DPR Kritik Istilah ODP, PDP, OTG Diganti: Jadi Bahasa Inggris, Susah Orang Paham

kumparanNEWSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota Komisi IX DPR, Fraksi PAN, Saleh Partaonan Daulay Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Anggota Komisi IX DPR, Fraksi PAN, Saleh Partaonan Daulay Foto: Dok. Pribadi

Keputusan Kemenkes mengubah istilah orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pemantauan (ODP), dan pasien dalam pengawasan (PDP) menjadi suspek, probable, dan konfirmasi menuai kritikan. Menurut anggota Komisi IX DPR RI Saleh Daulay Partaonan, istilah baru tersebut menjadi lebih rumit karena menggunakan diksi Bahasa Inggris.

"Kalau yang baru ini, yang ODP, OTG, PDP diganti, malah pakai Bahasa Inggris, jadi suspect, probable, confirmation. Jadi agak susah orang memahami," kata Saleh kepada kumparan, Rabu (15/7).

Padahal, untuk bisa mensosialisasikannya, pemerintah harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat. Saleh mencontohkan, istilah new normal yang justru membuat masyarakat salah kaprah.

Anggota Komisi IX DPR, Fraksi PAN, Saleh Partaonan Daulay Foto: Dok. Pribadi

"Kalau new normal, kan Bahasa Inggris kemudian di-Bahasa Indonesia-kan jadi adaptasi baru, supaya orang paham. Sekarang yang ODP, OTG, dan PDP di-Bahasa Inggris-kan, diganti suspect dan lain-lain. Mana lebih mudah?" imbuhnya.

Ia khawatir, kebijakan ini akan membuat pemerintah hanya fokus pada sosialisasi istilah-istilah baru. Padahal, masih ada tugas lain yang harus diselesaikan, misalnya menemukan vaksin COVID-19.

"Saya khawatir kita masih berkutat dengan sosialisasi diksi, akhirnya kita lupa target sasaran kita, memutus mata rantai penyebaran COVID-19 ini atau sekaligus mencari vaksin, menghindari agar kita tidak terserang penyakit ini," tegas Saleh.

kumparan post embed

Bahkan, menurut Saleh, jika nantinya masalah COVID-19 akan masuk ke kurikulum pendidikan, para pelajar hanya akan disibukkan dengan hal-hal yang tidak substansial. Salah satunya adalah membahas soal pemilihan diksi.

"Nanti lama-lama, orang di Fakultas Kedokteran disuruh ujian, bukan ujian terkait cara menghadapi atau mengatasi COVID-19, tapi memilih diksi kata yang tepat dalam penanganan COVID-19. Padahal itu kan bukan substansi, jauh dari substansi," pungkasnya.

***

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

embed from external kumparan