Dua Sisi Pantai di Ancol
ยทwaktu baca 3 menit

Pantai Ancol di Jakarta Utara menjadi salah satu lokasi favorit warga untuk menghabiskan waktu pada saat momen liburan, khususnya long weekend.
Kawasan yang terlihat ramai pengunjung terlihat di kawasan Pantai Timur. Pasir putih landai menjadi tempat anak-anak bermain. Ada pula yang sekadar jalan-jalan di kawasan pejalan kaki.
Irwan (29) bahkan sengaja memboyong istri, anak, dan adiknya ke Ancol sejak Minggu pagi. Dia sengaja membawa anaknya yang masih balita untuk mengenalkan suasana pantai.
"Semenjak punya anak belum pernah bawa ke Ancol. Pengin nyobain bawa anak biar tahu suasana pantai gimana. Pengin tahu dia lihat-lihat pohon yang banyak, kan buat stimulasi dan perkembangannya dia lebih bagus," papar Irwan, Minggu (3/5).
Kawasan Pantai Timur ini juga dilengkapi dengan beragam fasilitas, seperti ruang bilas dan kamar mandi yang memadai bagi pengunjung.
Namun, pemandangan berbeda terjadi di kawasan Pantai Barat. Tidak terlihat banyak pengunjung di sana.
Ical (34), salah seorang penjual aksesoris yang membuka lapak sejak pagi hingga malam di kawasan barat tersebut, mengeluhkan minimnya pembeli di momen libur tiga hari ini.
Menurutnya, pengunjung kini lebih memilih bergeser ke kawasan timur seperti Pantai Lagoon karena fasilitas dan kebersihannya yang lebih terjamin.
"Kalau untuk lonjakan ya malah kita menurun. Kalau di timur itu menambah. Karena dari faktor pemandangan tempatnya, di sini kan kalah sama batu-batu ini. Kalau pantai yang bagus dan banyak pasir ya di timur," ujar Ical saat ditemui di lokasinya berjualan.
Ketimpangan ini juga dirasakan oleh Pulung (40), penyedia jasa perahu wisata yang mengaku selalu bekerja penuh meski di hari libur nasional.
Demi meratanya pendapatan, ia dan rekan-rekannya sampai harus menerapkan sistem rotasi lokasi setiap minggunya agar semua bisa kebagian cipratan rezeki dari ramainya Pantai Timur.
"Kalau di timur mah alhamdulillah bisa dapat lima sampai enam tarikan. Kalau di sini nyari dua atau tiga tarikan tuh susah," ungkap Pulung yang sudah bersiaga sejak subuh mencari penumpang.
Ramlan (44), pelaku UMKM yang sudah merintis usaha di Ancol sejak tahun 2005, menyebut area Pantai Festival kini kondisinya makin memprihatinkan. Hal ini membuat banyak lapak mitra terpaksa tutup kelimpungan karena hilangnya daya tarik pengunjung.
"Penurunan banget. Karena Pantai Festival ini kan sudah enggak terawat. Pohon rubuh nggak ditebang, sampah enggak dipungut, banjir juga enggak cepat surut drainasenya, genangannya jadi lumpur bukan pasir lagi," beber Ramlan.
Mewakili rekan-rekan pedagang lainnya, Ramlan menitipkan pesan tajam agar pihak manajemen Ancol maupun pemerintah mau membuka mata dan turun tangan membenahi area tersebut.
Ia menilai harga tiket yang dipatok saat ini sangat tidak sepadan dengan realitas fasilitas di lapangan.
"Dulu tiket Rp 20.000 fasilitasnya ada ayunan, perosotan, pantainya bersih. Lah sekarang pengunjung masuk Rp 35.000 apa yang mau dilihat? Diharapkan untuk UMKM kayak gini diperhatikan. Ini kan sewa mahal dengan keadaan ekonomi seperti ini, tolong tempat wisata ini diperbaiki secepatnya," tegasnya.
