dr Reisa Bantah Mitos Vaksin dan COVID-19: Chip hingga Minum Minyak Kayu Putih

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
 dr Reisa Broto Asmoro. Foto: Dok. Satgas Gugus Tugas COVID-19
zoom-in-whitePerbesar
dr Reisa Broto Asmoro. Foto: Dok. Satgas Gugus Tugas COVID-19

Informasi hoaks hingga mitos terkait COVID-19 dan vaksin masih terus berkembang di masyarakat. Meski terkadang informasi itu seakan tak ilmiah, namun tak sedikit masyarakat yang mempercayainya.

Pemerintah pun terus berupaya meluruskan informasi-informasi yang dinilai salah. Jubir pemerintah untuk penanganan COVID-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr Reisa Broto Asmoro menjawab sejumlah mitos terkait vaksinasi dan COVID-19, yang berkembang di masyarakat.

Mitos Chip di Vaksin

Tenaga kesehatan bersiap menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat Serbuan Vaksin Masyarakat Maritim di Kantor Lurah Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (18/8/2021). Foto: Aprilio Akbar/ANTARA FOTO

dr Reisa, dalam acara bincang-bincang yang digelar virtual, Jumat (27/8) malam, mengatakan, salah satu mitos yang banyak berkembang di masyarakat adalah keberadaan chip yang disuntikkan ke dalam tubuh melalui vaksin COVID-19.

"Jadi ini mitos yang banyak banget berkembang karena pada tidak paham isi vaksin itu sebenarnya apa. Sebenarnya isi vaksin itu mau itu vaksin buatan Amerika, Eropa, China, itu semuanya punya standar internasional yang sama," ujar dr Reisa dikutip dari Antara, Sabtu (28/8).

Infografik Wajib Pakai Masker. Foto: kumparan

Dia menjelaskan vaksin hanya berisi komponen virus serta bahan-bahan yang membuatnya awet dan berkhasiat di dalam tubuh.

"Jadi tidak ada tuh isi chip segala macam," tegas dia.

Mitos Merokok Tangkal COVID-19

Ilustrasi meroko saat mengendarai mobil. Foto: dok. Istimewa

Berikutnya, mitos tentang merokok dapat menangkal virus corona. Reisa menegaskan hal itu tidak benar. Dia mengatakan, merokok justru memperburuk kondisi tubuh, terlebih terinfeksi COVID-19.

Merokok, kata dia, juga berpotensi menularkan droplet ke lingkungan sekitar, apalagi jika dilakukan di ruangan yang tidak memiliki sirkulasi udara yang bagus. Hal itu membuat virus bertahan di udara dan berpotensi terhirup orang lain.

Mitos Anak Kebal COVID-19

Ilustrasi anak sakit pakai masker. Foto: Shutter Stock

dr Reisa juga membantah mitos yang menyebut anak-anak kebal terhadap COVID-19. Dia mengatakan, tingkat kematian anak-anak karena COVID-19 di Indonesia justru tergolong tinggi.

"Jadi jangan salah kaprah, anak-anak ini bukan berarti kebal dan justru malah kita harus bersedih karena di Indonesia ini tingkat kematian anak karena COVID-19 ini tinggi sekali dibanding negara lainnya. Jadi kita harus hati-hati ekstra jaga anak-anak, ajarkan mereka protokol kesehatan 3M," kata dr Reisa.

Mitos Tak Perlu Prokes Usai Divaksin

Warga menggunakan masker dan pelindung wajah saat menggunakan KRL dari stasiun Bogor. Foto: Adek Berry/AFP

Mitos selanjutnya adalah anggapan bahwa protokol kesehatan (prokes) dapat diabaikan setelah menerima vaksin. dr Reisa menilai hal itu salah kaprah, karena vaksinasi tidak membuat tubuh menjadi kebal 100 persen.

Vaksin, kata dia, merupakan bagian dari ikhtiar membentengi diri dari penularan COVID-19. Selain vaksin, ikhtiar lain yang harus dilakukan adalah tetap menerapkan prokes.

"Nantilah suatu saat kalau misalnya semuanya sudah divaksinasi, kita sudah mempunyai herd immunity atau kekebalan imunitas, barulah kita bisa berharap kita bisa melonggarkan si protokol kesehatan ini," kata Reisa.

Mitos Minum Minyak Kayu Putih Sembuhkan COVID-19

Ilustrasi minyak kayu putih. Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Dalam kesempatan itu, dr Reisa turut menjawab mengenai mitos tentang meminum minyak kayu putih dapat menyembuhkan COVID-19.

Dia menegaskan, mengkonsumsi minyak kayu putih justru dapat membahayakan tubuh dan berpotensi menimbulkan penyakit baru.

Mitos Imun Usai Sembuh COVID-19 Lebih Baik daripada Divaksin

Warga disuntik vaksin saat ikuti Vaksinasi Merdeka di Stadion Pakansari Bogor, Sabtu (14/8/2021). Foto: Dok. Kadin

Terakhir, Reisa menjawab mengenai mitos yang menyebut imunitas orang yang pernah terinfeksi COVID-19 lebih baik dari orang yang divaksin.

Dia mengatakan, daya tahan tubuh yang terbentuk dari orang yang terinfeksi COVID-19 berbeda-beda, sehingga tak bisa digeneralisasi semua orang yang sembuh bakal memiliki imun yang kuat. Yang penting saat ini, kata dia, mengikuti vaksinasi dan taat prokes.

"Ada yang bentuknya ringan, ada yang terbentuknya optimal. Jadi yang lebih baik dilakukan adalah perlindungan justru dari vaksin, karena vaksin itu bisa memberikan perlindungan yang memang sudah tertakar, sudah sesuai rekomendasi, jadi optimal," ujar Reisa.

"Apalagi kalau sempat sakitnya gejalanya ringan, biasanya antibodinya justru tidak terlalu optimal seperti yang diharapkan dan biasanya tidak bertahan lama seperti dari vaksin," pungkas dia.