News
·
2 Februari 2021 9:20

Drone Emprit: Mayoritas Percakapan Medsos soal Abu Janda Natural, Bukan Bot

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Drone Emprit: Mayoritas Percakapan Medsos soal Abu Janda Natural, Bukan Bot (262190)
Ismail Fahmi, Analis Media Sosial Drone Emprit. Foto: Fauzan Dwi Anangga/kumparan
Abu Janda kembali membikin kontroversi. Cuitannya di Twitter soal dugaan rasisme ke Natalius Pigai dan sebutan Islam Arogan berujung 2 laporan polisi dari KNPI.
ADVERTISEMENT
Pro-kontra di media sosial (medsos) pun terjadi. Desakan untuk memproses hukum Abu Janda menguat. Namun, ada juga yang membela sosok bernama asli Permadi Arya itu.
Menggunakan social network analysis (SNA), Drone Emprit memperlihatkan pro kontra tersebut. Pada 21 hingga 30 Januari, terlihat pihak yang kontra dengan Abu Janda lebih banyak ketimbang yang membelanya.
Drone Emprit: Mayoritas Percakapan Medsos soal Abu Janda Natural, Bukan Bot (262191)
SNA Drone Emprit soal Abu Janda 21-30 Januari 2021. Foto: Drone Emprit/Ismail Fahmi
"Memang lebih besar ini saat itu percakapannya (soal Abu Janda) banyak yang kontra. Pihak Abu Janda belum memprediksi, belum siap-siap," kata Founder Drone Emprit Ismail Fahmi kepada kumparan, Senin (1/2).
Saat isu rasisme dan cuitan Islam Abu Janda dipersoalkan, sejumlah akun kenamaan sempat menyerang pria yang dikenal sebagai pegiat medsos itu. Salah satunya akun eks Menteri KP Susi Pudjiastuti yang mengajak warganet unfollow akun macam Abu Janda karena dianggap selalu menyinggung perasaan publik.
ADVERTISEMENT
Namun keadaan berbalik pada tanggal 31. SNA Abu Janda menunjukkan yang pro sedikit lebih banyak ketimbang yang tadinya kontra. Fahmi menyebut ini karena kubu Abu Janda melakukan serangan balik.
"Hari berikutnya setelah (kubu Abu Janda) konsolidasi, mereka menyerang balik. Dan itu kentara banget. Bu Susi dilawan, terus yang lain-lain banyak yang bantuin. Kemudian Mbak Alisa Wahid diserang segala macam. Semua yang kira-kira kontra Abu Janda itu diserangin," kata pengamat medsos itu.
Terlepas pro kontra yang terjadi terkait dengan isu rasisme Abu Janda, Fahmi menilai mayoritas postingan yang dicuit di Twitter merupakan natural. Artinya, percakapan yang berlangsung didominasi oleh cuitan manusia.
Data Drone Emprit mengklasifikasikan cuitan soal Abu Janda dari 21-30 Januari dalam lima kategori skor dari 0-5. Semakin kecil skornya, semakin menunjukkan bahwa itu adalah percakapan manusia. Sedangkan, skor tertinggi menunjukkan karakteristik cuitan oleh bot.
ADVERTISEMENT
Dalam percakapan soal Abu Janda pada grafik di atas terlihat, postingan Twitter didominasi oleh kategorisasi skor bot 0-1 berjumlah 36.398. Sedangkan skor dengan range 4-5 hanya 3.108.
"Percakapan yang sifatnya oleh robot itu yang grafiknya yang tengah (coklat-oranye) sama yang kanan (merah). Kalau (soal Abu Janda) ini kan (banyak) yang sebelah kiri yang warna hijau. Hijau itu manusia, merah itu bot, tengahnya itu cyborg," terang Fahmi.
Setelah dihitung, rincian skor bot untuk percakapan di Twitter soal Abu Janda berada di angka 1,98. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas percakapan di topik tersebut tidak didominasi oleh akun-akun bot.
"Ya arahnya kan skor 1-2 percakapan itu masih natural. Artinya mayoritas percakapannya natural," kata dia.
ADVERTISEMENT
Dalam analisis ini, Fahmi menggunakan machine learning sebagai alat bantu menentukan mana akun bot dalam sebuah percakapan. Ada ribuan indikator yang digunakan untuk menilai apakah sebuah akun memiliki karakteristik bot.
"Kita enggak bisa bilang itu robot betulan, tapi si machine learning mendeteksi karakter dia perilakunya seperti robot. Misalnya Anda enggak pernah ngecuit, pernahnya ngeretwit saja, itu sering banget, itu dianggap kayak robot," jelasnya.
Selain indikator tadi, penentuan akun bot ini di antaranya juga dilihat dari jumlah follower palsu, isi cuitan yang cenderung copy-paste, hingga pola postingan berdasarkan waktu yang begitu teratur.
"Jadi banyak scoringnya, ada itu akun yang posting sehari hanya tiga kali di jam-jam tertentu saja. Jam 6 pagi, jam 12 siang, kemudian juga jam 6 sore. Sudah itu saja, lainnya dia enggak pernah ngeposting, ini kan temporal, secara waktu itu dia enggak manusia itu. Itu kayak robot," kata dia.
Drone Emprit: Mayoritas Percakapan Medsos soal Abu Janda Natural, Bukan Bot (262192)
Infografik 6 Kali Abu Janda Dilaporkan ke Polisi. Foto: kumparan
Meski percakapan natural, porsi kecil bot dalam percakapan Abu Janda diakui Fahmi tetap ada. Menariknya, karakteristik akun bot masih ditemukan di kedua belah pihak. Apa fungsinya?
ADVERTISEMENT
"Untuk mengamplifikasi berita misalnya, untuk mengamplifikasi akun tertentu kan saking besarnya untuk naikin ada (bot). Cuma komposisinya enggak besar banget. Beda kalau kayak analisisku tentang Film Jejak Khilafah waktu itu, justru manusianya sedikit," terangnya.
Menurut Fahmi, bot ini adalah akun yang diprogram sehingga dapat mengirim banyak percakapan dan terus diulang-ulang dalam satu wacana atau isu.

Menghindari Bot dan Buzzer

Di era media sosial, keberadaan buzzer dan bot memang tidak terelakan. Fahmi melihat bahwa narasi yang dimunculkan bot atau buzzer bakal berkompetisi dengan manusia. Karenanya ia mengimbau warganet agar membagikan atau mendasarkan sumber medsos yang berasal dari ahlinya.
"Kalau agama ya dari ahli agama, kalau sains ya ahli sains, kalau virus-vaksin ya ke dokter-epidemiolog, supaya internet kita isinya banyak hal yang positif yang benar gitu. Jadi kita bombardir dengan fakta, dengan data, dengan mereka yang dari ahlinya," kata Fahmi.
Drone Emprit: Mayoritas Percakapan Medsos soal Abu Janda Natural, Bukan Bot (262193)
Ilustrasi Buzzer Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Menurut pria yang pernah berkuliah di Belanda ini, buzzer bakal terus ada selama terdapat permintaan dan kebutuhan dari si pemesan. Jika tidak dilawan akan berakibat buruk bagi jagat medsos itu sendiri.
ADVERTISEMENT
"Akibatnya banyak konten-konten negatif, konten yang kontroversial itu yang mudah sekali orang ketika log ini medsos ketemunya yang kayak gitu. Itu kan bikin toxic," ujar Fahmi.
Ia menambahkan selain membagikan konten positif dan berasal dari ahlinya, perlu juga agar warganet tidak mengamplifikasi cuitan para buzzer.
"Cuekin, kita share aja yang bagus-bagus. Mungkin nanti akan berkompetisi (tersaring) konten yang bagus dan negatif," tutupnya.