumlah pastinya nggak tahu, tapi dari gambaran di lapangan, itu sudah banyak banget,” ujarnya.

Bagi Arief, fenomena ini tidak bisa dilihat sekadar sebagai persoalan jumlah. Lebih dari itu, maraknya ikan sapu-sapu mencerminkan masalah yang lebih besar, yakni kerusakan ekosistem sungai akibat aktivitas manusia.

“Ini bukan cuma soal sapu-sapu, tapi soal kondisi sungainya juga,” kata dia.

Sejumlah ikan sapu-sapu terlihat berada di sungai di samping Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (31/3/2026), yang menyita perhatian warga yang melintas di trotoar. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Hal senada juga diungkapkan Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Triyanto. Ia mengatakan, ikan sapu-sapu merupakan spesies asing invasif yang memiliki kemampuan berkembang pesat dan beradaptasi di berbagai kondisi lingkungan.

Salah satu habitat ikan sapu sapu yang paling terlihat ada di aliran Sungai Ciliwung.

“Ikan sapu-sapu tergolong ikan asing invasif, karena ikan ini bukan ikan asli dari perairan di Indonesia, termasuk di Sungai Ciliwung,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Selasa (31/3).

Ia menjelaskan, karakteristik biologis ikan ini membuatnya mampu berkembang dengan sangat cepat. Tingkat reproduksinya tinggi dengan jumlah telur yang banyak dalam satu siklus hidup.

Ikan sapu-sapu terlihat berada di sungai di samping Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (31/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

“Ikan sapu sapu memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat, jumlah telurnya banyak (fekunditasnya tinggi), siklus hidupnya mencapai dewasa cukup cepat dan dapat bereproduksi sepanjang tahun,” jelasnya.

Selain itu, kata Triyanto, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi yang luas terhadap berbagai kondisi lingkungan, termasuk perairan dengan kualitas rendah.

“Ikan sapu sapu memiliki adaptasi luas, tahan terhadap variasi lingkungan dengan kondisi yang kualitasnya rendah (oksigen rendah, dan perairan tercemar yang kaya bahan organik),” lanjut Triyanto.