Donat Pemanis Hidup Eka

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Eka berjalan menyusuri jalan menjual donat. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Eka berjalan menyusuri jalan menjual donat. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

"Kueeee, donaaaaat..."

"Donat, masih hangaaat..."

Sapaan itu samar-samar terdengar dari ujung gang komplek rumah di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur. Suara ini begitu membekas di benak para warga yang sering membeli donat hangat dari seorang penjual yang rutin berkeliling di kompleks perumahan.

Eka (9), terlihat amat muda. Tak ada raut muram di wajahnya, hanya sesekali terlihat lelah membawa kotak donat di tangan kirinya. Eka yakin sekali, donatnya pasti akan habis, hari itu juga.

Hari itu Eka benar-benar bersemangat. Eka ditemani sang adik, Eki. Keduanya tampak seragam memakai kaos berwarna kuning.

Tak kenal lelah, Eka terus semangat menjual donat. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Tak kenal lelah, Eka terus semangat menjual donat. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Mereka saling sahut menyahut. Berkeliling menjajakan donat hangat di teriknya matahari yang terasa di atas kepala itu. Rasa donat yang mereka tawarkan pun bermacam-macam. Ada coklat, polos, dan yang paling digemari, kacang hijau. Eka mengakui, dirinya sering ngambek kalau sang adik ikut, tetapi baju yang dipakai tak seragam.

"Enggak mau jualan kalau nggak seragaman sama adik," tutur bocah kelas 2 sekolah dasar ini.

Kompak, itulah yang saya tangkap dari kedua anak ini. Tak ada perkelahian ala anak-anak seusianya. Di usia yang sangat muda ini, Eka rela berjualan. Tujuannya, untuk membantu sang ayah menopang keuangan keluarga.

"Alhamdulillah laku, mungkin pada kasihan lihat Eka, kadang Eka suka dikasih duit sama bapak-ibu atau orang. Uangnya buat bayar sekolah," ujarnya seraya melangkah cepat.

Eka berjualan donat hampir setiap hari. Kadang sendiri namun seringkali berdua dengan sang adik. "Abis pulang sekolah paling jam 2. dari jam 2 sampai jam 3, kadang kalau rezeki cuman setengah jam, terus jalan lagi jam 4 sorean,” katanya.

Pelanggannya pun beragam, ada dari anak seusianya, ada juga ibu-ibu yang simpati kepada Eka dan Eki.

Senyum manis Eka mengembang saat donatnya terjual. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Senyum manis Eka mengembang saat donatnya terjual. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Eka setiap hari berkeliling di daerah Balai Rakyat, Galur, hingga Utan Kayu Utara. Dirinya mengaku keuntungan yang diperoleh tak begitu banyak untuk satu buah donat hangatnya.

"Ini bawa 60 biji. Nanti bawa 60 lagi. Eka hanya untung Rp 400 dari satu donat. Buat nabung biaya sekolah,” ujarnya.

Senyum Eka dan Eki merekah sekali melihat dagangannya hampir habis menghasilkan rupiah demi rupiah untuk dibawa pulang.

Eka tinggal bersama kedua orang tuanya, mengontrak di Jalan Balai Rakyat II Jakarta Timur. Di rumah kontrakan, Eka harus berbagi kasur dengan kedua orang tuanya dan beberapa adiknya yang masih kecil di ruangan seluas sekitar 3x4 meter dan penerangan lampu yang remang-remang.

Sementara itu, sang ayah, Tatan membantu Eka dari rumah. Ruangan yang dikontraknya itu pun terpaksa harus dibagi dengan dapur tempat membuat donat sehari-hari. Tatan mengaku telah lama berjualan donat dengan Eka.

"Sudah ada hampir 2 tahunan. Sebelumnya sejak saya di-PHK dulu di Cikarang, terus jualan tahu ke Jakarta bangkrut, lalu ke Jakarta lagi, Alhamdulillah berkah sekali,” tutur Tatan.

Melihat keuletan Eka, justru membuat sang ayah terharu. Tatan yang saya temui di kontrakannya ini sesekali bercerita tentang kehidupan dirinya dengan kondisi keluarga yang dialaminya saat ini.

Eka berjualan donat. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Eka berjualan donat. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

"Alhamdulillah anak-anak juga mau membantu kondisi keuangan di rumah. Biasanya Eka jualan berdua. Sama adiknya ini," ujar pria asli Purwakarta itu.

Tatan mengaku rela mengontrak dengan ruangan persegi panjang seukuran 3x4 itu demi dapat bertahan hidup di kerasnya Ibukota ini. "Sebulan Rp 650 ribu. Pindah dari tempat lama yang suka bocor plafonnya. Kebetulan sebelah kakak, jadi kumpul lah sama keluarga."

"Rantau ke sini nggak bawa apa-apa selain baju. Saya masih inget rantau ke Jakarta itu pun pinjam uang tetangga Rp 300 ribu. Hidup saya pedih banget di kampung,” kata Tatan.

"Pernah Eka dipanggil sama tetangga, ditanya udah makan atau belum si Eka bilang ‘udah tadi di rumah, udah kenyang’. Aduh di situ saya nangis, padahal kita belum makan apa-apa dari tadi itu,” kisahnya.

Selama berjualan donat, Eka tidak pernah mengeluh. Tatan mengaku dirinya masih sering merasa sedih melihat Eka berjualan.

Eka si penjual donat. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Eka si penjual donat. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

"Saya inget banget berjualan berdua sama Eka dulu, jualan donat pakai baskom. Kadang saya juga ngerasa sedih, suka nangis sendiri kalau melihat anak saya dagang keliling seperti itu, cuman memang itu keinginan dia yang pengen dagang,” ujar Tatan.

Eka mengakui, dirinya memiliki cita-cita untuk menyenangkan orang tuanya. Dia ingin menjadi drummer profesional, sekolah di sekolah musik ternama saat besar kelak.

"Mau kursus drum. Pengen jadi drummer. Cita-cita mau main musik. Lagi dagang seneng banget lihat waktu itu yang mukul gentong (drum) gitu waktu jualan," ujar bocah yang gemar pelajaran matematika dan agama itu.

Walaupun kini Eka harus berjualan donat untuk menyambung hidup, Eka tidak merasa malu sedikitpun kepada orang-orang di sekelilingnya.

"Ngapain malu, daripada ngamen, nyuri. Tapi kadang malu kalau suka diledekin, orang suka ngikutin kata-kata, ‘donaat donaaat’ aku sama adik," tutur bocah berpostur kurus ini.