Dua Jam Suram dan Mencekam di Kanjuruhan

"Apa kata dunia Indonesia tanpa Arema?"
Salah satu petikan lagu 'andalan' suporter Arema FC itu kini terdengar lebih sendu dari biasanya. Muram, tertunduk, bukan wajah kebahagiaan yang mengiringi lantunan lagu.
Biasanya, puluhan ribu kera Ngalam (arek Malang) menyemangati tim kesayangannya dengan lagu itu. Kini ia menjadi 'luka' bagi keluarga yang ditinggalkan orang terkasihnya akibat tragedi Kanjuruhan, Sabtu (1/10).
Bukankah lebih baik tidak ada sepakbola daripada terus mengorbankan nyawa?
Arief S (61) hanyalah pecinta Singo Edan yang ingin menikmati sepakbola. Ia datang ke tribun demi lambang Arema di dada saat pertandingan melawan Persebaya Surabaya.
Melawan Persebaya memang selalu 'spesial' bagi Arema. Seteru abadi, lebih dari sekadar derby penguasa Jawa Timur.
"Usai pertandingan pemain Arema FC masih di lapangan untuk meminta maaf kepada penonton, setelah itu beberapa masuk dengan official, akhirnya bersalaman. Tapi, teman-teman dari tribun menyusul mengungkapkan kekecewaan karena pemain mainnya kurang greget," ujar Arief kepada kumparan, Minggu (2/10).
Sergio Silva hingga sang kiper Adilson Maringa menjadi salah 2 'sasaran' suporter. Kebobolan 3 gol melawan Surabaya seakan menjadi 'aib' bagi sebagian suporter.
Apalagi ini baru terjadi setelah 23 tahun, rekor buruk yang tercipta.
Arief menyebut, kerusuhan belum meledak saat penonton mulai turun. Namun tak lama, beberapa botol minum dilempar dan bertebaran di pintu masuk ruang ganti bersamaan dengan petugas kepolisian yang membawa masuk para pemain masuk ke dalam.
Ini adalah awal sebuah tragedi.
Bentrok kemudian terjadi antara polisi dan suporter. Arief menduga, polisi kewalahan dan memilih untuk melakukan kekerasan dengan memukuli suporter.
Tameng hingga tongkat 'melayang' ke arah oknum suporter yang meronta. Menurut Arief, tak ada yang bisa terima dengan perlakuan tersebut.
Di sisi lain, Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta menjelaskan, ada suporter yang justru menyerang petugas. Sehingga situasi makin tak terkendali.
"Akhirnya banyak penonton ramai kacau dengan polisi dan tentara. Itu karena dipentungi ya Allah. Sebetulnya polisi nggak boleh sekeras itu, lah, itu menyalahi SOP, harusnya di 'halo' aja banyak tentara dan aparat, karena dikasari temennya ya akhirnya penonton lainnya (ikut)," tuturnya. "Tapi dari penglihatan saya, suporter tidak memukul para pemain. Intinya, pemainnya mau dikritik saja karena mainnya kurang bagus," imbuhnya. Gas Air Mata di Mana-mana
Kapolda Jatim menceritakan, polisi terpaksa menembakkan gas air mata ke salah satu tribun di Kanjuruhan. Agar massa suporter tak makin banyak yang merangsek ke lapangan.
Menurut laporannya, sudah ada 3 ribuan suporter yang berhasil masuk ke lapangan. Dari total 42 ribuan pendukung yang terdata.
"Kami ingin sampaikan bahwa dari 40 ribu penonton yang hadir kurang lebih, tidak semua anarkis, tidak semua kecewa. Hanya sebagian, sekitar 3000-an yang masuk turun ke lapangan. Sementara yang lain masih tetap di atas," kata Nico dalam konferensi pers.Situasi pun semakin tidak kondusif. Apalagi menurut Nico, ada oknum suporter yang menyerang aparat."Karena sudah mulai anarkis sudah menyerang petugas dan merusak mobil dan akhirnya karena gas air mata mereka keluar ke satu titik di pintu keluar. Yaitu kalau enggak salah di pintu 10 ya," tutur dia.Sementara dalam pandangan Arief di tribun, setelah polisi dan suporter bentrok, gas air mata ditembakkan ke tribun. Bukannya menenagkan, situasinya makin runyam.
"Nggak tahunya di tribun penonton semua ditembaki (gas air mata). Saya ditembaki, itu jaraknya kurang lebih 15 meter, nggak cuma sekali, berkali-kali. Di tribun kan orang nggak anarkis cuma lihat saja kenapa ditembaki," ungkap Arief.
"Begitu ditembak itu perih sekali, itu otomatis bahaya begitu ditembak meledak seperti petasan. Akhirnya ya pada mengumpat polisi semua. Untuk apa kami ditembaki, itu salah. Malah kacau akhirnya, ramai diserang, terus orang-orang lompat itu, marah betul," imbuhnya.
Cara menanggulangi kerusuhan suporter dengan gas air mata sebenarnya dilarang oleh FIFA. Hal ini tertuang dalam pasal 19 aturan FIFA menyoal Stadium Safety and Security Regulations.
"Untuk melindungi para pemain serta menjaga ketertiban umum diperlukan polisi di sekeliling lapangan," bunyi regulasi FIFA."Polisi atau petugas keamanan dilarang membawa atau menggunakan senjata api atau gas pengendalian massa," lanjut bunyi regulasi tersebut.
Akibatnya, Arief dan ribuan penonton lainnya terjebak di dalam stadion sembari menahan pedihnya gas air mata. Tak sedikit orang tua, perempuan hingga anak-anak yang ikut terjebak.
Arief juga melihat sejumlah perempuan dan ibu dengan anaknya yang mencoba menyelamatkan diri namun justru berakhir terinjak-injak.
"Saya 2 jam terjebak di stadion itu. Di tribun ada ibu bawa anak juga, anak kecil banyak perempuan. Banyak yang pingsan, itu salah polisi, apa tembak gas air mata malah jadi kacau. Polisi kalau disalahkan nggak mau, saya bisa ngomong itu salah itu. Saya lihat betul, alami betul," terangnya.
Arief menyebut, selama 2 jam terjebak ia dan ribuan suporter lainnya tidak berdaya menahan gas air mata. Sebagian memilih bertahan di tempat mereka masing-masing, namun tak sedikit juga yang berhamburan karena berusaha menyelamatkan diri.
Namun, menurut Arief, pintu keluar justru tidak segera dibuka, kepolisian dianggap tidak segera melakukan proses evakuasi.
"Selama dua jam itu pintu keluarnya malah masih disekat-sekat. Banyak yang panik, kan pintunya kecil. Polisi nggak segera melakukan evakuasi. Harusnya pintunya dibuka total, ini berarti kurang mengantisipasi," ungkapnya.
"Orang-orang panik juga ditembaki, kan, ya, pusing mau keluar nggak mampu, ya, diinjak-diinjak," tambah Arief.
Pernyataan Pemerintah
Menkopolhukam Mahfud MD angkat bicara terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan yang menewaskan ratusan orang. Kata Mahfud, ini bukan bentrok suporter Arema dan Persebaya yang bertanding Sabtu (1/10) malam.
"Perlu saya tegaskan bahwa tragedi Kanjuruhan itu bukan bentrok antar suporter Persebaya dengan Arema. Sebab pada pertandingan itu suporter Persebaya tidak boleh ikut menonton. Suporter di lapangan hanya dari Arema," kata Mahfud.
"Para korban pada umumnya meninggal karena desak-desakan, saling himpit, dan terinjak-injak, serta sesak napas. Tak ada korban pemukulan atau penganiayaan antar suporter," tuturnya.
Mahfud mengungkap, kapasitas stadion yang telah disesuaikan untuk pertandingan tersebut yakni 38 ribu orang. Namun tiket yang dicetak lebih dari itu. Padahal, aparat sudah mengusulkan agar jumlah penonton sesuai kapasitas.
"Jumlah penonton agar disesuaikan dengan kapasitas stadion yakni 38.000 orang. Tapi usul-usul itu tidak dilakukan oleh Panitia yang tampak sangat bersemangat. Pertandingan tetap dilangsungkan malam, dan tiket yang dicetak jumlahnya 42.000," tuturnya.
Sementara Presiden Joko Widodo meminta PSSI untuk menghentikan kompetisi Liga 1 2022/23.
'Untuk itu, saya memerintahkan PSSI untuk menghentikan Liga 1 sampai evaluasi dan perbaikan prosedur pengamanan dilakukan,'' kata Jokowi.
Jokowi juga memerintahkan Kapolri untuk melakukan investigasi atas kasus ini. Ia tak ingin insiden serupa terjadi lagi di kemudian hari.
Mungkin saja, 5 tahun, 10 tahun lagi, suporter dan banyak pihak melupakan tragedi Kanjuruhan. Namun ingatan keluarga 130 orang yang wafat akan panjang, dan membuat mereka membenci sepakbola.
